Shalat yang Mengajarkan Perdamaian dan Toleransi


0
66 shares

Tulisan ini sengaja dimulai dengan petikan ayat Al-Qur’an: Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk. (QS. al-Baqarah/2: 43).

Ada tiga perintah yang terekam dengan jelas pada ayat tersebut: melaksanakan shalat, membayar zakat, dan melakukan rukuk. Dari tiga perintah ini, saya hanya menggarisbawahi pada perintah pertama, yakni shalat. Karena rutinitas ibadah ini memiliki pesan tersirat yang dapat diteguk hikmahnya oleh siapa pun, termasuk orang Islam sendiri.

Shalat diawali dengan sebuah takbir yang populer dengan sebutan “Takbiratul Ihram“. Secara literal, takbir ini dipahami dalam arti “takbir yang mengharamkan sesuatu di luar shalat dilakukan saat shalat berlangsung.” Tidak hanya berhenti sampai di situ, makna frase ini berkembang, bahwa takbir ini mengajarkan pembacanya melupakan status sosial yang dibangga-banggakan di depan Tuhan, sehingga dia seharusnya menyadari semua manusia adalah sama-sama makhluk Tuhan yang lemah dan membutuhkan uluran tangan yang lain.

Selain itu, takbir diartikan “membesarkan”. Siapa yang dibesarkan? Secara tegas, yang dibesarkan hanya Allah semata, bukan juga selain-Nya. Karena, hanya Allahlah Dzat yang Maha Kuasa yang dapat melakukan segala hal sesuai dengan kehendak-Nya. Jika demikian, tidaklah patut bagian manusia menyombongkan diri, karena memiliki status sosial yang lebih mulia dibandingkan saudaranya. Karena, pada hakikatnya status yang disandang adalah titipan Allah yang harus dikelola dengan baik, disyukuri, tanpa dikotori dengan sikap arogan.

Jika manusia dilarang bersikap sombong, maka pelajaran yang dapat dipetik adalah perintah tawaduk. Tidak dibenarkan orang yang kaya meremehkan orang yang miskin. Bahkan, sangat tidak amoral mengganggu pihak tertentu yang berbeda pemikiran, karena klaim anutan dan mindset yang dianggap sesat, sehingga tindakan konyol ini merugikan orang lain dan mencoreng nama Islam.

Baca Juga:  Ayat-Ayat Puasa Dalam Al-Quran (6)

Selepas takbir, shalat dilanjutkan dengan membaca bagian dari surah Al-Qur’an, surah al-Fatihah. Dengan 7 ayat yang tercakup di dalamnya, terdapat dua sifat Tuhan yang menarik dijadikan renungan: ar-Rahman (Maha Pengasih) dan ar-Rahim (Maha Penyayang). Dua sifat Tuhan ini menggambarkan bahwa Tuhan Penyayang kepada makhluk-Nya tanpa membedakan status sosialnya, agamanya, dan sukunya. Semuanya sama di sisi Allah, seperti ditegaskan dalam firman-Nya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. al-Hujurat/49: 13). Hanya kualitas ketakwaan yang membedakan masing-masing manusia di sisi Allah.

Menghomati manusia tidak cukup hanya diukur dengan agamanya, apalagi status yang disandangnya. Gus Dur berpesan: “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Benar. Mengatasnamakan agama di tengah-tengah berdakwah adalah sikap yang keliru. Kualitas agama cukup dijadikan ukuran di depan Tuhan. Sementara, untuk mengukur kualitas diri di tengah manusia adalah seberapa banyak perbuatan baik yang telah dilakukan. Kebaikan ini tidak hanya terbatas pada agama Islam saja, melainkan pula mencakup agama-agama yang lain. Sangat tidak mungkin (jika enggan menyebut “mustahil”) agama yang mengendaki perbuatan ekstrem yang dikutuk oleh semua agama, karena ekstremisme adalah perbuatan picik dan tidak manusiawi.

Pada bagian yang lain, shalat juga dilengkapi dengan sujud yang dipahami dengan arti meletakkan dahi di atas bumi guna beribadah. Peletakan dahi di atas bumi mengisyaratkan sikap penyerahan diri manusia di hadapan Tuhannya, seakan-akan mengakui bahwa mereka lemah dan tiada sedikit kekuatan di hadapan-Nya. Seperti orang yang menyerah di hadapan musuh dengan bersujud sebagai simbol bahwa orang tersebut mengaku lemah dan kalah.

Baca Juga:  Antara Al-Quran dan Terjemahnya

Sebagai penutup shalat diakhiri dengan salam yang diucapkan, baik ke samping kanan maupun ke samping kiri. Salam ini menyampaikan pesan perdamaian dari sang pengucap kepada pendengarnya. Secara tidak langsung, keduanya adalah saudara yang saling bahu-membahu, saling menghormati, bahkan saling menjaga keselamatan masing-masing. Dengan diaplikasikannya pesan salam, perdamaian, akan selalu tercipta harmonisasi dan toleransi. Bukan tindakan kekerasan yang merugikan dan menghilangkan keselamatan saudaranya sendiri.

Maka, dengan pesan shalat yang tersirat di dalamnya, penting direnungkan kembali shalat yang sedang dilaksanakan: Apakah shalatnya hanya sebatas memenuhi syarat dan rukun syariat atau sampai menyentuh pesan-pesan bijak di dalamnya kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari?[] Shallallah ala Muhammad!


Like it? Share with your friends!

0
66 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Khalilullah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti Pendidikan Kader Mufasir (PKM) Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) Jakarta