26.8 C
Jakarta

Serial Pengakuan Mantan Teroris (IV): Sri Puji Mulyo Korban Terorisme

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Saya, Sri Puji Mulyo Siswanto terlahir di Semarang. Saya hidup di tengah keluarga dari enam bersaudara. Saya termasuk yang paling bungsu. Keluarga saya pengagum Soekarno, sang proklamator pertama Republik Indonesia. Bahkan, saya hidup seperti masyarakat pada umumnya. Saya belajar dari TK sampai SMP di tengah didikan ajaran Islam ala Muhammadiyah. Sedang, SMA saya belajar di swasta umum.

Selepas SMA saya aktif di masjid. Kegiatan yang digelar di masjid itu berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi yang dibangun oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. NU ini dikenal sebagai organisasi yang menjangkau level masyarakat menengah ke bawah, sehingga NU disebut sebagai organisasi tradisionalis. Hal ini berbeda dengan Muhammadiyah yang menjangkau masyarakat menengah ke atas dan memiliki kecenderungan cara berpikir yang modernis. Kegiatan di masjid tersebut, salah satunya, baca Yasin, dan lain-lain.

Hari-hari saya memang tidak sepenuhnya dihabiskan di masjid yang berlatar belakang NU. Namun, saya juga aktif di sebuah kajian keislaman, sehingga di dalam kajian ini saya mulai diperkenalkan dengan ajaran-ajaran Islam yang menurut saya baru. Kajian ini menjadi berbeda dibandingkan sebelumnya, karena penekanan kajiannya lebih kepada persoalan hukum dan akidah. Sehingga, semangat beribadah saya semakin terpacu dibandingkan sebelum-sebelumnya. Maka, saya terdorong untuk lebih mendalami kajian keislaman yang baru ini.

Seiring perjalanan waktu terjadilah konflik Ambon. Kemudian saya mulai terpanggil untuk membela saudara-saudara saya. Saya berangkat melalui Pelabuhan Tanjung Perak. Sampai di Ambon kurang lebih dua bulan saya mengenal beberapa orang yang akhirnya mengenalkan saya pada sebuah jaringan Noordin M. Top dan Dr. Azhari. Tahun 2005 akhir saya kenak kasus dan dipenjara karena menyembunyikan informasi pencarian kedua teroris ini di rumah saya sendiri. Saya dibebaskan pada tahun 2010. Tapi pertengahan 2010 saya kenak kasus lagi karena menyembunyikan teroris Abu Tholut.

Saya mulai menyadari bahwa perbuatan yang telah mengantarkan saya tersungkur di balik jeruji besi adalah sesuatu yang keliru. Saya sadar semua ini karena mengikuti kegiatan deradikalisasi di lapas ketika saya dihukum. Saya yang mulanya beranggapan kegiatan ini berbahaya, ternyata akhirnya tidak seperti yang saya bayangkan. Kegiatan deradikalisasi itu sangat membantu saya kembali ke jalan yang benar. Kegiatan deradikalisasi tidak gampang menyesatkan, mengkafirkan, dan mengthaghutkan orang lain. Sehingga, saya sadar bahwa Islam itu bisa disampaikan dengan cara yang rahmah.

Ketika saya kembali ke masyarakat, saya tidak langsung diterima. Tapi, masyarakat mengekspresikan penolakannya lewat cara-cara yang halus. Semisal, saya diistirahatkan untuk tidak menjadi imam di musalla kampung saya, saya dibekukan untuk tidak menjadi takmir masjid, dan seterusnya. Saya menerima semua kenyataan pahit ini. Karena, penolakan masyarakat tentunya timbul karena kekhawatiran mereka yang begitu besar terhindar dari pengaruh paham radikal dan teroris. Saya terus berpikir dan bangkit agar masyarakat dapat menerima saya kembali.

Ketua RT Semarang Hendi Kartika tiba-tiba mengangkat saya menjadi ketua takmir masjid. Keputusan Pak RT mengakibatkan suara masyarakat pecah: ada yang setuju dan tidak setuju. Pak RT akhirnya menjelaskan, bahwa saya sekarang tidak seperti saya yang dulu. Saya sudah bertaubat dari paham radikal yang telah meresahkan banyak masyarakat, termasuk keluarga saya sendiri. Saya menyesal sudah membuat tanah kelahiran saya malu. Saya harus bisa membuktikan kepada masyarakat, bahwa saya benar-benar taubat (taubah nashuhah).

Saya terima amanah yang diberikan Pak RT, sehingga masjid yang saya bina menjadi berkembang. Termasuk juga saya membangun ekonomi masyarakat dengan peternakan lele. Masyarakat mulai berdatangan untuk bekerja sama membangun bisnis bersama. Saya merasakan kebahagiaan yang tak terhingga melihat orang lain bahagia. Teringat pesan Jack Ma, “If you make other happy, you will be happy.” Maksudnya, jika kamu dapat membuat orang lain bahagia, maka kamu bakal bahagia. Ternyata bahagia itu sederhana: memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini diolah dari cerita Sri Puji Mulyo yang disampaikan di akun YouTube BIN Official RI

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...