31.5 C
Jakarta

Serial Pengakuan Mantan Napiter (XLXVII): Eks-Napiter Hendro Memberdayakan Mantan Teroris dari Bisnis Telur Puyuh Hingga Deradikalisasi Napiter

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Mantan Napiter (XLXVII): Eks-Napiter Hendro Memberdayakan Mantan Teroris dari Bisnis...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Paham yang paling membahayakan di dunia ini adalah terorisme. Paham ini melebihi dari paham radikal. Jika radikalisme hanya berkutat pada mindset atau cara berpikir saja, maka terorisme bukan hanya menyerang mindset, melainkan juga menyerang perilaku seseorang untuk berbuat brutal dengan melakukan tindakan kriminal berupa pengeboman tempat-tempat tertentu atau bom bunuh diri.

Paham teror ini sudah tersebar di mana-mana. Termasuk di Indonesia. Sudah tidak asing lagi pengeboman dan bom bunuh diri yang merusak banyak fasilitas dan membunuh jiwa. Sebut saja, bom bunuh diri di Surabaya, Makassar, atau pengeboman di Bali. Dan masih banyak yang lainnya. Beberapa tindakan teror jelas bertentangan dengan spirit agama yang mencintai perdamaian.

Salah seorang warga negara asal Indonesia yang terpapar terorisme adalah Hendro. Dia mulai terpapar radikalisme tahun 2011 ketika giat menghadiri tabligh akbar di sebuah masjid di Bekasi. Saat itu, ia mengaku mencapai titik jenuh dalam hidupnya dan ingin berubah menjadi pribadi yang alim, setelah sebelumnya lalai beragama. Setelah beberapa kali ikut serta, dia mengaku didekati salah seorang jemaah yang menawarinya bergabung ke dalam pengajian internal Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), salah satu kelompok yang menggelar tablig akbar di masjid itu.

Ketika bergabung dengan JAT Hendro menerima ajaran kebencian dan permusuhan terhadap negara hingga kewajiban untuk berjihad. Meski begitu, dia pada akhirnya tidak berbaiat kepada JAT. Dia lebih memilih bersumpah setia kepada ISIS dan bergabung dengan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Dia tergerak ingin melakukan aksi amaliyah, alias mengorbankan diri dalam serangan teror, kemudian dijadikan penanggung jawab logistik MIT, di mana salah satu tugasnya adalah memasok senjata dan amunisi ke Poso dan Filipina.

Pada 15 Januari 2016, sehari setelah teror bom Thamrin, Hendro dibekuk dan dikenai pasal pendanaan terorisme. Dia divonis bersalah dengan hukuman penjara 6 tahun 2 bulan. Sekarang, setelah bebas, dia mencoba memberdayakan para eks-napiter yang sudah kembali ke pangkuan NKRI untuk bekerja dan berbaur kembali di masyarakat. Salah satu bentuk pertobatan Hendro dapat dilihat dari dua sisi: Pertama, membuka usaha ternak burung puyuh. Dari enam ribu ekor burung puyuh yang diternak, yayasannya memanen 35-40 kilogram telur puyuh setiap hari, yang dijual dengan harga Rp30 ribu per kilogram. Beberapa warga setempat juga dipekerjakan untuk mengurus ternak.

Pendapatan dari usaha puyuh petelur itu digunakan untuk membiayai kegiatan operasional yayasan yang Hendro bangun bersama eks-napiter yang lain yang diberi nama Yayayasan DeBintal, termasuk membayar gaji pegawai, kebutuhan listrik dan sambungan internet. Dia cukup senang unit usaha tersebut berdampak pada perkembangan ekonomi lingkungan sekitar, termasuk bagi Wartimah, yang memasok telur ke hampir 20 warung.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Mantan ISIS (XLVIII): Mantan Pendukung ISIS Haris Amir Falah Taubat Setelah Dipenjara

Kedua, Hendro dan kawan-kawan juga membantu eks-napiter mengurus dokumen kependudukan ketika mereka bebas dari penjara. DeBintal juga menyediakan fasilitas rumah singgah bagi keluarga napiter dan eks-napiter yang ingin menjenguk maupun menjemput mereka dari lembaga pemasyarakatan di wilayah Jabodetabek. Yayasan itu pun diperbolehkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan untuk menjadi penjamin pembebasan bersyarat para narapidana. Hal itu terjadi ketika keluarga dan kerabat napiter tidak berkenan menjadi penjamin.

Yayasan DeBintal disebut Hendro juga membantu melakukan kegiatan deradikalisasi terhadap para napiter yang masih menganut ideologi radikal dan masih berhubungan dengan jaringan terorisme. Upaya itu sudah dilakukan di Lapas Cipinang, Lapas Cikeas dan Lapas Nusakambangan. Berdasarkan pengalamannya, pendekatan yang dilakukan oleh mantan teroris berpeluang lebih besar membuka hati para napiter, karena adanya kesamaan pengalaman.

Deradikalisasi sendiri dilakukan secara bertahap, kata Hendro, dari yang sebelumnya seorang napiter menganut paham terorisme, kemudian diturunkan menjadi radikalisme, intoleransi, sebelum tiba di titik moderat. Dalam prosesnya, mereka dipaparkan pada berbagai referensi keagamaan yang lebih moderat, yang berada di luar ideologi radikal yang mereka yakini, hingga mungkin bersedia mengakui kedaulatan NKRI.

Setelah bersumpah setia kepada Pancasila pun, para napiter perlu terus dibina dan dibimbing agar tidak kembali jatuh ke dalam jaringan teroris. Karena, eks-napiter itu rentan terpapar terorisme kembali selama ada jaringan teroris menawari mereka jaminan berupa tempat tinggal, biaya sekolah anak, keperluan istri, hingga uang bulanan. Belum lagi ancaman cerai dari pasangan mereka yang masih menganut paham radikal atau menerima tekanan dari jaringan apabila mereka bersikeras kembali ke NKRI.

Sebagai penutup, pengalaman Hendro bergabung dengan kelompok teroris jelas bukan pengalaman yang membahagiakan. Terjebak di dalam paham itu akan dapat merenggut masa depan. Buktinya, banyak waktu Hendro yang digunakan pada sesuatu yang tidak bermanfaat selama gabung dengan kelompok teroris. Dan, terbukti ketika bertobat dan meninggalkan terorisme hidup Hendro jauh lebih bermanfaat semisal memperbaiki ekonomi masyarakat dan melakukan deradikalisasi.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita eks-napiter Hendro yang dimuat di media online voaindonesia.com

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru