26.7 C
Jakarta

Sulitnya Menembus Penerbit Mayor, Ada Rahasianya Enggak Sih?

Artikel Trending

KhazanahLiterasiSulitnya Menembus Penerbit Mayor, Ada Rahasianya Enggak Sih?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sebuah impian yang membanggakan bila buku-buku kita bisa nangkring cantik di Gramedia, Togamas, dan lain sebagainya. Akan tetapi, seperti yang diketahui bersama, untuk mendobrak pintu penerbit mayor terbilang tidak mudah. Harus melewati serangkaian seleksi yang memakan waktu cukup lama.

Belum lagi bila selama masa tunggu ternyata naskah kita ditolak. Wah, bisa nangis bombai kalau tidak siap mental. Hehe. Seperti pengalaman saya dahulu ketika pertama kali mengirim naskah buku dan ditolak penerbit. Rasanya lemas dan merutuki diri.

“Perasaan, tulisan saya sudah bagus. Temanya oke. Kok ditolak, kenapa ya?”

Perasaan dan pertanyaan tersebut terus mengusik ingatan. Lalu, kembali membaca tulisan yang ditolak penerbit dan mengoreksi di mana letak kesalahannya. Tidak semua yang kita rasa benar itu sesuai dengan harapan penerbit. Kita mengirimkan tulisan ke penerbit bukan berdasarkan penalaran diri saja, tetapi kenyataan yang seharusnya menampar diri agar segera memperbaiki hal-hal yang masih menjadi kekurangan dalam naskah tersebut.

Lantas? Apa yang harus dilakukan ketika mengalami hal ini? Ada solusinya? Ada sayang ada (jangan pakai nada ya). Saya akan membahasnya setelah ini.

Saat kita memutuskan untuk mengirim naskah buku ke penerbit mayor, diperlukan mental yang kuat. Pun dengan usaha yang kuat. Tidak bisa hanya dalam angan-angan saja. Membayangkan ‘jikalau’ atau ‘andaikata’. Hal yang perlu dilakukan adalah berusaha, caranya bagaimana? Tentu dengan menulis yang sungguh-sungguh dan yakin kepada diri sendiri. Jika Anda sudah yakin, maka jemari pun seakan bekerja lebih baik dari biasanya.

Bagi penulis pemula, tentu banyak ketakutan tersendiri saat ingin mengirim naskah bukunya ke penerbit mayor atau nasional. Sebelum membahas bagaimana caranya bisa menembus penerbit mayor, agaknya penulis harus memiliki bekal yaitu memahami dasar-dasarnya terlebih dahulu.

Apa dasar yang wajib dimiliki penulis? Bukan hanya baik secara konten isinya saja, tetapi para penulis juga hendaknya memperhatikan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), memahami kata baku dan tidak baku, membuat kalimat yang efektif, dan sebagainya.

Menulis bisa dibilang sebagai ajang melatih diri seorang penulis untuk peka terhadap berbagai hal yang menyertainya. Peka dengan konten isi yang akan dibagikan, peka terhadap kesalahan dalam penulisan, peka terhadap situasi dan kondisi yang ada. Mengapa demikian? Keberhasilan menyajikan tulisan tidak sekejap mata, tetapi telah melewati rangkaian hal krusial. Di antaranya adalah proses mencari ide, riset, menulis, hingga self editing.

Apakah sudah siap menjadi penulis profesional? Penulis yang karyanya bertebaran di Gramedia dan toko buku lainnya? Jika ‘ya’ selesaikanlah membaca artikel ini dengan saksama. Saya akan membongkar hal yang bukan menjadi rahasia lagi. Beberapa hal yang patut diperhatikan ketika ingin menembus pintu penerbit mayor adalah sebagai berikut.

  1. Kenali, pahami, dan dekati penerbit yang akan kita bidik

Pernah mendengar istilah tak kenal maka ta’arufan? Ternyata, istilah tersebut bukan hanya berguna saat kita ingin mengenal seseorang saja. Akan tetapi, sangat bermanfaat untuk mengenali penerbit incaran.

Kenali. Mengenali penerbit sasaran bisa dimulai dengan mencari informasinya di internet atau mengunjungi instagramnya. Carilah informasi-informasi relevan yang dibutuhkan. Gali sebanyak mungkin dan bila perlu tuliskan kekhasan di masing-masing penerbit agar kita tidak lupa.

Pahami. Langkah selanjutnya, memahami karakteristik penerbit Misalnya, penerbit A lebih banyak menerbitkan buku nonfiksi populer dan Islami. Lalu, penerbit B menerbitkan buku-buku anak seperti novel anak, pictbook, komik, dan sebagainya. Pahami dengan cermat karakteristiknya.

Pahami juga bagaimana sistematika penulisannya. Bagaimana bahasa yang digunakan dalam buku. Saat dalam fase memahami, kita juga bisa menanyakan kepada orang-orang yang lebih berpengalaman untuk menambah referensi.

Dekati. Bila ada kesempatan mengikuti pelatihan menulis dari penerbit impian, luangkan waktu untuk ikut serta. Meskipun harus mengeluarkan biaya, anggaplah hal itu sebagai sebuah investasi. Dengan demikian, kita tidak akan merasa terbebani karena hasilnya akan melebihi investasi yang dikeluarkan.

Semakin dekat dengan editor atau orang-orang di belakang layar penerbitan, maka pintu terbukanya kesempatan sudah mulai terlihat. Tidak perlu menghitung seberapa banyak uang yang dikeluarkan, tetapi lihatlah seberapa meruahnya ilmu yang didapatkan.

  1. Ikuti peraturan yang dilayangkan penerbit

Setiap penerbit memiliki peraturannya sendiri. Adapun sebagai seorang penulis tidak bisa asal mengirim tulisan. Harus disesuaikan dengan standar yang ditetapkan penerbit. Hal inilah yang menjadi poin penting sebelum mengirimkan tulisan. Ikuti aturan mainnya, perhatikan setiap detailnya, dan jangan sampai terlewat sedikit pun. Misalnya, sebuah penerbit memiliki aturan standar penulisan seperti ini:

  • Naskah dikirim lengkap minimal 100 halaman.
  • Ditulis menggunakan font Times New Roman, spasi 1,5, ukuran 12, page siza A4.

Dan sebagainya.

Ikuti aturan standar tersebut dan tuliskan sebaik-baiknya. Hal ini bisa menjadi nilai tambah bagi seorang penulis.

  1. Terus membaca dan menulis untuk mengasah keterampilan berbahasa

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah membaca dan menulis. Duet maut terkait keterampilan berbahasa ini menjadi sumbu penting bagi penulis. Barangkali, pernah mendengar istilah pembaca yang baik adalah penulis yang baik atau penulis yang baik adalah pembaca yang baik.

Saya sangat setuju dengan istilah tersebut, tanpa membaca, penulis akan kesulitan mengembangkan idenya. Tanpa mengasah keterampilan menulis, seorang penulis akan menghasilkan tulisan yang monoton dan tidak bernyawa.

  1. Beranikan diri untuk mengirim naskah

Kalau memiliki impian, mari wujudkan sepenuh hati. Beranikan diri mengirimkan naskah buku. Biarkan naskah tersebut bertemu dengan jodohnya (penerbit). Percayalah bahwa setiap naskah akan menemui kekasih aslinya (penerbit). Memberanikan diri berarti kita percaya kepada diri sendiri untuk berkompetisi dengan penulis lain yang juga mengirimkan tulisan.

  1. Kencangkan doa-doa

Setelah mengirimkan naskah buku ke sebuah penerbit impian, kini saatnya memperbanyak doa. Biarkan Allah yang menggerakkan hati penerbit untuk mengabulkan harapan kita yaitu diterima. Akan tetapi, saat ditolak, tidak perlu baper. Berusaha terus dan terus, sehingga skill menulis semakin terasah dan semakin kebal dengan penolakan. Suatu saat nanti, akan ada kesempatan yang istimewa dari apa yang sudah kita usahakan hari ini.

  1. Terus belajar

Selalu belajar dari penolakan, sehingga kita tidak mengutuk penerbit. Namun, justru menjadi merasa tertantang untuk menulis sesuatu yang lebih berkualitas. Pada dasarnya, kita hanya perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk mengenal, memahami, dan mencari peluang-peluang lain. Adapun hasil penolakan tersebut masih bisa diperbaiki lagi dengan melakukan revisi, pemolesan, penguatan terhadap hal tertentu, dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan.

Beberapa hal di atas semoga membuka kesempatan untuk siapa pun yang ingin karyanya dibaca oleh lebih banyak orang. Jangan lupa bagikan tips ini ke orang lain yang membutuhkan ya. Semoga memberikan manfaat dan berdampak.

Devi Ardiyanti
Devi Ardiyanti
Penulis profesional dan tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Puluhan bukunya sudah tersebar di Gramedia seluruh Indonesia. Sangat menyukai dunia literasi dan travelling.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru