28 C
Jakarta

Serial Pengakuan Mantan Teroris (XIII): Hendi Suhartono Mantan Pelaku Bom Buku

Artikel Trending

Terorisme memang isu yang sudah usang. Dugaan kita, isu ini tidak bakal mampu hidup dari zaman ke zaman, apalagi di zaman digital ini. Sayang, dugaan itu meleset. Terorisme terus tumbuh, bahkan menjerat siapapun, mulai dari orang awam sampai akademisi.

Seorang akademisi yang terjerat kasus terorisme adalah Hendi Suhartono. Hendi adalah alumnus kampus ternama dan memang anti-radikalisme UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hendi menempuh jurusan yang secara akal sehat mampu membentengi diri dari paham radikal, yaitu Jurusan Filsafat.

Entahlah, Hendi terjebak dalam propaganda terorisme. Hendi mulanya berteman dengan seseorang yang bernama Febi. Hendi tidak langsung terpengaruh paham radikal ini. Hendi dengan pengetahuan filsafatnya menolak terus doktrin terorisme yang disampaikan temannya, sampai temannya sendiri kebingungan mempengaruhinya. Entah kenapa begitu Hendi melihat film pembantaian Palestina, tiba-tiba Hendi merasa kasihan dan saat itulah dia mulai terpengaruh untuk masuk di dalam kubangan terorisme.

Ketika paham radikal mulai menguasai pikirannya, Hendi melontarkan sebuah pertanyaan aneh sebagai bentuk rasa iba terhadap pembantaian Palestina: “Apa yang dapat saya bantu?” Lebih dari itu, Hendi juga dikuatkan dengan sebuah hadis yang maksudnya kurang lebih adalah muslim yang satu dengan yang lain saling bersaudara. Dari situlah, Hendi mengizinkan temannya untuk merakit bom di rumahnya. Bom itu dirakit jam 2 malam.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Mantan Teroris (XII): Arif Budi Setyawan, Famili Amrozi, Menjadi Korban Terorisme

Tidak kepikiran, perakitan bom ini nantinya akan berurusan dengan pihak kepolisian. Sesuatu yang terpikir pada waktu itu adalah keselamatan dari ledakan bom. Teman Hendi memang pintar buat bom. Hendi hanya menyediakan tempat dan bahan. Terus, Hendi belum tahu terget pengebomannya siapa.

Teman Hendi sudah punya target dari pengeboman itu. Target ini meliputi Ulil Absar Abdallah, Ahmad Dhani, Pak Gories Merre (BNN), dan Pak Yapto (pemuda Pancasila). Bom itu diletakkan dalam buku yang dikirimkan kepada target yang dituju. Sehingga, disebutlah dengan “bom buku”.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Mantan FPI (XIV): Gus In'am dan Mas Bisri Terjebak Kebohongan FPI

Bom buku itu akhirnya meledak. Dari sini Hendi beserta temannya masih mau buat bom lagi dengan versi yang lain. Sayang, setelah itu Hendi ditangkap oleh polisi. Hendi mendekam di balik jeruji besi selama tujuh tahun. Di dalam penjara Hendi satu blok dengan orang ISIS. Karena tidak baiat ke ISIS, Hendi terkucilkan dan pernah tidak dikasih lauk untuk makan.

Sekarang Hendi sadar dan bertaubat dari paham radikal itu. Hendi tidak mau mengulangi lagi. Karena, taubat ini termasuk taubat nasuha, bentuk penyesalan yang sesungguhnya. Indonesia sekarang begitu sangat berarti di mata Hendi. Hendi membenci terorisme.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru