31.1 C
Jakarta

Serial Pengakuan Mantan ISIS (XLXXI): Eks-ISIS Nada Fedulla Harus Merelakan Cita-citanya sebagai Dokter saat Sang Ayah Memboyongnya ke Suriah

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Mantan ISIS (XLXXI): Eks-ISIS Nada Fedulla Harus Merelakan Cita-citanya sebagai...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Indonesia dikenal sebagai negara pluralis. Di dalamnya terdapat ragam perbedaan, mulai perbedaan pemikiran sampai perbedaan keyakinan (agama). Perbedaan ini bukan biang terjadinya perpecahan, melainkan terwujudnya persatuan.

Mirisnya, perbedaan yang terbentang di tubuh Indonesia dipaksa untuk diganti oleh kelompok radikal berwajah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Bagi ISIS, negara yang benar bukan negara berbasis Demokrasi, tapi negara Islam yang menggunakan hukum syariat Islam.

Doktrin ISIS berbahaya itu mulai digemari oleh segelintir orang di Indonesia. Meski, banyak juga korban yang sebenarnya tidak tahu latar belakang organisasi teroris ini. Korban yang saya maksud dalam tulisan ini adalah Nada Fedulla.

Nada adalah gadis berkebangsaan Indonesia. Dia harus merelakan cita-citanya sebagai dokter saat sang ayah memboyongnya ke Suriah sejak 2015. Ayahnya juga membawa anggota keluarga mereka yang lain, termasuk neneknya.

Masa depan Nada hancur seketika. Dia tidak bisa menolak. Karena, segala keputusan menjadi hak veto ayahnya. Apalagi, dia sendiri tidak tahu apakah jalan yang dipilih ayahnya dapat membawa dia ke masa depan yang jauh lebih baik. Dia hanya berpasrah saja.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Mantan ISIS (XLXXVII): Mantan ISIS Syahrul Munif Cerita Pengalaman Gelap di Suriah

Sejak hijrah ke Suriah, Nada harus hidup di tengah para militan ISIS. Dia pun mengaku pernah melihat pembantaian yang dilakukan di jalanan. Peristiwa tragis ini menjadi horor selama hidup. Karena, dia belum pernah melihat peristiwa pembantaian di Indonesia.

Nada mulai sadar bahwa pilihan ayahnya untuk berjuang di Suriah termasuk pilihan yang sangat keliru. Dia hanya pasrah. Tidak bisa memberontak. Lari sekali pun sangat sulit. Karena, Suriah dikuasai tentara ISIS yang sangat ketat dan kejam. Nyawa taruhannya jika menentang mereka.

Nada tidak tahu harus melakukan apa. Di situlah dia tawakal. Dia yakin Allah itu tidak tidur. Tuhan Penguasa semesta ini pasti mendengar jeritan hati hamba-Nya yang lemah dan terkapar. Tuhan pasti memberikan jalan terbaik untuk mengantarkan pulang ke Indonesia.

Kini Nada dan keluarganya harus bertahan di kamp pengungsian al-Hol, Suriah Utara, sambil menunggu keputusan repatriasi dari pemerintah Indonesia. Terlunta-lunta di negara lain, ia pun berharap bisa pulang ke Indonesia dan mendapat maaf.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita Nada Fedulla yang dimuat di media online Akurat.co

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru