30.3 C
Jakarta

Serial Pengakuan Mantan Napiter (XLXIII): Edi Santoso, Mantan Teroris Lampung yang Ingin Kembali Jualan Soto

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Mantan Napiter (XLXIII): Edi Santoso, Mantan Teroris Lampung yang Ingin...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Terorisme merupakan paham yang membahayakan, baik kepada si pelaku maupun kepada orang lain. Bukankah sudah banyak pelaku bom bunuh diri yang tewas mengenaskan? Begitu pula, akibat pengeboman kelompok teroris banyak korban yang berjatuhan?

Bahaya terorisme tidak dapat didispensasi lagi. Siapapun pelakunya maka ia harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang ia lakukan. Hukuman yang setimpal tentu yang membuatnya jera. Jika mengulangi pagi baru mendapatkan hukuman mati.

Paham teror ini sudah tersebar di negeri ini, tak terkecuali di Indonesia. Salah seorang yang pernah terpapar paham membahayakan ini adalah Edi Santoso. Edi adalah warga Panjang, Bandar Lampung. Ia terpapar paham radikalisme sejak 2012 silam.

Edi mengaku, mendekam di dalam tahanan selama 7,8 tahun membuatnya sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini bukanlah sebuah jalan kebaikan. Ia bahkan mengaku apa yang diperbuatnya adalah salah dia sendiri. Ia melihat sesuatu secara parsial.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Mantan Napiter (XLX): Eks-Teroris Sufyan Tsauri Merasa Kesulitan Usai Taubat Kembali ke NKRI

Kini, Edi fokus dengan rencananya untuk kembali menekuni profesi yang sempat ia tinggalkan, yakni berdagang soto ayam. Pertobatan ini justru membukakan masa depan Edi semakin cemerlang. Ia akan menjadi pembisnis yang banyak diminati produknya oleh pelanggannya.

Di sisi lain, Edi mengatakan, tidak mudah untuk menghilangkan stigma negatif sebagai mantan teroris. Oleh sebab itu, ia bersama dua rekannya, Anton Sujarwo dan Solihin membentuk sebuah organisasi bernama Komunitas Mangkubumi Putra Lampung.

Organisasi yang dibentuk oleh Edi beserta kedua rekannya bertujuan untuk menjembatani mantan-mantan napiter yang ingin bergabung dan memberikan kesan yang baik kepada masyarakat. Niat baik ini mendapat respon positif dari Polda Lampung.

Edi berpesan agar masyarakat tidak mudah terdoktrin paham radikalisme, terutama melalui media sosial. Masyarakat hendaknya memperbanyak sharing dengan yang sudah berpengalaman, supaya tidak terjebak dalam jerat terorisme.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita mantan napiter Edi Santoso yang dimuat di media online Lampost.co

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru