30.3 C
Jakarta
Array

Sofi Mubarak: Khilafah Sebagai Solusi Hanyalah Simplistis

Artikel Trending

Sofi Mubarak: Khilafah Sebagai Solusi Hanyalah Simplistis
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com, Bandung. Dialog kebangsaan yang diselenggarakan komunitas Citizen Journalism Interdependen dengan tema “Menolak Khilafah, Meneguhkan Pancasila dan Keutuhan NKRI” di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Sabtu (8/7/2017) yang menghadirkan pembicara Muhammad Sofi Mubarok (Kandidat Doktor UIN Jakarta) dan Muradi (Pengamat Politik UNPAD) mendapat sambutan hangat dan luar biasa dari masyarakat.

Sofi Mubarak, penulis buku Kontroversi Dalil-Dalil Khilafah mencoba memaparkan materi “Kekeliruan Gagasan Khilafah”, yang dalam konteks keindonesiaan tertuju, salah satunya Hizbut Tahrir Indonesia. “HTI ini tidak memperdulikan konsep persatuan dan kesatuan umat jika dikonfrontir dengan motif menegakkan agama. Bagi mereka yang penting adalah tegaknya Islam sebagai ideologi dan konstitusi negara serta kejayaan umat Islam tanpa memperdulikan keragaman dan kemajemukan yang ada,”Ulasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa HTI dalam membaca teks dan lalu menyimpulkan pesan dalam teks terkesan simplistik dan memaksakan dan serta disesuaikan dnegan kepentingan pribadi dan golongannya, padahal kesalahan dalam memetakan permasalahan agama dan pesan yang terkandung dalam ajaran agama akan membawa seseorang pada perilaku yang eksklusif dan berpotensi melahirkan generasi radikal dan militan. “Ajaran dan kajian yang dilakukan oleh temen-temen Hizbut Tahrir berpotensi besar menciptakan kader-kader militan, radikal sekaligus militan. Tema jihad dan peperangan menjadi topik paling dominan dalam sistem kaderisasi yang mereka terapkan. Hal ini muncul karena cara pandang yang tak holistik dan utuh terhadap dalil-dalil syariat”. Tambahnya.

Kesimpulan HTI bahwa khilafah adalah harga mati dan menjadi solusi terbaik atas segala permasalah manusia di dunia ini dalam pandangan intelektual muda ini hanyalah simplistis dan mengada-ngada. “Bahwa Khilafah dapat menjawab segala problematika umat merupakan pemikiran simplistis. Meminjam istilah Kiyai Afif, para pendukungnya tidak melalui proses identifikasi problematika dengan tahapan prosedural yang tepat, sehingga keliru menghasilkan kesimpulan/produk pemikiran,” Pungksnya.

Selain Sofi Mubarok, hadir juga sebagai pembicara, Dr. Muradi yang juga Pengamat Politik UNPAD yang dalam paparannya sempat berujar cukup keras atas perilaku dan tindakan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia yang menolak Pancasila dan Indonesia karena dinilai taghut dan kufur. “Sebenarnya orang yang ingin mengganti negara adalah orang yang brengsek”. Katanya.

Ungkapan brengsek ini adalah bentuk tidak adanya penghargaan kepada para pendiri bangsa kepada para generasi muslim yang hidupnya bertujuan ingin menegakkan Khilafah di Indonesia. “Khilafahnya versi Taqiyuddin Al-Nabhani lagi!,”Sebut salah satu peserta di luar gedung.

Baca: Al-Qurthubi dan Hukum Islam

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru