29.6 C
Jakarta

Serial Pengakuan Mantan Teroris (XLVII): Yunita Dwi Fitri, Mahasiswi yang Lolos dari Cuci Otak Kelompok Radikal

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Mantan Teroris (XLVII): Yunita Dwi Fitri, Mahasiswi yang Lolos dari...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Sebut saja saya Yunita—nama lengkapnya Yunita Dwi Fitri. Saya punya cerita yang sepertinya penting dibagikan kepada teman-teman. Cerita ini tentang masa lalu saya yang hampir menyeret saya kepada jebakan terorisme. Syukurnya, Tuhan masih menjaga saya, sehingga saya selamat sampai sekarang.

Saat saya kuliah di Bandung, tiba-tiba saya dihampiri seorang perempuan. Dia tidak pakai jilbab, sehingga terbersit di pikiran saya, bahwa perempuan itu bukanlah orang yang pernah nyantri di pesantren.

Perempuan itu minta tolong mencarikan tempat kos. Tapi, saya ajak dia mampir di pesantren. Sayang, dia menolak, bahkan tidak mau kenalan dengan pengasuh atau kyai pemilik pondok itu. Sampai di situ, saya merakan sedikit keanehan. Singkat cerita, saya ajak ke kos saya.

Saat melepas lelah di kos, dia menanyakan dengan pertanyaan yang sedikit islami banget, “Suka baca Al-Qur’an?” Saya menjawab kalo saya sendiri sendiri belajar tafsir Al-Qur’an di perkuliahan. Yang jelas, saya gemar baca Al-Qur’an. Begitu belajar tafsir, tentu dihadapkan dengan kalamullah itu.

Mendengar jawaban saya, perempuan tersebut menawarkan untuk belajar dengan temannya tentang tafsir Al-Qur’an pada lain waktu. Saya mengiyakan saja. Hitung-hitung sharing atau nambah ilmu. Siapa tahu teman yang ditawarkan dapat mengantarkan saya semakin memahami tafsir.

Suatu hari perempuan itu beserta temannya datang ke kos saya. Bilangnya mereka mau diskusi tafsir Al-Qur’an. Temannya memakai jilbab. Dia duduk dengan sopan. Kata-katanya santun. Dia kemudian membacakan beberapa ayat Al-Qur’an dan menjelaskannya, bahwa semua manusia harus berjihad dalam segala kesempatan. Jihad itu membunuh orang kafir.

Pada diskusi itu saya seakan tidak diberi kesempatan untuk bertanya, apalagi membantah. Pernyataan tentang jihad itu seakan menyuruh saya melakukannya, tapi pikiran saya meragukannya: Masa begitu?!  Ketidaksetujuan ini semakin membuat mereka mencari cara agar saya terperangkap dalam jebakan terorisme. Perempuan itu mengajak saya belajar tentang kajian jihad pada lain waktu. Saya mengikuti, sehingga kemudian saya diajak masuk ke dalam ruangan yang dikunci dan saya merasakan ketakutan. Saya takut diapa-apain.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Eks-HT (XLVIII): Mantan HT Ayik Heriansyah Bongkar Modus HT untuk Membohongi Kyai-Kyai NU

Perempuan itu menganalogikan jihad dengan mobil yang masuk jurang dan apel busuk. Mobil yang masuk jurang jelas karena sopirnya yang tidak pandai mengemudi. Begitu pula, apel busuk yang ditaruh di tengah apel bagus akan mempengaruhi apel-apel yang lain. Analogi ini menunjukkan bahwa pengemudi yang tidak becus dan apel busuk itu sama dengan orang kafir yang dapat mempengaruhi orang muslim. Makanya, orang kafir itu harus dibunuh.

Otak saya merasa dicuci pada saat pertemuan itu. Untungnya saya menolak dalam benak. Saya coba menceritakan peristiwa itu kepada teman-teman saya yang lain. Dari situ, saya mendapatkan pencerahan untuk tidak lagi berteman dengan perempuan-perempuan yang telah mengajaknya menjadi teroris. Mereka, kata teman saya, termasuk anggota Negara Islam Indonesia (NII). Bahkan, dalam sebuah berita, teroris yang menyerang Mapolda Riau adalah anggota NII. Naudzu billah!

Melalui cerita ini, paling tidak kita lebih hati-hati berteman dengan orang yang sedikit-sedikit ngajak berjihad, apalagi jihadnya untuk membunuh orang kafir. Karena, jihad yang sebenarnya adalah melawan hawa nafsu yang menjerumuskan kita pada paham teroris.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini diolah dari cerita Yunita Dwi Fitri yang dimuat di BBC News Indonesia

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru