Syi’ah dan Politisasi Tafsir Qs. Almaidah Ayat 67

0

Selain kelompok yang membelot dari barisan Ali bin Abi Thalib (khawarij), ada kelompok yang justru memiliki loyalitas luar biasa terhadap kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Kelompok ini disebut sebagai Syi’ah.

Menurut Syi’ah, khalifah yang syah setelah meninggalnya Rasulullah, adalah Ali bin Abi Thalib. Pendapat ini didasarkan pada ayat dan hadis. Bahwa Ali adalah pewaris sah kepemimpinan pasca Rasulullah wafat. Dalil yang digunakan Syi’ah dalam kaitannya dengan hal ini adalah  Surat Al-Maidah ayat 67.

Ayat ini adalah klaim yang sering diulang oleh Syiah. Menurut mereka bahwa ayat ke-67 surat Al-Maidah ini diturunkan sebelum Khutbah Al-Wada’ dan memiliki kaitannya dengan penunjukkan Ali ra. sebagai khalifah.

Hal ini juga dikatakan oleh Thabathaba’i dalam Tafsir Al-Mizan, Thabathaba’i , 1991:149-153), menegaskan bahwa ayat ini menyangkut persoalan kedudukan Nabi Muhammas saw. Sebagai wali dan pengganti beliau dalam urusan agama dan dunia. Namun, pendapat Thabathaba’i ini menimbulkan tanda Tanya besar manakala melihat ayat sesudahnya bahwa apa dan dimana letak hubungan antara yang disampaikan itu dan kecaman terhadap Ahl Al-Kitab. Jawabannya, Thaba’i menganggap bahwa ayat ini berdiri sendiri. Maka, lanjut Thaba’i, dalam ayat ini Nabi Muhammad disebut dengan sebutan “Rasul” karena gelar itulah yang paling sesuai dengan kandungan ayat apa yang harus disampaikan ini.

Yang disamapikan itu adalah sebuah hadis pembaiatan Nabi Muhammad terhadap Imam Ali, ketika di Ghadir Khum, yang menurut mereka sebagai amanah kepemimpinan yang diwariskan nabi kepada Ali.

Ketika Rasulullah tiba di suatu tempat bernama Ghadir Khum pasukan dalam keadaan kacau, sedangkan terdengar suara:

الصلا ة جامعة

Kemudian saat ini Rasulullah sedang berada di tas tunggangannya sambil berkata:

من كنت موله فعلي موله اللهم ول من واله وعاد من عاداه وانصر من نصره واخدل من خدله . وأدر الحق معه حيث دار ألا هل بلغت ؟ (3).

Barangsiapa yang aku menjadi taunnya, maka Ali adalah tuannya. Ya Allah, jadikan tuan orang yang dijadikannya tuan, musuhilah orang yang memusuhinya, hinakan orang yang menghinakannnya, perkenalkan kebenaran bagi orang yang mengenalnya. Apakah aku telah menyampaikannya? ((At-Tirmidzi No. 4077).

Jumhur ulama menegaskan bahwa ayat ini diturunkan kepada Ahlul kitab. Hal ini juga tercermin bawa Almaidah ayat 67 ini berkorelasi dengan ayat selanjutnya (Almaidah 68) yang secara implisit membicarakan tentang Ahlul Kitab.

Politisi Hadis Ghadir Khum

Sementara itu, terkait Hadis Ghadir Khum, Rasyid Ridha menjelaskan bahwa memang hadis tersebut ada, akan tetapi, menurut Ridha, hadis wilayah tersebut bukan bermakna imamah atau Khilafah, melainkan mempunyai makna penolong dan yang mencintai, sebagaimana yang Allah katakana tentang orang-orang mukmin dan kafir “Sebagian mereka adalah penolong bagi yang lainnya.

Lebih jauh nan tegas lagi, Ridha, mengatakan bahwa tidak ada keterkaitan masalah wasiat khilafah dalam ayat ini dengan perkara Ahli Kitab (ayat sebelum dan sesudahnya) karena ini tidak sesuai dengan balaghah Alquran. Seandainya saja meninggalkan ayat ini dengan ayat sesudahnya, lalu ayat ini berdiri sendiri, dan kalimat “وان لم تفعل” yang menjadi jumlah syarat setelah kalimat perintah “بلغ”, kalimat tentang ‘ishmah dan kalimat tentang peniadaan hidayah kepada orang-orang kafir, maka tetap saja tidak sesuai dan tidak dapat diterima maksud dari tugas penyampaian kepada manusia tersebut tentang kekuasaan Ali, karena seharusnya makna yang terkandung dalam ayat ini sesuai dengan dzatnya secara jelas, bukan karena sebatas taklid (Ridha, 458).

Sebenarnya, kalangan Syi’ah juga “pandai” memalsukan hadis. Misalnya,

وَعَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ حُبُّ عَلِيٍّ يَأْكُلُ الذُّنُوبَ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Dari ibnu Abbas radhiallaahu anhu, Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda: “Mencintai ‘Ali akan memakan (menghapuskan) dosa-dosa sebagaimana api melahap kayu bakar.”

Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib dari Ibnu ‘Abbas dengan marfu’. Hadis ini bathil. (Lihat: al-Qadhi Abu ‘Abdillah Muhammad ibn ‘Ali al-Syaukani , (Beirut: Dar Al-Kutub al-Ilmiah, 1995), No. 58, Hlm. 367).

Untuk melihat kapan pastinya tafsir Syi’ah muncul di dunia Islam, perlu kiranya diperhatikan faktor yang menyebabkan timbulnya tafsir di kalangan ini. Dalam bahasa Ignaz Goldziher, kita harus mempertanyakan apa tujuan yang ingin dicapai oleh penganut sekte Syi’ah dengan memasukkan kepentingan sekte keagamaan serta prinsip-prinsip dasar mereka ke dalam penafsiran al-Qur’an? Selanjutnya Goldziher menyebutkan bahwa sebenarnya mereka mencari justifikasi dari al-Qur’an untuk melakukan penolakan terhadap kepemimpinan Ahlu Sunnah, dengan melakukan rongrongan atas kekhalifahan di bawah kekuasaan Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiyah, kemudian melontarkan gagasan kesucian atas diri sahabat Ali serta para imam. (Lihat: Ignaz Goldziher, Mazhab ,,,,, Hlm. 30.)

Dari sini penulis melihat, sebenarnya upaya penafsiran (baca: pencarian justifikasi) Alquran sudah dilakukan sejak zaman Ali. Dan momentumnya terjadi pada zaman Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiyyah. Pada masa tersebut golongan Syi’ah mendapat tekanan begitu besar dari penguasa waktu itu. Sehingga penafsiran mereka pun lebih banyak pada upaya-upaya apologetik dari kekuasaan dan pengaruh penguasa. Dimana, perseturuan antara golongan Syi’ah dengan pihak penguasa sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh permasalahan teologis dan politik.

Tak ayal, Abu Hasan Ali Al-Hasani mengatakan bahwa saking “fanatik” terhadap Ali, Syi’ah memberikan sifat-sifat Allah kepada para Imam mereka. Lihat: Abu Hasan Ali Al-Hasani, Dua Wajah Saling Menentang: Antara Ahlu Sunnah dan Syi’ah, Terj. Bey Arifin, (Surabaya: Bina Ilmu, 1988), Hlm. 73).

Sebagai perbandingan, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah mengemukakan bahwa ayat diatas turun berkenaan dengan janji dari Allah untuk Nabi Muhammad bahwa neliau akan dipelihara Allah dari ganguan dan tipu daya orang-orang Yahudi dan Nasrani. Pandangan senada juga diungkapkan oleh Thair Ibnu Asyur bahwa ayat ini mengingatkan Rasul agar menyampaikan agama kepada Ahl Al-Kitab tanpa menghiraukan kritik dan ancaman mereka, apalagi terguran yang dikandung oleh ayat-ayat lalu yang harus disampaikan Nabi Muhammad saw. Itu merupakan teguran keras. (Lihat: Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Alquran Jilid 3, (Jakarta: Lentera Hati, 2012), cet. V, Hlm. 184). [n].