Tafsir Lokal dan Tafsir Ekstremis Thaifur Ali Wafa


Thaifur Ali Wafa
Thaifur Ali Wafa

Tafsir berbeda dengan Al-Qur’an. Tafsir produk manusia, Al-Qur’an produk Tuhan. Tafsir belum final, Al-Qur’an permanen. Tafsir itu banyak, Al-Qur’an itu satu. Dan seterusnya.

Tafsir dan Al-Qur’an memang tidak sama. Menyamakan tafsir dengan Al-Qur’an secara tidak langsung menutup pintu ijtihad. Padahal, pintu ijtihad terbuka lebar bagi siapa yang bermaksud membuka dan masuk di dalamnya. Tafsir itu hanyalah persepsi yang kebenarannya belum pasti. Berbeda, Al-Qur’an adalah kebenaran absolut yang tak terbantahkan.

Kesadaran ulama atas perbedaan tafsir dan Al-Qur’an mencambuk semangat ulama lokal Madura Kyai Thaifur Ali Wafa menulis tafsir Firdaus al-Naim. Sebagai tafsir lokal, sedikit banyak produk tafsir ini dipengaruhi isu-isu lokal di Madura.

Isu lokal di Madura terlihat atas sikap orang Madura yang berbuat kekerasan atas nama agama. Pada berita yang dilansir di website Tempo disebutkan: “Konflik Sunni-Syiah di Sampang, Madura, telah terjadi sejak 2004. Konflik ini berujung pada tindak kekerasan yang terus berulang. Dan terakhir pada Ahad, 26 Agustus 2012, terjadi pembakaran 37 rumah pengikut Syiah, pelemparan batu, dan perkelahian hingga mengakibatkan satu korban tewas dan belasan luka-luka.”

Madura menganut ideologi Sunni Fanatik. Kehadiran Syiah yang jelas berbeda dengan Sunni mengganggu orang Madura, sehingga mereka cenderung menyesatkan dan mengkafirkan penganut Syiah. Karena itu, kehadiran Syiah menjadi benalu yang dapat mematikan perkembangan Sunni di Madura. Padahal, Syiah juga termasuk bagian dari Islam. Keduanya, Sunni dan Syiah, berbeda sebatas kemasan. Kemasan itu hanyalah kreativitas, sehingga masing-masing kemasan akan menghidangkan cita rasa yang berbeda. Perbedaan cita rasa akan menjadi negatif saat dicicipi oleh orang yang sakit, karena kenikmatan pancaindranya sedang terganggu.

Sebagai ulama lokal, Thaifur menghadirkan penafsiran yang cenderung ekstrem begitu memahami ayat-ayat jihad. Salah satunya, saat menafsirkan firman Allah dalam Qs. al-Baqarah/2: 218, yang berbunyi: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut menguraikan bahwa orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah akan mendapat rahmat-Nya. Menyangkut jihad Thaifur lebih melihatnya sebagai peperangan terhadap musuh Allah. Siapakah musuh Allah? Mereka adalah orang musyrik dan orang kafir. Memerangi orang kafir termasuk jihad mikro. Sedang, jihad makro adalah memerangi hawa nafsu, karena hawa nafsu ada dalam diri manusia.

Baca Juga:  Jangan Impor Konflik Suriah

Menafsirkan jihad sebatas memerangi orang kafir dapat dikategorikan sebagai tafsir ektremis. Karena, jihad sebenarnya tidak hanya terbatas pada persoalan perang. Sesuai artinya “berusaha dengan sungguh-sungguh” jihad mencakup beragam aspek. Jihad disesuaikan dengan potensi masing-masing orang. Bagi seorang penulis, jihadnya menulis. Bagi seorang pembisnis, jihadnya berbisnis. Bagi seorang pendidik, jihadnya mengajar dan mendidik. Bagi mahasiswa, jihadnya kuliah dan belajar dengan tuntas dan serius. Dan seterusnya.

Membatasi jihad dengan peperangan akan berimplikasi negatif, karena cenderung menggiring narasi untuk bertindak ekstrem. Gaya tafsir Thaifur ini tidak jauh berbeda dengan gaya tafsir kelompok Front Pembela Islam (FPI) yang sedikit-sedikit mengampanyekan perang. Penafsiran Thaifur yang cenderung ekstrimis tentunya dipengaruhi oleh budaya masyarakat Madura yang fanatik terhadap ideologi Sunni Nahdlatul Ulama (NU). Andai saja Thaifur hidup di kota Jakarta yang budayanya moderasi bisa jadi produk tafsirnya akan terkesan moderat melihat objek jihad.

Demikian produk penafsiran Thaifur yang terkesan ekstremis. Sebagai tafsir, kebenarannya masih subjektif dan relatif. Karenanya, diharapkan lahirnya tafsir baru yang lebih up to date dan mencerahkan.[] Shallallah ala Muhammad.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Khalilullah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti Pendidikan Kader Mufasir (PKM) Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) Jakarta