27.6 C
Jakarta

Taliban Berkuasa di Afghanistan: Alasan Kenapa Nasionalisme Itu Penting

Artikel Trending

KhazanahTelaahTaliban Berkuasa di Afghanistan: Alasan Kenapa Nasionalisme Itu Penting
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.comDunia sedang menyoroti Taliban yang sudah berkuasa kembali di Afghanistan. Keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan dengan berbagai strategi militan dan apik yang dikerahkan. Tidak tanggung-tanggung, berbagai janji manis mereka berikan, khususnya kesempatan bagi perempuan untuk berkarir dan berpendidikan.

Nyatanya, janji manis tersebut belum selaras dengan implementasi yang dijalankan. Hal ini dalam sebuah video singkat yang dirangkum oleh CNN Indonesia, bahwa Taliban nyatanya merang perempuan untuk bekerja. Shabnam Dawram, seorang jurnalis mengaku dilarang bekerja oleh Taliban. Ketakutan yang sama juga terjadi kepada Khalida Popal, mantan kapten Timnas perempuan Afghanistan.  Taliban juga menangkap Salimah Mazary, seorang gubernur perempuan yang menentang Taliban.

Kekalutan yang terjadi di Afghanistan terus menuai rasa kasihan dan duka yang amat dalam terhadap saudara-saudara kita di sana. Kita justru bisa membayangkan bagaimana riuhnya kegentingan, ketakutan yang berlebihan serta berbagai ancaman yang mengintai mereka. Hidup dalam keadaan yang tidak tenang dan penuh dengan kekhawatiran yang bermacam-macam.

Belajar dari Afghanistan

Apa yang terjadi di Afghanistan salah satu faktornya adalah tipisnya sikap nasionalis terhadap negaranya sendiri. Seperti diuraikan oleh Alto Tuger, dalam tulisannya ia menjelaskan bahwa sikap kepemilikan kepada suku menjadi utama dibandingkan dengan membela negaranya.

Bagi rakyat Afghanistan, kehormatan suku lebih besar jika dibandingkan dengan kehormatan negara. Taliban tidak perlu untuk mengeluarkan amunisi, sama seperti ISIS tidak membutuhkan penggunaan senjata yang luar biasa saat menguasai Mosul karena para aparat militer negara secara sadar meninggalkan seragam mereka sebagai aparat negara, dan kembali ke suku dan klan mereka.

Jika kita kita analisa, tentu sikap semacam ini pasti dimiliki oleh setiap bangsa Indonesia. Akan tetapi, sikap cinta terhadap negara nyatanya lebih besar dibandingkan dengan apapun. Sikap berani paling depan ketika ada ancaman terhadap NKRI masih tetap menjadi upaya priorioritas sebagai jati diri bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi rasa cinta terhadap negara Indonesia.

Di Indonesia, Bela negara masih menjadi semboyan yang terus mengakar dalam setiap aspek kehidupan, baik di kampus, dalam setiap institusi pendidikan yang diberikan kepada anak didik, hingga menjalankan profesi dan pekerjaan yang dipilihnya. Posisi Indonesia sebagai tanah air, tempat kehidupan yang sudah diperjuangkan oleh para founding fathers tidak akan hilang dari bangsa Indonesia.

BACA JUGA  Muhammad Kace, Akankah Penceramah Sejenis Juga Menyusul?
Nasionalisme Menjadi Fondasi Bangsa Indonesia

Kasus Taliban memang sangat jauh dengan konflik di Indonesia. Meskipun demikian, kasus ini menjadi kacamata kita bersama bahwa sikap nasionalis harus ada pada setiap bangsa Indonesia. Sehingga ancaman dan tantangan apapun yang berpotensi merusak keutuhan NKRI perlu dilawan bersama. Kebijakan penerapan hukum Islam di Afghanistan kiranya bisa kita lihat betapa masifnya persoalan semacam ini di Indonesia.

Ibarat sebuah barang, kepemilikan yang tinggi terhadap sebuah barang berbanding lurus dengan usaha mempertahankan barang yang dimiliki tersebut agar tidak diambil orang lain, bahkan berkorban nyawapun dikerahkan agar orang lain tidak bisa mencuri barang yang kita miliki.

Dalam konteks Indonesia, jika melihat para pejuang khilafah di Indonesia dan membandingkan dengan kasus Taliban. Menjadi sangat mengerikan ketika pemberontak negara mengambil alih kekuasaan dengan dalil hukum Islam yang diterapkan.

Ini pelajaran penting terhadap bangsa Indonesia, untuk terus gencar mengusir dan melawan orang-orang yang mencoba menghancurkan NKRI bahkan jelas-jelas ingin mengubah sistem negara Indonesia. kelompok-kelompok pemberontak di Indonesia dengan sangat jelas menolak Pancasila, menolak berbagai keniscayaan kerjasama dengan negara-negara kapitalis, dll.

Nasionalisme perlu diajarkan sejak dini kepada anak. Hal ini sebagai upaya untuk membangun kesadaran bahwa negara Indonesia yang kita cintai ini mutlak milik kita bersama, tidak bisa dihancurkan oleh siapapun, kelompok manapun dan berasal dari manapun.

Kiranya persoalan Taliban di Afghanistan ini menjadi sebuah pesan bagi generasi Indonesia bahwa segala ancaman dan tantangan dalam sebuah negara dan kelompok-kelompok yang ingin menguasai, mengambil alih pemerintah yang sah pasti banyak. Akan tetapi, upaya-upaya masif dan sikap kepemilikan yang kuat terhadap negara Indonesia bisa menjadi salah satu harta tertinggi bangsa, yang akhirnya memperkokoh negara Indonesia sebagai negara republik yang plural dan sangat kompleks. Wallahu a’lam

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru