25 C
Jakarta

Suka K-Pop, Apakah Tidak Bisa Masuk Syurga?

Artikel Trending

KhazanahTelaahSuka K-Pop, Apakah Tidak Bisa Masuk Syurga?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Media sosial kembali ramai, khususnya bagi para penggemar K-Pop (K-Popers) ketika menanggapi kritik Ali Hamzah, seorang konten kreator dalam sebuah video unggahannya. Ali Hamzah membuat konten tentang Mnet yang meremix suara adzan. Dalam kritiknya, ia menulis di media sosialnya bahwa K-Pop mempermainkan Islam. Hal ini tertuang dalam caption postingannya,

“uda tau sering begini masi aja lu dement u K-Pop-K-Popan! Disaat agama lu dihina lu diem? Penyembah fisik”

Caption ini memicu kegeraman para K-Popers Indonesia. Pasca postingan tersebut, seruan boikot kepada Ali Hamzah terus gencar, bahkan namanya menjadi trending di twitter akibat postingan itu. Kegeraman netizen diungkapkan dengan kekecewaan, serta berbagai ungkapan lainnya yang menggugat Ali Hamzah.

Kritik Islam oleh Ali Hamzah, apakah tepat?

Apa yang disampaikan Ali Hamzah dalam videonya, melampaui jauh dari sebenarnya yang dipermasalahkan. Ali Hamzah mengkritik Mnet karena mempermainkan Islam dengan adzan tersebut. Lalu, pantaskah menyalahkan K-Popers? Justru kesalahan terletak pada Mnet. Kalimat semacam itu disampaikan oleh K-Popers yang geram dengan kritik Ali Hamzah. (Viva.co.id)

Lagipula, jika menilik lebih jauh. Kasus semacam ini jangan sampai terjadi seperti Prancis yang sempat membuat heboh. Korea, Sebagai negara yang tidak memiliki penduduk mayoritas Islam, dengan populasi muslim 40.000, kita bisa menyampaikan opini bahwa sikap yang diperlihatkan dalam kehidupan beragama tidak seperti di Indonesia.

Menjadi wajar, ketika melihat beberapa sikap keberagamaan yang tidak sama dengan Indonesia. faktornya bisa beragam, mulai dari ketidaktahuan, atau memang sikap semacam itu wajar pada sebuah negara. Dan kita bisa memaklumi keberagaman semacam itu pada tiap-tiap negara.

Kritik terhadap Mnet juga sudah direspon oleh Mnet pada akun instagram @ment_dancepada rabu 8/9 malam. Pihaknya menyampaikan permintaan maaf yang tulus sebab ketidaktahuan. Tim produksi menduga bahwa suara elektronik tersebut cocok dengan lagu yang disampaikan.

Kenyataan semacam ini akan sering kita jumpai pada relasi sosial keberagamaan yang tidak semua orang mengetahui tentang simbol, ritual keagamaan pada masing pemeluk agama.

Akan tetapi, fenomena Mnet, belum seberapa bagi Ali Hamzah. Dalam videonya, ia juga turut mengkritik rapper Jay Park yang tidak hanya menghina agama Islam tapi juga menghina agama Kristen.  Apalagi dengan pilihan untuk menjadi atheis, tidak sepantasnya kita mengidolakan orang semacam itu.

BACA JUGA  Refleksi HUT RI: Teladan Bung Hatta untuk Anak Muda Indonesia

Lebih dari itu, Ali Hamzah dalam videonya justru ingin mengajak semuanya untuk masuk syurga yang diungkapkan melalui sebuah videonya.

“Yuk guys yang Muslim, buka mata kalian. Aku juga pengen ngajak kalian masuk surga bareng-bareng sama keluarga kita, sama Rasulullah. Udalah, tinggalkan dunia per-kpopan itu,” kata Ali Hamzah.

Syurga milik siapa?

Populasi K-Popers di Indonesia sangat besar. Dalam dunia ekonomi, misalnya. Simbol K-Pops yang melekat pada sebuah produk bisa mendongkrak pasar, meningkatkan nilai jual produk tertentu. Kita bisa mengingat kembali bagaimana Mcd BTS yang sempat viral bisa mendongkrak pendapatan di masa pandemi, dan bisa membantu banyak driver.

Video Ali Hamzah yang ingin mengajak masuk syurga tidak lain adalah sikap yang tidak perlu ditampilkan sebagai umat muslim. Mengkritik para K-Popers dengan dalil bahwa sikap keberagamaan yang dimiliki oleh seseorang adalah sesuatu yang tidak perlu ditampilkan.

Apa yang disampaikan oleh Ali Hamzah juga bisa ditelaah sebagai demam Islam yang ditampilkan sebagai muslim kekinian yang akan mendapat banyak kritik. Lebih jauh, berarti sangat bisa kita mempertanyakan banyak hal. termasuk, “ berdosakah kita mengidolakan orang non muslim?,” berarti kita tidak akan masuk syurga jika mengidolakan para K-Pop?”, lalu bagaimana jika ternyata dengan K-Pop saya belajar banyak tentang dunia fashion yang bisa meningkatkan prekonomian keluarga? Dengan begitu saya bisa mempekerjakan banyak orang.

Bagaimana jika ternyata melalui K-Pop saya bisa belajar tentang bahasa Korea, lalu bisa mendapat beasiswa untuk belajar? Pertanyaan semacam itu akan terus muncul ketika menyikapi fenomena Ali Hamzah yang megajak untuk meninggalkan K-Pop lantaran bukan dari kalangan muslim. Bagaimana hak saya untuk mendapat syurga jika tetap mengidolakan K-Pop sedangkan kesukaan tersebut tidak berpengaruh pada kewajiban melaksanakan perintah Allah serta tidak berpengaruh terhadap keimanan saya? Wallahu a’lam.

 

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru