26.4 C
Jakarta

Sumpah Pemuda dan Tantangan Kekinian

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Sumpah pemuda merupakan salah satu aset berharga bangsa Indonesia. Sumpah pemuda melahirkan semangat nasionalisme untuk memerdekakan Hindia-Belanda dari tangan kolonial. Dari sini pula sekat-sekat antar suku, etnis, dan agama dileburkan menjadi semangat persatuan dan kesatuan tanah air Indonesia.

Mereka yang dulu turut serta dalam pengambilan sumpah ini masih konsisten dengan arah perjuangannya yaitu untuk memerdekakan Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Muh. Yamin, Soegondo Djojopoespito, J. Leimena, Soenario, Djoko Marsaid, Amir Syarifuddin Harahap, W.R. Supratman, S. Mangoensarkoro, Kartosoewirjo, Kasman Singodimedjo, M. Roem, A.K. Gani, dan Sie Kong Liong.

Dari nama-nama di atas nama Soekarno dan Hatta tidak tercantum. Pasalnya pada saat itu Soekarno baru membentuk PNI, oleh karenanya beliau disibukkan dengan kegiatan kampanye. Selain itu juga umur Soekarno sudah menginjak 27-28 tahun sehingga bisa dibilang tidak muda lagi. Sementara Hatta masih berada di Belanda untuk menuntut ilmu. Namun kedua tokoh ini bukan berarti tidak memperhatikan gerakan kalangan muda. Kedua tokoh ini turut memperhatikan dengan cara melebarkan sayap konsolidasi sehingga nantinya akan terbentuk kekuatan yang besar jika waktunya telah tiba. Praksis sekitar 17 tahun setelah Sumpah Pemuda itu diambil kemerdekaan dapat diraih.

Usaha dan perjuangan mereka tidak sia-sia dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Apa yang dicita-citakan memang terbukti kebenarannya. Indonesia merdeka dari tangan penjajah; persatuan tanah air dari Sabang sampai Merauke; bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. ini semua adalah cita-cita yang didapat berkat usaha dan kerja keras para pemuda.

Apakah saat ini masih ada pemuda yang memegang prinsip dan nilai dari Sumpah Pemuda?. Jawaban singkatnya ‘Iya’ dan ‘Tidak’. Memang masih ada pemuda yang memang prinsip kesatuan dan persatuan Indonesia. Namun juga tidak semua demikian. Ada dua persoalan yang menyebabkan pemuda tidak lagi melihat pentingnya nilai tersebut. Pertama yaitu pemuda yang terpapar paham intoleran, radikalis, maupun teroris; Kedua, pemuda terjebak dalam budaya konsumerisme.

Nilai persatuan dan persaudaraan terasa absen apabila melihat banyak kaum muda yang bersikap intoleran atas perbedaan pandangan keagamaan. Mereka lupa bahwa selama ini negara yang mereka tinggali berkat jerih payah pemuda waktu itu dengan meleburkan unsur SARA. Apa yang mereka lakukan sama sekali tidak mencerminkan rasa persatuan dari keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia.

Persoalan kedua yaitu budaya konsumerisme. Budaya konseumerisme diproduksi oleh dan melalui sistem kapitalisme. Ini merupakan konsekuensi dari dunia modern dan globalisasi. Saat ini anak-anak muda banyak yang terpengaruh oleh sistem tanda yang diproduksi dari sistem kapitalisme. Di kafe atau warung kopi berjejer-jejer anak muda yang main game, scrolling sosmed, dan buka marketplace. Memang tidak semua pemuda demikian, akan tetapi apabila hal ini terjadi berlarut-larut maka mereka yang dulu pernah mengetahui tentang sumpah pemuda akan lupa sama sekali.

Rekonstruksi Pengajaran Sumpah Pemuda

Maka dari itu langkah yang tepat untuk mendidik kalangan muda agar tidak terjebak pada dua persoalan di atas adalah pertama-tama dengan merekonstruksi pengajaran tentang sumpah pemuda. Guru-guru PPKN dan semacamnya seharusnya mengetahui tantangan yang dihadapi oleh pemuda saat ini. Pembacaan atas realitas itu diperlukan agar materi yang disampaikan tidak melulu soal hafalan.

Harus diakui bahwa sistem pengajaran Indonesia mengenai sejarah masih didominasi oleh hafalan. Misalnya Indonesia merdeka tahun berapa; apa saja kelima sila dalam Pancasila; perjanjian-perjanjian; tahun berapakah sumpah pemuda; apa saja isinya. Apabila hanya demikian yang diajarkan maka jangan diharapkan mereka mampu untuk menginternalisasikan nilai yang terkandung dalam sumpah pemuda.

Oleh karena itu, guru maupun pengajar lainnya seharusnya mampu mengajak untuk berpikir kritis atas realitas saat ini. Materi yang diajarkan tidak lagi menghafal melainkan mengajak mereka berfikir tentang pentingnya jiwa nasionalisme dan semangat persatuan dalam sumpah Pemuda di tengah himpitan gerakan radikalisme, intoleransi, dan terorisme maupun sistem kapitalisme global. Sebagai bahan pengajaran penting untuk meletakkan musuh untuk memudahkan kita, kalangan muda memahami pentingnya semangat persatuan yang harus dimiliki oleh pemuda.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Hayya ‘Alal Jihad, Mari Berjihad Berantas FPI!

Boleh jadi, setelah membaca tulisan ini, atau sekadar membaca judulnya saja, Hayya ‘Alal Jihad, sementara orang akan berkomentar: “Bocah kemarin sore kok mau bubarkan...

Israel Musnahkan Tangga Bersejarah Masjid Al-Aqsa

Harakatuna.com. Yerusalem - Pemerintah Kota Yerusalem Israel menghancurkan tangga bersejarah yang mengarah ke Bab Al-Asbat, Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem. Penghancuran tangga bersejarah ini...

Benarkah Ulama Itu Harus Jadi Oposan Pemerintah?

Saya pikir, hari ini kita sedang berada dalam kegamangan berbagai masalah kenegaraan yang tidak kunjung usai. Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru sudah terpilih,...

Video Hayya Ala Al-Jihad Bagian dari Penyalahgunaan Agama

Harakatuna.com. Jakarta – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi menyebut seruan jihad yang dilantunkan seorang muazin saat melantukan azan Hayya Alal Jihad dalam video...

Hukum Menambah Kalimat Adzan “Hayya Ala Al-Jihad“, Bolehkah?

Dunia media media sosial kembali dihebohkan dengan penambahan lafal adzan “Hayya ala Al-Jihad” oleh simpatisan ormas Islam di Petamburan, Jakarta. Tentu penambahan adzan ini...

GP Ansor DIY Tolak Radikalisme dan Intoleransi

Harakatuna.com. Sleman - Barisan Ansor Serba Guna (Banser) dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor DIY berkomitmen untuk menjaga ketentraman dan kondusivitas keamanan dan ketertiban masyarakat...

Mengapa Teroris MIT Berulah Kembali?

Kini, masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi Tengah sedang berduka. Pasalnya, kehidupan seseorang (hak asasi) di sana dengan mudahnya direnggut oleh sekelompok teroris. Kelompok teroris...