26.7 C
Jakarta

Suka Mengafirkan Sesama Muslim, Hati-hati Teroris!

Artikel Trending

KhazanahPerspektifSuka Mengafirkan Sesama Muslim, Hati-hati Teroris!
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Saya terperangah betul saat mengingat sabda Nabi SAW yang terlontar pada Usamah Ibn Zaid Ibn Haritsah, seorang sahabat sekaligus cucu angkatnya, yang membuatnya menyesal sekali, “Mengapa kamu tidak membelah dadanya, untuk mengetahui apakah di dalam hatinya tulus mengucapkan la ilaha illallah atau tidak?” Kira-kira begitulah pernyataannya, dalam riwayat Muslim sampai-sampai Rasulullah menanyakan itu hingga tiga kali banyaknya.

Agar tidak kehilangan konteks historis yang melatarbelakangi munculnya lontaran dawuh tersebut, saya sisipkan sedikit kisahnya secara singkat. Dalam beberapa riwayat pernyataan tersebut lahir setelah umat muslim berhasil menaklukkan pasukan kafir Bani Huraqah.

Setelah pulang dan sampai di Madinah, Zaid Ibn Haritsah bercerita pada Nabi bahwa dalam peperangan saat melawan Bani Huraqah, ia bersama tentara lain mengejar seorang musuh kafir. Orang tersebut terdesak hingga terjatuh, pada saat yang sama, ia melafalkan kalimat tauhid kemudian bersyahadat.

Pada saat seperti itu, Zaid Ibn Haritsah menerjang dan menebasnya dengan pedang, hingga musuh tadi meninggal. Ia begitu yakin bahwa apa yang diucapkan si musuh hanyalah bentuk kamuflase saja untuk mengelabuhi Zaid dkk agar bisa menyelamatkan diri.

Dari ceritera itulah Rasul mengucapkan demikian. Bahkan dibubuhi kalimat lain yang berbunyi begini, “bagaimana kamu akan menghadapi kalimat tauhid ‘la ilaha illa Allah’ di hari akhir kelak?”

Secara tersirat nabi saw hendak mengajarkan kita agar tidak mudah bersu’udzan pada orang lain, meski itu musuhnya. Memang sangat berat, apalagi tentang pengucapan kalimat Tauhid yang dalam ranah privat yang hanya diketahui antara seorang hamba dan Tuhannya. Siapa coba yang bisa dan mampu mengklarifikasi kesalehan tauhid seseorang? Tidak akan ada yang mampu kecuali hanya diri-Nya.

Namun anehnya, betapa banyak fenomena saat ini yang begitu suka menghakimi, mengklaim kafir sana-sini, menuding bid’ah, sesat, dan lainnya sebab lantaran berbeda paham dengan golongannya. Intinya dikit-dikit kafir. Ke kanan dikit bid’ah, ke kiri dikit kafir, bahkan hingga ada yang paling tragis memunculkan fatwa “halal darahnya”.

Sangat ngeri, bukan?

Terdapat suatu ungkapan menarik dari Imam Ghazali yang dijuluki Hujjatul Islam karena dianggap berhasil menghidupkan pundi-pundi ajaran Islam dengan semangat baru dan gagasan segar yang lebih hidup yang menyatakan kurang lebih begini, “andai kata terdapat seseorang yang memiliki peluang untuk menjadi seorang muslim dengan satu jalan di antara 99 jalan kekufuran, hendaklah tetap disebut sebagai muslim”.

Bayangkan coba, hanya karena satu cara yang baik dibanding yang 99 jalan kekufuran, telah layak disebut muslim. Dan kunci tersebut adalah tiada lain kalimat syahadat. Kira-kira begitulah bunyi sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Jangan gampang-gampang menuding liyan kafir, apalagi hanya berpijak pada alasan karena bersebrangan paham. Setiap orang memiliki masa lalu dan masa depan sekaligus. Yang perlu digarisbawahi adalah “Setiap orang baik memiliki masa lalu, dan setiap orang buruk memiliki masa depan.” Kira-kira begitu. Hanya saja terkadang terjadi takfir hanya karena perbedaan pandangan politik.

Hal ini juga pernah menimpa ulama kesohor kita, Buya Hamka. Suatu ketika beliau diminta menjadi imam untuk menyalati jenazah Bung Karno, namun muncul desas-desus dari orang-orang sekitar agar Buya tidak melakukankannya karena Bung Karno dianggap munafik, kemudian orang-orang itu mendasarkan ucapannya pada dalil teologis bahwa Allah melarang Rasul-Nya untuk mensh alati orang munafik.

Namun jawaban yang diberikan Buya begitu menohok dan syahdu rasanya yang menuturkan begini, “Rasulullah itu enak, diberitahu langsung oleh Allah kalau itu orang munafik. Sementara saya tidak memperoleh wahyu yang memberitakan bahwa Bung Karno itu munafik”. Alhasil, Buya memilih untuk menyalati presiden pertama itu tanpa ragu sedikit pun.

Intinya jangan gampang menilai seseorang, apalagi soal hati manusia yang mudah terombang-ambing perubahan.

Terdapat sebuah ungkapan menarik yang tertuang dalam kitab Aqidah Thahawiyyah sebagaimana dikutip Nadirsyah Hosen dalam buku Tafsir Alquran di Medsos yang dijadikan pegangan oleh para ulama salaf yang berbunyi begini:

لَا نُنَزِّلُ أَحَدًا مِنْهُمْ جَنَّةً وَلَا نَارًا، وَلَا نَشْهَدُ عَلَيْهِمْ بِكُفْرٍ وَلَا شِرْكٍ وَلَا بِنِفَاقٍ مَا لَمْ يَظْهَرْ مِنْهُمْ شَيْءٌ مِنْ ذلِكَ، وَنَذَرُ سَرَائِرَهُمْ إِلَى اللهِ تَعَالَى

(Kami tidak memastikan seseorang dari mereka masuk surga atau neraka. Tidak juga kami menyatakan mereka sebagai orang kafir, musyrik, atau munafik selama tidak tampak secara jelas (lahiriyah) mereka seperti itu. Kami menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah).

Kesemua tindak-tanduk manusia selalu berubah setiap detiknya, begitu pun kehendak hatinya yang mudah dibolak-balikkan dan sukar ditebak. Terlebih hanya karena berseberang pandangan, lalu menudingnya kafir, amat sulit menentukan kekafiran dan kemunafikan manusia, kita tidak usah repot-repot menjadi malaikat Raqib dan Atid yang seolah semua tindakan orang-orang wajib dicatat dan dikomentari. Biarlah soal hati urusan dia dan Allah. Hanya Allah yang memiliki hak prerogatif untuk menilai kepantasan ia di neraka atau di surga-Nya.

Nabi saja dilarang berlaku demikian, juga sahabat, dan para ulama salaf pun bersikap hati-hati dalam persoalan ini. Kita siapa kok gampang menuding liyan kafir dan mudah menerakakan orang lain, Nabi bukan, sahabat bukan, ulama juga bukan, lantas apa yang mau ditonjolkan sampai berani berbuat sejauh itu? Siapa pun yang suka takfir atau menganggap orang lain kafir, hati-hatilah! Teroris.

Ali Yazid Hamdani
Ali Yazid Hamdani
Mukim di Yogyakarta, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru