26.5 C
Jakarta

Taliban; Bukti Nyata Bahwa Khilafah Bertentangan dengan Islam

Artikel Trending

Milenial IslamTaliban; Bukti Nyata Bahwa Khilafah Bertentangan dengan Islam
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Taliban kembali bikin geger internasional. Keamiran Islam Afganistan secara resmi mengumumkan pelarangan perempuan untuk bekerja di LSM. Sebelumnya, rezim Taliban juga melarang perempuan untuk kuliah. Meskipun negara-negara internasional, termasuk negara Muslim, mengecam kebijakan tersebut, Taliban tetap bergeming. Islam pun disorot; benarkah agama tersebut mengekang perempuan seekstrem itu? Benarkah tindakan Taliban tersebut dibenarkan Islam?

Juru bicara Kementerian Ekonomi Taliban, Abdel Rahman Habib, menuding perempuan yang bekerja untuk lembaga bantuan asing melanggar aturan berpakaian dengan tidak mengenakan jilbab. Rezim kemudian merespons; mengancam membatalkan izin organisasi non-pemerintah manapun yang tidak mematuhi aturan tersebut. Namun, sejumlah organisasi bantuan telah bersuara menuntut agar perempuan dibolehkan untuk terus bekerja dengan mereka.

LSM Care International, Dewan Pengungsi Norwegia (NRC), dan Save the Children pun menanggapi bahwa mengatakan mereka tidak bisa melanjutkan pekerjaan mereka tanpa staf perempuan. Komite Penyelamat Internasional (IRC) juga menyudahi pelayanan mereka, dan Islamic Relief berkata harus menghentikan sebagian besar aktivitasnya. Peran perempuan dalam semua organisasi tersebut signifikan, sehingga kebijakan Taliban sama dengan mengebiri eksistensi organisasi itu sendiri.

Di jajaran pemerintahan, kecaman atas kebijakan Taliban untuk menekan perempuan juga masif. Kemenlu Saudi dan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu, mewakili Arab Saudi dan Turki, masuk daftar negara Muslim yang mengecam keras Taliban. Sebelumnya, Qatar yang dikenal sebagai penengah Taliban-AS, juga mengkritik tindakan Taliban. Di luar mereka, para Menlu dari kelompok negara G7 meliputi Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS juga bereaksi keras.

Kebijakan Taliban di Afghanistan memang kerap jadi sorotan. Rezim yang mengklaim diri sebagai khilafah Islam itu dianggap mendiskreditkan perempuan dan menutup peran mereka di ranah publik. Meskipun di awal-awal memerintah, juru bicara mereka berjanji akan memenuhi hak-hak perempuan, namun semuanya sekadar bualan saja. Ironisnya, karena Taliban mengatasnamakan Islam, yang buruk di masyarakat adalah Islam; Taliban membuatnya jadi sasaran kritik internasional.

Afghanistan dan Turki

Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban mengusung sistem keamiran. Ia sama dengan sejumlah negara di Arab, UEA misalnya. Karena mayoritas penduduknya Muslim, dan Taliban sendiri mengatasnamakan diri sebagai organisasi Islam, maka orang luar akan memandang seluruh yang Taliban lakukan sebagai tuntutan Islam. Maka tidak salah kemudian jika Taliban disinyalir memperparah islamofobia. Di luar faktor politik-ideologis, islamofobia lahir karena kecerobohan umat Islam sendiri.

Meski demikian, di Indonesia, Afghanistan sering kali dipuji. Sebagian orang punya anggapan, di bawah Taliban, Afghanistan lebih baik daripada selama dua dekade di bawah ketiak AS. Konsekuensinya, mereka mendambakan keamiran Islam diterapkan di Indonesia, dan menyebutnya sebagai khilafah yang akan menciptakan kesejahteraan nasional. Khilafah Afghanitan ala Taliban diidamkan, di samping Turki yang dielukan sebagai ujung tombak kemajuan Islam.

Sebagai contoh, Felix Siaw, seorang aktivis khilafah dari HTI. Dirinya rela jalan-jalan ke Hagia Sophia, mendokumentasikannya, dan menerangkan pada khalayak bahwa Turki adalah lambang kejayaan Islam. Dia selalu bicara soal Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel. Napak tilas kekhilafahan, menurutnya, harus melekat dalam diri umat Islam. Felix mengabaikan fakta bahwa Turki hari ini adalah negara sekuler, dan Indonesia jauh lebih islami ketimbang Turki.

Taliban di Afghanistan dan Erdogan di Turki kerap kali dijadikan pemompa spirit penegakan khilafah dan negara Islam. Jika Erdogan diabaikan sepak terjang politiknya yang populis-oportunis, Taliban diabaikan sepak terjang politiknya yang eksklusif-ideologis. Bahwa Taliban mendiskreditkan perempuan dan Erdogan memiliki hubungan mesra dengan zionis, yang keduanya jelas-jelas bertentangan dengan nilai Islam, tak ada yang peduli itu. Keduanya tetap didaulat sebagai simbol kejayaan Islam. Naif.

Atas nama nafsu khilafah, akal sehat dikesampingkan. Padahal jika melihat dengan kewarasan, Taliban cukup untuk jadi bukti bahwa sistem khilafah bukan hanya tidak efektif, tapi juga merugikan Islam. Bagaimana tidak, Taliban dengan kekhalifahannya merusak citra Islam di mata internasional. Khilafah mereka palsu, dan Indonesia tidak boleh menirunya. Islam memuliakan perempuan dan Taliban tidak. Bukankah itu penghinaan terhadap Islam itu sendiri

Khilafah Palsu

Keamiran atau kekhalifahan Taliban di Afghanistan adalah sistem pemerintahan yang buruk. Negara internasional memandangnya sebagai representasi Islam, dan Islam jelas dirugikan karenanya. Taliban bukan representasi Islam, maka tugas umat Islam adalah membuat narasi alternatif untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam tidak seperti yang ditampilkan Taliban. Dan lebih jauh, narasinya adalah bahwa khilafah bukan ajaran Islam dan justru merusak citra agama tersebut di mata global.

Argumen tentang kepalsuan khilafah sebenarnya sudah banyak. Tetapi aktivis khilafah terus memengaruhi umat bahwa kejayaan diraih hanya bila khilafah ditegakkan. Sekalipun para aktivis khilafah tidak punya contoh ideal tentang negara khilafah, mereka menjadikan negara-negara tertentu sebagai simbol. Turki dan Afghanistan misalnya, terus digadang sebagai bukti. Beberapa hari lalu bahkan beredar berita propaganda bahwa di bawah rezim Taliban, Afghanitan jadi negara maju.

Untungnya, kebijakan kontroversial Taliban tentang perempuan membuka semua fakta. Fakta bahwa Taliban tidak bisa dicontoh, juga fakta bahwa imej Islam hancur di tangan pemerintahan yang mengaku islami. Setiap narasi khilafah adalah khilafah palsu, dan setiap klaim islami dari mereka adalah kedustaan yang nyata. Indonesia jauh lebih islami daripada Afghanistan dan Turki, lalu mengapa negara ini harus diseret jadi seperti mereka? Biarkan saja mulut aktivis khilafah mengoceh sampai mulutnya berbusa.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru