25 C
Jakarta

Signifikansi Geopolitik Energi di Timur Tengah

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahUlasan Timur TengahSignifikansi Geopolitik Energi di Timur Tengah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Istilah Timur Tengah mulai populer pada tahun 1902, tepatnya ketika seorang ahli geopolitik Amerika Serikat bernama Alfred Mahan, menulis artikel tentang seapower dan menolak penyebutan wilayah di sekitar Teluk sebagai Near East atau Far East. Istilah Timur Tengah lantas menjadi semakin populer di Amerika Serikat dan Eropa Barat selama Perang Dunia Kedua berlangsung.

Semenjak pelaksanaan Camp David pada tahun 1978, diskursus geografi mulai diperhatikan dalam perpolitikkan negara-negara di Timur Tengah. Hal ini dikarenakan terjadi berbagai kontestasi kekuatan dalam arena sub-regional, yakni (1) Suriah berupaya untuk menjadi hegemon di Lebanon, Yordania, dan Palestine Liberation Organisation; (2) Arab Saudi mencapai keunggulan di antara negara Teluk lainnya; (3) Irak terjebak dalam sengketa yang berlaru-larut dengan Iran; dan (4) Mesir mengalami locked out dari sistem negara Arab.

Peristiwa 9/11 yang diikuti dengan invasi Amerika Serikat di Irak kemudian mengubah sistem aliansi inter-Arab dan geopolitik kawasan. Washington berhasil mencapai prominensi setelah kejatuhan Baghdad, menolak tawaran Teheran untuk melakukan negosiasi, dan meningkatkan persekutuannya dengan Arab Saudi. Oleh karena itu, terjadi rivalitas yang sengit antara Arab Saudi dan Iran. Ini merujuk pada kontestasi Arab Saudi dan Iran untuk mendominasi sejumlah kawasan, seperti Irak, Lebanon, West Bank, Jalur Gaza, Yaman, dan Bahrain.

Dengan adanya dukungan Amerika Serikat, Arab Saudi berhasil bertindak sebagai balancer dan membendung pengaruh Iran di sejumlah kawasan. Arab Saudi juga berupaya untuk menggandeng negara-negara Arab yang cenderung moderat, seperti Mesir, Yordania, Palestina, Tunisia, Maroko, Yaman, Bahrain, dan Uni Emirat Arab dengan didukung pula oleh Israel. Sementara itu, Iran berupaya untuk mempertahankan posisi geopolitiknya dan memperluas pengaruh di sejumlah kawasan Arab melalui pembentukan aliansi dengan Suriah, Hezbollah, Hamas, dan pergerakan jihad lainnya dengan didukung oleh Rusia.

Signifikansi Energi dalam Pembentukan Geopolitik Kawasan

Energi memang menjadi faktor pendorong atas persepsi negara Barat terhadap Timur Tengah, serta menjadi faktor bagi kawasan tersebut untuk mengidentifikasi dirinya. Tak hanya itu, energi juga merupakan variabel kunci dalam menciptakan kemakmuran dan kestabilan rezim, sehingga menjadi bagian yang tidak terhindarkan dalam kalkulasi keamanan. Hal ini menyebabkan para strategis dan pembuat kebijakan senantiasa terpengaruh oleh dua warisan dari krisis energi pada awal tahun 1970-an dan 1980-an. Kedua peristiwa tersebut merefleksikan pentingnya penggunaan minyak untuk melancarkan koersi politik.

Isu energi—terutama minyak—memang telah memberikan implikasi tersendiri dalam keamanan di Timur Tengah, baik secara internal, regional, maupun ekstraregional. Hal ini dikarenakan energi mampu memengaruhi stabilitas rezim beserta potensi dan kekuatan nasional suatu negara. Sumber energi dan rute transportasinya dapat dijadikan sebagai arena persaingan, bahkan cadangan energi dapat memengaruhi perluasan modernisasi militer dan munculnya kerja sama dengan negara lain.

BACA JUGA  Sejarah Berdirinya Negara Pakistan; Negara Lahirnya Beragam Pemikiran Keagamaan

Selain minyak, terdapat pula air yang memengaruhi pembentukan geopolitik di Timur Tengah, seperti pembentukan kerja sama. Hal ini dikarenakan kerja sama fungsional di antara berbagai negara terkait isu-isu low-politics seperti air, dapat mendorong terbentuknya kepercayaan dan pemahaman bersama. Kerja sama tersebut telah terjalin antara Bahrain dan Arab Saudi, serta Israel dan Yordania.

Konflik Arab-Israel sebagai Permasalahan Geopolitik Energi

Persaingan dalam memperebutkan energi—utamanya berupa air—merupakan faktor pendorong terjadinya konflik Arab-Israel pada tahun 1960-an. Air kemudian menjadi topik utama dalam media Arab dan forum inter-Arab seperti Arab League Council (ALC), Arab Defense Council (ADC), Arab Chief-of-Staff Conference, dan Arab Summit Conferences yang dihadiri oleh para pemimpin negara-negara Arab. Mereka menganggap bahwa persaingan untuk menguasai Sungai Yordania, Litani, Orontes, Yarmuk, dan sungai prominen lainnya merupakan penyebab utama terjadinya perang Arab-Isarel.

Sungai Yordania memang memiliki posisi yang sangat sentral karena terbentuk oleh konvergensi atas tiga sungai yang terletak pada perbatasan Lebanon, yakni Banias di Suriah, Hatzbani di Lebanon, serta Dan di Israel. Kerja sama mengenai eksploitasi Sungai Yordania sesungguhnya telah dilaksanakan pad tahun 1930-an di antara Israel, Yordania, dan Suriah. Akan tetapi, perselisihan mulai muncul ketika negara-negara Arab tidak menyetujui rencana Israel—terutama National Water Carrier (NWC)—yang dirancang untuk membawa air dari Sungari Yordania dan Laut Galilee menuju Negev. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa isu-isu mengenai air semakin diperburuk oleh adanya tendensi negara untuk mendapatkan keuntungan geopolitik.

Pada tahun 1967, Israel lantas mengalami peperangan dengan Suriah dan Mesir karena negara-negara Arab tidak berhasil dalam mengalihkan hulu Sungai Yordania untuk berada di bawah kontrolnya. Selama peperangan berlangsung, Israel merebut Sungai Baniyas milik Suriah. Israel juga berhasil menghancurkan pondasi dan memberhentikan konstruksi dari dam berukuran besar di Mukheiba yang terletak pada Sungai Yarmuk. Pada Juni 1982, Israel bahkan menginvasi Lebanon sehingga memberikan peluang baginya untuk mengontrol Sungai Litani.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa geopolitik energi sering dikontestasikan di Timur Tengah. Ini dikarenakan sejumlah negara kawasan memiliki sumber energi yang melimpah, utamanya berupa minyak dan air. Akan tetapi, kekayaan tersebut justru menjadi bumerang karena tiap negara saling berlomba-lomba untuk menguasainya. Alhasil, konflik dan peperangan pun tidak dapat dihindari.

 

 

Indah Hikmawati
Anggota staf peneliti di Emerging Indonesia Project

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru