25.3 C
Jakarta

Tahun Baru dan Tantangan Pengaruh Radikalisme

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanTahun Baru dan Tantangan Pengaruh Radikalisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Kita sekarang memasuki tahun baru 2022. Pergantian tahun berlangsung secara terus-menerus saban tahun. Itu hukum alam. Pertanyaannya, prestasi apa yang telah kita gapai sebagai warga negara selama tahun yang lalu? Dan, rencana apa lagi yang bakal dilakukan dalam menyongsong perkembangan negara?

Selama beberapa tahun yang lalu Indonesia mampu memberantas kelompok radikal–jika meminjam istilah Gus Dur, kelompok separatis–yang telah mengganggu ketenteraman negara kesatuan ini. Mereka telah mengusik perbedaan yang ada, mulai perbedaan pemikiran hingga perbedaan agama.

Diberantasnya kelompok radikal bukan lantas dipahami bahwa kelompok berbahaya ini sudah punah atau tidak tersisa. Secara legal-formal organisasi kelompok radikal ini yang hanya dicabut, sehingga mereka tidak punya rumah yang sah untuk tinggal dan hidup. Namun, secara ideologis kelompok ini masih tetap hidup, meski organisasinya sudah dibubarkan.

Buktinya, banyak kelompok radikal yang tetap gencar menyebarkan paham menyesatkannya di media sosial. Sehingga, tidak sedikit orang yang terpapar akan pahamnya. Hal ini diperlihatkan dengan masifnya ujaran kebencian yang dilayangkan ke dalam tubuh kepemerintahan. Bahkan, mereka juga gemar mengkafirkan saudaranya sendiri, baik seiman maupun tidak. Pokoknya, mereka merasa paling benar dan paling berhak memegang kunci surga.

Kelompok radikal tidak pernah berpikir bahwa perbedaan adalah rahmat bagi semua orang. Sementara, di Indonesia sendiri terbentang luas perbedaan. Tidak mungkin menutup perbedaan yang ada di Indonesia. Apalagi semboyan negara Ibu Pertiwi ini berbunyi: “Bhinneka Tunggal Ika. Yang artinya, berbeda-beda tetapi tetap satu juga.”

BACA JUGA  MUI Menjadi Lumbung Terorisme, Masihkah Dipertahankan?

Prestasi yang dicapai dengan keberhasilan pembubaran organisasi kelompok radikal itu masih belum seberapa. Indonesia masih harus banyak berjuang menutup paham radikal tumbuh dan berkembang di negara ini. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengentaskan paham radikal, di antaranya, pertama memfilter ustadz di Indonesia. Karena, ustadz memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk mindset jamaahnya.

Pemerintah hendaknya memberikan daftar yang jelas ustadz-ustadz yang layak dijadikan panutan masyarakat. Tentunya, ustadz yang dimaksud di sini berpemikiran moderat. Ustadz yang moderat akan selalu mengedepankan persatuan di tengah perbedaan. Mereka juga meletakkan nilai-nilai kemanusiaan di atas kepentingan politik.

Kedua, melakukan kontra-radikalisme. Kontra-radikalisme bisa dilakukan melalui tulisan atau seminar moderasi dan kebangsaan. Penting melakukan kontra-radikalisme dari dua sisi ini disebabkan penyebaran paham radikal yang sangat masif dari dua sisi tersebut, apalagi sekarang zaman teknologi.

Sebagai penutup, pergantian tahun baru hendaknya dijadikan penanda bahwa Indonesia telah dan akan melakukan apa. Prestasi apa yang telah digapai. Terus, rencana apa yang perlu dilakukan. Radikalisme adalah pe-er yang masih perlu diselesaikan.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru