25.4 C
Jakarta

Mencegah Solo Jadi Medan Tempur Syi’ah dan Wahabi 

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Mencegah Solo Jadi Medan Tempur Syi’ah dan Wahabi

Ayik Heriansyah*

Insiden penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang intoleran di kediaman Alm. Assegaf bin Jufri, Kampung Mertodranan, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo Sabtu (8/8) malam, pada acara acara midodareni atau upacara malam sebelum ijab kabul tidak bisa dibenarkan. Insiden ini mengakibatkan tiga orang anggota keluarga mengalami luka-luka. Tiga mobil dan dua sepeda motor rusak.

Motif massa pelaku diduga karena lantaran menganggap ada kegiatan yang berbau syiah, memang beberapa hari sebelumnya, banyak beredar di media sosial informasi dan undangan acara Idul Ghadir yang jatuh pada hari ke-18 Dzulhijjah/7 – 8 Agustus 2020. Idul Ghadir adalah hari raya terbesar kaum Syiah yang sangat ditentang oleh kelompok Wahabi.

Para pelaku masih dalam kejaran polisi. Kita belum tahu pasti, apa motif di balik penyerangan tersebut. Namun, insiden serupa beberapa kali terjadi di negeri ini. Sangat mengkhawatirkan, karena tingkat toleransi masyarakat makin menurut. Budaya tabayyun, duduk bersama membahas suatu hal secara baik-baik, mulai luntur.

Tidak bisa dipungkiri, ekses dari tsunami informasi mempercepat globalisasi, telah menghanyutkan sebagian kalangan ke dalam perbuatan anarkhi. Globalisasi mengancam identitas kelompok keagamaan terutama yang minoritas. Syi’ah dan Wahabi, dua kelompok minoritas di Indonesia yang sama-sama militan. Keduanya saling tarik menarik isu, kadang menimbulkan gesekan di tengah masyarakat. Masing-masing kelompok berjuang agar eksistensi identitas mereka tetap terjaga dengan baik menuju persaingan antar kelompok identitas yang memicu konflik dan krisis politik identitas yang baru.

Syi’ah dan Wahabi di Solo

Isu konflik Syi’ah dan Wahabi pemicu terhebat di dalam perang sesama Arab di Timur Tengah sejak 2011 hingga hari ini. Pemerintahan Bashar Assad dituduh syi’ah oleh Wahabi, mengundang pengikut Wahabi seluruh dunia ramai-ramai hijrah ke Suriah. Demikian juga, isu kekhawatiran Suriah jatuh ke tangan Wahabi, membuat kelompok syi’ah (Iran dan Hizbullah) merasa berkewajiban turut serta memerangi milisi Wahabi.

Perang Syi’ah-Wahabi, perang antara Imamah versus Khilafah. Perang ini perang ideologi dan identitas. Jika perang konvensional bertujuan untuk mempertahankan geo politik dan ideologi negara, maka perang ideologi dan identitas kelompok guna mendapat akses ke dalam negara bagi kelompoknya, bukan untuk kepentingan publik secara keseluruhan.

Jika aktor dalam perang konvensional adalah tentara regular dari angkatan bersenjata suatu negara, maka dalam konsep perang ideologi dan identitas, aktornya sangat banyak, kombinasi tentara reguler (state actor) dan aktor non negara (non state actor) seperti jihadis, relawan, para militer, tentara bayaran, ulama, tenaga medis, pekerja sosial, dll.

Kemudian masing-masing kelompok ideologi dan identitas membenarkan perjuangan politik mereka sampai ke tingkat negara. Ideologi adalah seperangkat ide koheren yang menyediakan basis bagi tindakan politik terorganisasikan untuk mempertahankan, memodifikasi atau menggantikan sistem kuasa yang sudah ada. Tiga ciri penting suatu ideologi: a) Menawarkan pemahaman tentang tatanan yang ada, biasanya dalam bentuk “pandangan dunia”; b) Mengembangkan model tentang masa depan yang diinginkan, visi tentang “masyarakat yang baik”; c) Menjelaskan bagaimana perubahan politik dapat dan sebaiknya dilakukan.

Ideologi-ideologi baru yang berbasis identitas yang memicu perang baru di kawasan Timur Tengah berimbas ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kemajuan teknologi informasi dan kemudahan migrasi penduduk dari satu negara ke negara lain, serta karakteristik perang baru yang desentralistik, menjadi ancaman baru bagi pertahanan dan keamanan suatu negara. Medan tempur dalam perang baru menyebar tidak terikat satu lokasi tertentu dan tidak dapat diprediksi dalam jangka waktu yang lama.

Kasus-kasus intoleransi, radikalisme dan terorisme di kota Solo menjadi indikasi ada jejak-jejak perang ideologi dan identitas antara syiah dan wahabi di sana. Hal ini harus dicegah jangan sampai meletus menjadi perang sipil sesama anak bangsa.

Pada prinsipnya, pertahanan paling kuat bagi suatu negara adalah rasa cinta tanah air warganya. Oleh karena itu, meski bagi pengikut syiah dan wahabi di Indonesia, perlu melakukan pribumisasi /nativikasi ajaran syiah dan wahabi, Syiah dan Wahabi mencoba mendialogkan ajaran mereka dengan ke-Indonesia-an.

Ini yang disebut Gus Dur dengan kosmopolitan Islam. Kosmopolitan Islam mengakui ada Islam “Anda” selain Islam yang “Aku” pahami. Sehingga ruang toleransi dan daya koeksistensi terhadap kelompok lain menjadi lebih besar. Demi menghindari konflik identitas seperti yang terjadi di Arab.

*Ayik HeriansyahPengamat Sosial Keagamaan, dan Mantan Ketua DPD HTI Bangka Belitung.

Ayik Heriansyah
Ayik Heriansyah
Mahasiswa Kajian Terorisme SKSG UI, dan Direktur Eksekutif CNRCT

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...