28.3 C
Jakarta

Tahassus (Pengumpulan Informasi) di Masa Nabi Ya’qub

Artikel Trending

Metode pengumpulan informasi ala intelijen di dunia modern boleh dikatakan terinspirasi dari bahasa al-Quran ketika al-Quran menceritakan kisah Nabi Yaqub putra Nabi Ishaq putra Nabi Ibrahim dari ibu Rifqah binti A’zar yang  kehidupannya dinarasikan al-Quran di Surah Maryam, Surah Hud, Surah al-Anbiya, Surah Shad, Surah al-Ankabut dan Surah as-Shoffat. Dalam bahasa al-Quran proses pengumpulan atau pencarian informasi (pulbaket) ini biasa dibahasakan oleh Allah dengan bahasa tahassus.

Praktik tahassus (pulbaket) dinarasikan oleh Allah dalam firmanNya ketika Allah swt menceritakan mengenai Nabi Ya’qub yang kehilangan anak kesayangannya yang dijuluki oleh nabi Muhammad; al-Kariem, ibnu al-Kariem, ibnu al-Kariem, ibnu al-Kariem (yang mulia, keturunan yang mulia, keturunan yang mulia, keturunan yang mulia) : Yusuf anak Nabi Ya’qub anak Nabi Ishaq anak Nabi Ibrahim: “Hai anak-anakku, pergilah kalian, maka carilah berita (tahassus) tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangalanlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir.” (Qs. Yusuf: 87).

Dalam menafsiri ayat 87 surat Yusuf ini, Ibnu Jarir ath-Thabari (839-923 M), seorang sejarawan sekaligus mufassir, dalam kitab Tafsir ath-Thabari, mengutip pendapat Abu Ja’far. Ia menjelaskan bahwa ayat ini berkenaan dengan kondisi psikologis Nabi Ya’qub ketika sangat rindu pada putranya Yusuf dan saudara kandungnya, Benyamin.

Menurut Abu Ja’far, Nabi Yaqub memerintahkan agar anak-anaknya mencari kembali informasi (tahassus) mengenai Yusuf maupun Benyamin ke tempat-tempat dimana mereka tinggalkan. Mereka diminta mencari Yusuf  ke tempat dulu pernah bermain kejar-kejaran dan petak umpet, lalu Yusuf dikabarkan diterkam serigala. Sementara Benyamin diminta dicari ke Mesir, saat ditinggalkan karena strategi Yusuf yang sudah jadi penguasa.

Sementara kutipan Imam ath-Thabari terhadap pendapat Ibnu Ishaq memberikan catatan tambahan. Ketika Yaqub begitu rindu berat kepada Yusuf dan Benjamin, saudara-saudara yang lain diperintahkan untuk mencari keduanya ke berbagai negeri yang pernah mereka singgahi (al-bilad allati minha ji’tum).

Hal lain yang tak kalah menarik, Yaqub tidak saja menyuruh melakukan pencarian dan pengumpulan informasi tentang Yusuf dan Benjamin. Tetapi, juga menjelaskan metodologi pencarian tersebut. Diksi pilihan al-Quran yang memakai kata al-tahassus, dari akar kata tahassasa-yatahasasu-tahassusan. Metode tahassus diperkenalkan al-Quran sebagai metode Pulbaket dalam dunia intelijen modern.

Dalam rangka menafsiri kata tahassus ayat 87 surat Yusuf di atas, Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar al-Anshari al-Qurthubi (1214-1273 M) mendefinisikan pengertian Tahassus. Menurut mufassir terkenal kelahiran Spanyol ini, tahassus adalah thalabus syai bil hawas, mencari sesuatu menggunakan panca indera.

Menurut al-Qurthubi, Nabi Yaqub meminta anak-anaknya agar pergi menemui orang yang sebelumnya telah menahan Benyamin, kemudian Nabi Ya’qub meminta anak-anaknya untuk menanyakan tentang mazhab orang tersebut atau dalam dunia intelijen biasa disebut melakukan elisitasi. Inilah yang disebut tahassus atau tafa’ul minal hiss, yaitu memastikan akurasi informasi, mengkonfirmasi ideologi atau mazhab yang dianut oleh target atau sasaran dengan jelas.

Islam telah mengajarkan tentang satu konsep mencari informasi, mengumpulkan bahan keterangan, dengan sangat akurat tanpa ada kemelesetan. Namun begitu, Islam tidak hanya mengajarkan metodologi Pulbaket melainkan sekaligus aksiologinya. Bukan hanya caranya bagaimana, tetapi tujuannya untuk apa.

BACA JUGA  Kritik Atas Penolakan Muslimah Hizbut Tahrir Terhadap Kesetaraan Gender

Dalam menafsirkan kata tahassus ayat 87 surat Yusuf di atas, Imam Ismail bin Umar al-Quraisyi bin Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi (1301-1372 M), dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, membedakan antara tahassus dan tajassus. At-Tahassus yakunu fil khoir wa al-Tajassus yusta’malu fis syarr. Tahassus itu untuk tujuan kebaikan sementara Tajassus digunakan untuk keburukan.

Dalam rangka tujuan kebaikan itulah, menurut Ibnu Katsir, Nabi Yaqub memberikan semangat (tanhidh) kepada anak-anaknya untuk mengumpulkan informasi dan keterangan tentang Yusuf dan Benyamin yang hilang, disertai memberikan kabar gembiran (tabsyir) bahwa mereka akan berhasil dalam tahassus kali ini.

BACA JUGA  Revolusi Akhlak Butuh Wali Mursyid Bukan Imam Besar

Konsep tahassus dalam Islam sangat penting dipahami dan dijalankan oleh umat muslim. Dengan catatan, jangan sampai terjatuh ke dalam tajassus. Umat yang kritis tidak akan mudah terpengaruh oleh berita dusta (hoaks), karena sebelumnya sudah dibekali prinsip untuk mengumpulkan bahan keterangan secara akurat, cepat dan tepat (tahassus).

Dengan menerapkan konsep ini (tahassus) dalam kehidupan sehari-hari kita tidak akan mudab terpecah belah dan terprovokasi oleh serangan siber yang salah satunya adalah dengan menyebarkan hoaks. Tahassus pada level tertentu bahkan mampu memperkokoh bangunan sosial dan kebangsaan kita, memperkokoh persaudaraan kemanusiaan kita (ukhwah insaniyah), memperkuat ukhwah wathoniyah (persaudraan sebangsa) dan ukhwah Islamiyah kita (persaudaraan seakidah). Karena, keamanan sebuah negara akan semakin kuat apabila ditopang oleh rakyatnya secara umum atau yang biasa kita kenal dengan istilah Sistem Pertahanan Keamanan Rayat Semesta (Sishankamrata) dan khususnya umat muslim secara khusus, berbekal konsep tahassus dalam al-Quran ini.

Sebaliknya, bila pemerintah dan seluruh elemen masyarakat tidak bahu-membahu untuk menguatkan unsur tahassus dalam bernegara, ketahanan keamanan (security ressilliance) negara akan rapuh dan rentan terancam, sehingga memudahkan intelijen asing beroperasi sambil memerankan diri sebagai mutajassis, yakni pihak yang melakukan tajassus (spionase). Dimana informasi yang mereka kumpulkan dipakai untuk melemahkan, menguasai bahkan pada level tertentu menghancurkan bangsa kita; mereka membenturkan masyarakat dengan negaranya, memecah belah sesama umat Islam dan memupuk konflik horisontal di tengah masyarakat.

Di level inilah, umat muslim pada khususnya diperintahkan oleh Allah mengoptimalkan ajaran al-Quran tentang urgensi tahassus. Dengan begitu, polemik kebangsaan, kenegaraan dan keagamaan di antara sesama putra bangsa bisa diminimalisir dan dihindari sehingga konsep tahassus yang diajarkan oleh Nabi Ya’qub mampu membawa keharmonisan, perdamaian, kerukunan dan kemajuan bersama untuk bangsa dan negara. Jika tahassus yang kita lakukan diniatkan untuk tujuan-tujuan positif, maka insya Allah akan membuahkan hasil yang baik dan memberikan keberkahan pada negeri kita sehingga kita optimis mampu menjadikan pertiwi ini negeri yang dipenuhi kebaikan, kesejahteraan dan diberkahi olehNya, “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir,” (Qs. Yusuf: 87). Shadaqallahul azhim.

Mujahidin Nur, Mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Kajian Strategis & Global, UI. Pengurus MUI Pusat Komisi INFOKOM. Direktur The Islah Centre, Jakarta

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru