31.8 C
Jakarta

Serial Pengakuan Mantan ISIS (C-VII): Hoda Muthana, Eks-ISIS yang Pernah Dinikahi Pejuang ISIS

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Mantan ISIS (C-VII): Hoda Muthana, Eks-ISIS yang Pernah Dinikahi Pejuang...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Perkembangan media sosial telah membantu banyak orang menyampaikan kepentingannya. Sekedar ketik tombol ponsel dan klik, semua pesan sudah tersampaikan.

Meski segala menjadi mudah, kehadiran media sosial patut diwaspadai. Karena, tidak semua informasi yang berseliweran di media sosial dapat diterima.

Informasi di media sosial yang patut diwaspadai atau dihindari adalah paham radikal. Paham ini berbahaya terhadap masa depan bangsa. Penyebaran paham radikal melalui banyak sisi dan salah satunya organisasi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Seorang warga asing yang terpapar doktrin ISIS adalah Hoda Muthana. Dia adalah Putri imigran Yaman di Amerika Serikat (AS). Dia dibesarkan dalam keluarga konservatif yang tak membolehkannya berpesta, pacaran, atau punya ponsel. Namun, begitu lulus SMA, barulah ayahnya menghadiahi ponsel.

Muthana mengenal ISIS dari gawai pintar itulah ia, bahkan terkagum-kagum pada konsep mereka. Kemudian, dia diajak bergabung dengan ISIS oleh seorang kenalan online-nya.

Ajakan seorang kenalan lewat ponsel itu berhasil mendorong Muthana masuk ke Suriah dan di sanalah tiga kali Muthana dinikahi pejuang ISIS. Dia juga aktif menyebar propaganda terorisme lewat Twitter. Setelah kehilangan 2 suaminya di medan perang, ia mulai rindu pada keluarganya.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Eks Napiter (C-LI-XXXVII): Aksi dan Dukungan terhadap Eks Napiter Salsa Bangkit dari Stigma Teroris

Karena daerah kekuasaan ISIS terus-menerus digempur Muthana harus hidup berpindah-pindah. Saat ISIS sudah terpojok, Muthana melarikan diri dan menyerah pada tentara AS.

Di kamp pengungsian al-Hawl Muthana menyesali segalanya dan ingin pulang ke AS bersama putranya. Namun, paspornya sudah dibakar saat bergabung dengan ISIS.

Terlebih lagi, pemerintahan Obama mencabut paspor Muthana dan pemerintahan Donald Trump tak mengizinkan kepulangannya. Pasrah dengan keadaannya, Muthana rela diadili dan diawasi setiap waktu oleh otoritas, asalkan bisa pulang ke AS.

Sebagai penutup, kisah Muthana menjadi pelajaran berharga bagi kita semua bahwa ISIS adalah organisasi radikalis yang berbahaya terhadap masa depan bangsa. Muthana merasakan penyesalan karena masa depannya hancur gegara ISIS.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita Hoda Muthana yang dimuat di media online Akurat.co

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru