Studi Orientalis Terhadap Al-Qur’an

Artikel ini sedikit mengulas tentang pandangan kalangan Orientalis terhadap al-Qur'an yang kemudian di kritik oleh kalangan Orientalis sendiri.


0
5 shares

Christoph Luxenberg adalah seorang sarjanawan Barat yang hidup pada abad ke-20.an. pada abad ini merupakan masa dimana perkembangan studi al-Qur’an sedang mengalami peningkatan yang signifikan, dibuktikan banyak adanya pusat studi al-Qur’an di barat serta pengkajian al-Qur’an oleh sarjana Barat dengan berbagai pendekatan dan fokus kajian. Seperti yang di sebutkan oleh Farid Essak, mengenai fokus kajian. Setidaknya ada beberapa fokus kajian sarjana barat diantaranya, kajian tarikh al-Qur’n, kandungan al-Qur’an, bahkan lebih luas lagi ada yang mengkaji agama Islam secara Umum.

Abdullah Saed dalam bukunya menyebutkan, pada abad ini pula banyak muncul sarjanawan barat yang dapat dibilang cukup kontrovrsi dan banyak menghasilkan karya-karya yang diakui oleh seluruh dunia yang sampai sekarang dijadikan fokus kajian tersendiri. Adapun tokoh-tokoh yang muncul pada abad ini antara lain: Theodor Noldeke, ia adalah yang pertama kali menyusun al-Qur’an secara kronologis, kemudian Richard Bell yang meyakini jika al-Qur’an disusun sebelum meninggalnya Nabi Muhammad SAW, selanjutnya John Wasbrough salah satu pengagas ideology Revisionis al-Qur’an yang mempercayai jika al-Qur’an disusun 150 Tahun setelah Nabi wafat dan yang paling kontroversi adalah Christoph Luxenberg, Ia beranggapan bahwa al-Qur’an didasarkan pada dokumen Liturgi Kristen berbahasa Aramaik. Dan masih ada beberpa lagi sarjana barat yang mngkaji al-Qur’an. namun pada artikel ini kita akan fokus pada pemikiran Christoph Luxenberg yang kemudian di keritik oleh Gerald Hawting yang notabenenya dari kalangan Orientalis.

Christoph Luxenberg adalah seorang pengkaji al-Qur’an dari kalangan orientalis yang berasal dari jerman. Abdullah Saed menyebutkan jika nama ini bukanlah nama aslinya melainkan nama Christoph Luxenberg adalah sebuah nama samaran, namun Abdullah Saed tidak menyebutkan siapakah nama asli dari Christoph Luxenberg. Seperti yang disebutkan diatas Christoph Luxenberg mengkritik kepercayaan orang muslim terhadap al-Qur’an yang berbahasa Arab. ia membantahnya dengan beranggapan bahwa al-Qur’an didasarkan pada dokumen Liturgi Kristen yang ditulis dalam bahasa yang lebih dekat dengan bahasa Aramaik disbanding Arab. singkatnya menurut Christoph Luxenberg, al-Qur’an bukan dari bahasa Arab melainkan berbahasa Aramaik. Pandangan ini berdasarkan pada pengetahuan Christoph Luxenberg tentang bahasa Semit awal dan studinya terhadap salinan-salinan naskah al-Quran terdahulu. Christoph Luxenberg juga perpendapat jika pemaknakan al-Qur’an saat ini tidak sesui dengan konteks dan  fungsinya, sebagaimana klaim kata  hurin  dalam al-Qur’an yang menurut Christoph Luxenberg jika diartikan bukanlah taman muda atau prawan disurga, akan tetapi menurut Christoph Luxenberg dalam bahasa Aramaik, artinya “kismis putih” atau ‘anggur Putih’. Artinya, Christoph Luxenberg mengungkapkan jika makna-makana dalam al-Qur’an sudah tidak lagi diartikan sebagaimana semestinya dalam kata Aramaik.

Baca Juga:  Bentangan Masjid dan Toleransi Beragama

Namun  pendapat Christoph Luxenberg diatas kemudian dipertanyakan oleh Gerald Hawting. Dalam beberapa literature menyebutkan jika Gerald Hawting merupakan sarjana Barat yang muncul pada generasi setelah Luxenberg, Ia juga merupakan sarjanawan yang mengkritisi pemikiran Muslim ortodoks mengenai pandangannya terhadap al-Qur’an, akan tetapi Gerald Hawting juga tidak sependapat dengan Luxenberg jika al-Qur’an berasal dari bahasa Aramaik. Bahkan Abdullah Saeed menyebutkan jika pendapat Luxenberg menurut Gerald Hawting adalah pandangan yang ‘srampangan’. Artinya pendapatnya menurut Gerald Hawting tidak terlalu berdasar. pasalnya ia hanya berdasar pada penyalinan-penyalinan naskah al-Qur’an yang ditemukan di dekat dengan Aramaik, dan itu menurut Gerald Hawting belum bisa membuktikan jika al-Qur’an berbahasa Aramaik. Melihat pada masa sebelum hijriah sudah terdapat peradaban di Arab. maka tidak sesuai jika al-Qur’an yang dipercayai berada di Arab menggunakan bahasa Aramaik. Selain Luxenberg, sarajana Barat Neuwirth juga beranggapan jika pandangan Luxenberg terlalu menunjukan prakonsepsinya tentang apa-apa yang harus berada dalam teks. Artinya Luxenberg terlalu memaksakan untuk menghubung-hubungkan kata dalam al-Qur’an ke bahasa Aramaik. Dan beberapa orientalis yang lainpun menganggap jika pandangan Luxenberg  hanya ‘mengandaikan hasilnya sendiri’.

Namun terlepas dari semua itu tidak dapat dipungkiri jika Studi Luxenberg dikatakan telah memperkenalkan era yang baru bagi kajian Al-Qur’an dibarat, Abdullah Saeed juga menyebutkan kajian pemikiran Luxenberg sampai sekarang masih berjalan dan banyak pula dari berbagai kalangan yang mengkritisi pandangan tersebut. Maka secara tidak langsung pemikiran Luxenberg menghasilkan respon-respon yang beragam dari berbagai kalangan yang menambah khazanah kajian Studi al-Qur’an.


Like it? Share with your friends!

0
5 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
latifsulton