27.6 C
Jakarta

Sesungguhnya Kelompok Radikal Dihinakan oleh Nafsunya Sendiri

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanSesungguhnya Kelompok Radikal Dihinakan oleh Nafsunya Sendiri
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Kelompok radikal sering menyuarakan pentingnya memerangi musuh-musuh Allah. Mereka mengajak untuk menumpas habis musuh tersebut dari muka bumi. Tidak sedikit orang yang terbuai dengan bujuk rayunya, sehingga jadilah mereka sama-sama radikal.

Memusuhi atau mengklaim orang lain musuh jelas tidak dapat dibenarkan. Musuh yang sebenarnya bukanlah orang atau sesuatu yang ada di luar diri mereka. Tetapi, nafsunya sendiri. Imam Al-Ghazali menyebutkan, “An-Nafs aduwwun mahbubun.” Maksudnya, nafsu adalah musuh yang dicinta.

Terlalu memusuhi orang yang tidak sepemikiran atau tidak seiman menjadikan seseorang radikal, baik secara pemikiran maupun secara perbuatan. Radikal secara pemikiran adalah langkah awal menjadi radikal. Kemudian, radikal secara perbuatan adalah tindakan nyata atas pemikirannya yang tertutup tersebut.

Radikal secara pemikiran mungkin hanya berbahaya kepada dirinya sendiri. Sedangkan, radikal secara tindakan bukan hanya membahayakan kepada dirinya sendiri, tetapi kepada orang lain. Buktinya, tindakan bom bunuh diri yang menewaskan sang pelaku dan orang lain. Sungguh biadab!

Bom bunuh diri jelas adalah aksi terorisme. Perbuatan ini jelas bukanlah sesuatu yang diajarkan dalam Islam. Islam mengajarkan umatnya menjaga tatanan alam agar tidak rusak. Sementara, kelompok terorisme merusak alam. Ini merupakan bentuk perbuatan yang bertentangan dengan spirit agama Islam.

Menjadi radikal atau teroris menjadi bukti bahwa dia telah dikalahkan oleh nafsunya sendiri. Kelompok radikal terlalu memperhatikan ideologi orang lain. Sayangnya, mereka lupa memperhatikan dirinya sendiri, apakah sudah benar atau salah. Mereka merasa paling benar, karena nafsunya menutup hatinya melihat kekeliruan dirinya sendiri.

BACA JUGA  Hari Kesaktian Pancasila dan Isu PKI yang Tak Kunjung Selesai

Seandainya kelompok radikal bisa mengendalikan nafsunya, maka mereka tidak bakal tersungkur di jalan yang hina. Sebab, nafsu akan menghinakan seseorang yang diperbudaknya. Maka dari itu, penting mengendalikan hawa nafsu. Satu-satunya cara adalah memeranginya. Perang yang sesungguhnya adalah melawan hawa nafsu.

Diceritakan dalam suatu riwayat. Nabi beserta sahabatnya baru pulang dari peperangan. Para sahabat berkesan, bahwa perang yang baru saja selesai termasuk perang yang paling besar semasa hidup Nabi. Tapi, Nabi menyangkal, bahwa perang tersebut masih kecil. Sahabat kaget. Nabi menyebutkan, bahwa perang yang paling besar adalah melawan hawa nafsu.

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa perang melawan hawa nafsu adalah perang yang sesungguhnya. Tidak heran jika Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an menegaskan selepas terbebas dari masalah yang dituduhkan kepadanya, bahwa ia belum terbebas dari masalah hawa nafsu. Karena, nafsu itu termasuk sesuatu yang terus mengajak manusia kepada jalan keburukan kecuali nafsu yang mendapat rahmat Allah. Nafsu yang dirahmati Allah akan mengantarkan manusia pada jalan kebaikan.

Sebagai penutup, kelompok radikal seharusnya memerangi nafsunya sendiri sebelum memerangi orang lain. Karena, hawa nafsu adalah musuh yang sebenarnya. Kelompok radikal akan semakin hina jika mereka tidak bertobat. Bertobatlah sebelum terlambat.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru