25.6 C
Jakarta

Sisi Lain Ramadan, Krisis Kedamaian, dan Khilafahisme

Artikel Trending

Milenial IslamSisi Lain Ramadan, Krisis Kedamaian, dan Khilafahisme
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Terlalu berlebihan jika menganggap pasca runtuhnya Khilafah kondisi dunia tidak baik-baik saja. Ini sama sekali menghilangkan beberapa kemajuan-kemajuan yang nyata-nyata terjadi. Banyak kok kemajuan yang kita lihat, misalnya kemajuan teknologi, kedokteran, pertanian, militer, serta kemajuan politik dalam menciptakan persamaan hak antara ras dan jenis kelamin.

Jika ditanya, bila ada kemajuan apakah di sampingnya tidak ada krisis? Siapapun yang merasa hidupnya adalah ciptaan Tuhan, jelas ia akan mengatakan “kami adalah ciptaanNya, dan oleh sebab itu kami tidak sempurna”. Jika kita merasa tidak sempurna, maka kondisi kita pasti ada kecacatan, kekurangan, dan lain-lain.

Di Sisi Kemajuan

Amerika saja, sampai saat ini kita terima bahwa negeri tersebut adalah adikuasa, masih banyak ketimpangan sana-sini yang terjadi. Di Amerika, segala upaya untuk menyelesaikan krisis tersebut justru menyebabkan masalah atau tercipta krisis baru. Contoh, misalnya masalah penghargaan terhadap para perempuan.

Di Amerika, gerakan feminis bisa dibilang begitu maju dan sangat gencar, ketimbang negara lainnya. Namun faktanya, hingga sekarang, Amerika masih menghadapi ketimpangan pendapatan, menghadapi kekerasan seksual yang merajalela, dan berisiko lebih besar hidup dalam kemiskinan dengan anak-anak mereka. Apalagi diperkuat dengan tidak digdayanya dari persoalan migas dan ekonomi yang selalu merasa kurang.

Namun ini semua, bukan berarti akibat runtuhnya Khilafah. Atau, karena pertanda bahwa Amerika berada di bawah hukum buatan manusia, sehingga sebagus apa pun negaranya, tidak akan membawa apa-apa selain kekacauan dan sejenisnya. Tidak seperti itu.

Di masa Khalifah (bukan khilafah) juga sangat banyak kekurangan demi kekurangan. Buktinya di antara pemerintahan mereka banyak yang tidak beres. Bukti riilnya adalah banyak peperangan dan kematian akibat saling memperebutkan sesuatu yang tidak penting seperti ekonomi dan kedaulatan sesaat. Bahkan empat khalifah sendiri tidak lepas dari pembunuhan serupa.

BACA JUGA  “All Eyes on Rafah” dan Mengakhiri Pengkhianatan Bagi Palestina

Butuh Kejujuran

Jadi, jika ada aktivis khilafah yang mengatakan bahwa negara hari ini mengalami kekacauan karena tidak diatur oleh sistem Allah yang bernama khilafah, sungguh ia kurang piknik kepada bukti sejarah. Jika ada yang bilang bahwa mereka ditipu karena percaya pada sisi sistem demokrasi dan Pancasila, tapi malah menistakan sistem Khilafah yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunah, adalah bukti penipuan semata.

Keinginan mendirikan khilafah adalah keinginan untuk menghancurkan kedamaian yang telah ada. Pancasila dibentuk sesungguhnya berdasarkan kebutuhan umat manusia yang menempatkan keadilan, kedamaian, dan toleransi untuk memandu semua urusan hidup umat manusia.

Jadi jika kita berani sepakat, kekacuan di dunia bukanlah berasal dari sistem Pancasila, melainkan dari orang-orang yang ingin merong-rong kehebatan Pancasila itu sendiri. Artinya, sisi lain kekacauan tercipta sebab dari orang-orang yang tidak suka Pancasila, dan dari mereka yang ingin menguasai dunia dengan memaksakan sistem khilafah.

Di Bawah Mimpi

Jadi, Indonesia di bawah orang-orang ini menjadi brutal dan tidak elok. Kita setiap hari dipaksa menerima sistem khilafah yang tidak memiliki sandaran etis bagi bangsa Indonesia. Kita selalu disuapi dengan narasi-narasi bahwa untuk keluar dari krisis atau masalah dunia sudilah mendirikan khilafah, di mana mereka mengklaim bahwa sistem khilafah adalah sistem yang datang dari Allah Swt.

Mereka mengatakan bahwa sistem khilafah adalah sistem yang akan menjadi cahaya dan jalan keluar bagi krisis dunia yang dikelilingi oleh kegelapan dan kekacauan kapitalisme. Melalui Khilafah, dengan berdiri di belakang khalifah yang adil, umat akan siap menggunakan semua sumber dayanya untuk membawa Islam ke seluruh dunia,” pungkasnya. Semua ungkapan ini hadir dari aktivis khilafah yang masih merem di kasur empuknya dan mengandaikan dunia hadir seperti hasil mimpi basahnya semalam.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru