33.9 C
Jakarta

Sore ini Aku Masih di Perjalanan (Bagian XLVI)

Artikel Trending

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Daftar Daerah yang Tegas Menolak Kehadiran Rizieq Shihab dan FPI

Gelombang penolakan atas keberadaan organisasi Front Pembela Islam menjalar kemana-mana, utamanya pasca kedatangan Rizieq Shihab ke Indonesia dari pelariannya atas kasus hukum yang menimpa....

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam...

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang...

Sore ini aku masih di perjalanan sambil menunggu transportasi Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta. Kereta ini menggunakan listrik dengan laju tercepat dan tanpa macet.

Kereta yang ditunggu tak lama datang. Para penumpang berdesakan masuk ke dalam gerbong kereta sambil mencari seat, tempat duduk sela-sela yang masih kosong. Ada yang duduk di kursi prioritas dan ada yang berdiri sambil memegang gantungan pengaman yang tersedia di dalam kereta.

Menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) harus melewati beberapa stasiun MRT. Karena naiknya dari daerah Ciputat dekat kampus UIN Jakarta, stasiun terdekat di sana adalah Stasiun Lebak Bulus. Beberapa stasiun yang dilewati meliputi Fatmawati, Cipete Raya, Haji Ngawi, Blok A, Blok M, ASEAN, Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, baru sampai di Stasiun Bundaran HI. Bundaran HI itu stasiun terakhir.

Kereta melaju dengan cepat. Gesekan roda kereta terdengar samar-samar di dalam kereta. Pemandangan Jakarta terlihat padat dengan bangunan hotel, perumahan, dan bangunan-bangunan mal. Hijau pepohonan Jakarta berganti dengan bangunan pencakar langit.

“Mbak, silahkan duduk!” Seorang pemuda yang belum dikenal berbaik hati berdiri dari kursi prioritas di dalam kereta dan mempersilahkan Diva menggantikan tempat duduknya.

“Terima kasih, Mas.” Ucap Diva menolak. Diva pura-pura kuat berdiri bermenit-menit di dalam kereta.

Diva membatin: Fairuz?

Wajah pemuda itu persis dengan wajah Fairuz, sosok lelaki yang pernah mengisi hari-hari Diva di pesantren dahulu dan sekarang sudah tidak ada kabar lagi. Entah, Fairuz masih ingat tentang kisah itu atau tidak.

Diva menatap pemuda itu dengan tajam. Sambil ngucek-ngucek bola matanya, seakan tidak percaya. Diva meyakinkan dirinya: Dia bukan Fairuz. Pasti bukan Fairuz.

“Mbak, silahkan duduk!” Dia menawarkan kembali, tapi Diva menggeleng sambil berdesis, “Tidak usah, Mas. Terima kasih.”

Diva semakin penasaran: Kalo dia benar Fairuz, pasti dia tidak bakal panggil aku “Mbak”. Pasti panggil “Div”. Tapi, aneh pemuda ini seakan dia berhati mulia semulia budi pekertinya.

Bundaran HI Station. Suara pemberitahun dari arah yang tak jauh terdengar jelas di telinga para penumpang. Kereta sudah sampai di tujuan. Habis itu, pintu kereta terbuka secara otomatis dan para penumpang berdesakan keluar dari dalam kereta. Saat berdiri tak jauh dari Bundaran HI, Diva mencari pemuda tadi. Sayang, dia sudah tak terlihat jejaknya. Secepat itu dia menghilang seakan senja yang hilang tertelan gelap malam.

Tempat seminar yang dituju tidak jauh dari Bundaran HI. Sekitar lima menit jalan kaki sudah sampai di tujuan. Selama di perantauan Diva sengaja tidak membeli motor untuk jalan-jalan. Dia lebih suka menggunakan gojek online dan membudayakan jalan kaki jika jarak tempuhnya tidak terlalu jauh. Budaya jalan kaki dapat menyehatkan tubuh karena terhitung olahraga.

“Div, di mana? Aku di kosanmu.” Sebuah chat Shaila baru dibaca.

“Aku lagi di Jakarta Pusat. Mau ngisi seminar. Kok baru ngabarin.”

“Aku tunggu di kosmu aja, Div.”

“Okey, kunci kos ada di atas pintu.”

Percakapan sore itu datar sekali, seakan tiada sesuatu yang berbeda seperti yang dirasakan kemarin.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Senja Berbalut Rindu” (Dwilogi Novel “Mengintip Senja Berdua”) yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Muhammad Rizieq Shihab, Quraish Shihab, dan Habib Lutfi

Muhammad Rizieq Shihab semakin viral. Sejak kembalinya dari Arab Saudi, sampai penjemputan, perayaan Maulid Nabi, hingga perayaan nikah anaknya menjadi tilikan banyak orang. Bahkan...

Organisasi Mahasiswa Riau Gelar Aksi Tolak Radikalisme

harakatuna.com. Pekanbaru - Sebanyak 41 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) dan organisasi mahasiswa Riau menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur Riau, Senin (23/11/2020). Dalam aksi...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ulama Austria Minta Aparat Tak Kaitkan Terorisme dengan Agama

Harakatuna.com. WINA -- Saat rasialisme dan diskriminasi terhadap Muslim di Austria melonjak, ulama di negara Eropa memperingatkan pihak berwenang tidak mengaitkan terorisme dengan agama apa pun. Setelah...

Jangan Mudah Menuduh Orang Lain Dengan Sebutan Lonte

Kata lonte dalam tradisi masyarakat Indonesia adalah bermakna kasar. Yaitu bermakna sebagai pezina ataupun pelacur. Kata lonte ini kembali viral di media sosial karena...

Lumpuhkan Radikalisme, Munas MUI Usung Tema Islam Wasathiyah

Harakatuna.com. Jakarta - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin menyampaikan pidato dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) MUI ke-19 di Hotel Sultan,...

Munas MUI ke-X; Saatnya MUI Kembali ke Khittah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah melaksanakan pemilihan Ketua Umum MUI baru periode 2020-2025. Pemilihan dilaksanakan pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI ke-10 di Hotel Sultan,...