25.4 C
Jakarta

Serial Pengakuan Mantan Teroris (XLVI): Eks-Teroris Munir Pernah Bertugas sebagai Penggalang Dana Terorisme

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Mantan Teroris (XLVI): Eks-Teroris Munir Pernah Bertugas sebagai Penggalang Dana...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Warga Indonesia yang terpapar paham radikal berwajah terorisme tidaklah sedikit. Salah seorang yang pernah jadi korban, meski sekarang sudah bertobat, adalah Munir. Ia adalah anak buah teroris Bahrun Naim.

Ceritanya, Munir bertugas sebagai penggalang dana untuk kepentingan terorisme. Dana yang dikumpulkannya digunakan oleh Bahrun Naim untuk mengebom Polres Surakarta pada tahun 2016 lalu.

Korban dari tindakan Bahrun Naim tersebut adalah Ipda Bambang yang matanya terluka. Tak lama, Munir tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Di balik jeruji besi itu Munir merenungi segala perbuatan keji yang telah dilakukan.

Di penjara Munir disadarkan dengan mata bapaknya yang luka berat karena kenak sesuatu. Luka itu yang membuat Munir semakin berpikir bahwa itu terjadi bisa jadi karena perbuatannya yang dilakukan kepada Ipda Bambang.

Munir menyesali perbuatannya. Ia bertekad bulat untuk bertobat. Dan, suatu saat akan menemui Ipda Bambang yang mata terluka. Jika mata itu belum sembuh, Munir siapa diambil matanya untuk digantikannya. Namun, saat pertemuan terjadi, mata Ipda Bambang sudah sembuh.

Bambang mengikhlaskan segala yang terjadi pada dirinya, apalagi didorong oleh motivasi keluarganya untuk bersabar atas musibah yang menimpa. Ipda Bambang sudah mengikhlaskan sejak kejadian itu. Apalagi, semenjak pertemuan antara Munir dan Ipda Bambang berlangsung, Ipda Bambang semakin ikhlas.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Pejuang ISIS (XLX): Perjalanan Ideologis Dwi Dahlia Susanti, Lulusan S2 UI Terlibat dalam Pendanaan Terorisme

Di tengah pertemuan itu Munir menyampaikan pesan sebagai bentuk deradikalisasi. Katanya, masyarakat, khususnya anak muda hendaknya waspada terhadap pengaruh terorisme. Apalagi sekarang zaman teknologi masyarakat lebih waspada terpapar. Peduli pada diri sendiri itu jauh lebih penting.

Masyarakat hendaknya lebih terbuka kepada orang lain, lebih-lebih kepada keluarganya sendiri. Karena, keluarga yang buruk akan sangat berdampak kepada mindset anak sehingga terpapar terorisme. Masyarakat hendaknya juga lebih waspada terhadap berita hoaks dan brainwash kelompok teroris. Karena itu, pendekatan keluarga dan lingkungan jauh lebih baik untuk menyelamatkan.

Sebagai penutup, penyesalan Munir dan keikhlasan Ipda Bambang dapat dijadikan ibrah bagi siapapun. Bahwa terorisme itu nyata adanya, jadi harus lebih berhati-hati. Karena, menyepelekan dikhawatirkan terpapar.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita Munir dan Ipda Bambang yang dimuat di media online Borobudurnews.com

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru