29.6 C
Jakarta

Serial Pengakuan Mantan HTI (XlXII): Mantan HTI yang Memilih Jadi Banser Demi NKRI

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Mantan HTI (XlXII): Mantan HTI yang Memilih Jadi Banser Demi...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Nahdlatul Ulama (NU) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan dua organisasi yang sangat berseberangan dan bahkan tidak bakal ketemu sampai kiamat. Keduanya memiliki ideologi yang berbeda. NU dikenal sebagai organisasi moderat yang memiliki nasionalisme yang tinggi. Sebaliknya, HTI diketahui sebagai organisasi radikal yang sampai detik ini memusuhi negara bangsa semisal Indonesia.

Pengaruh NU dan HTI sama-sama kuat di tengah masyarakat. Pengaruh NU diperlihatkan dengan beberapa gerakan masif. Sebut saja, Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang didukung dengan Banser yang setia membela NKRI dari serangan paham radikal HTI dan semacamnya.

Sementara, HTI, meski telah dibubarkan secara formal, masih aktif mengumpan jala untuk mengajak masyarakat yang setia pada NU berpindah-haluan ke HTI. Masyarakat dibohongin bahwa Indonesia yang dibela NU adalah negara kafir yang dikutuk oleh Tuhan, karena di sana tidak menggunakan hukum Allah.

Banyak masyarakat yang terbuai dengan bujuk rayu HTI dengan janji manisnya akan menghidupkan kembali negara Islam yang persis seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Salah seorang yang pernah terpapar paham HTI adalah seorang pemuda asal Cileunyi, Kabupaten Bandung. Ia mulanya pernah bergabung dalam kelompok HTI. Meski, sekarang sudah hijrah dan memilih gabung dengan NU.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Mantan HT (XLIX): Ed Husain, Mantan HT Membongkar Kebusukan Sistem Khilafah Islamiyyah

Pilihan hijrah dari HTI ke NU tentu karena mendapatkan hidayah, sehingga mempu memilih mana yang benar dan mana yang salah. HTI yang memusuhi negara jelas adalah organisasi yang keliru dan harus dihindari. Jika tetap di HTI, maka kehancuran yang akan terjadi. Kesadaran pemuda tadi persis seperti yang dirasakan Sayyidina Umar bin Khattab yang mulanya membenci agama Nabi kemudian ia menjadi pengikutnya.

Hidayah itu menyadarkan pemuda itu bahwa ajaran HTI tidak layak dihadirkan di Indonesia. Buktinya, sampai sekarang ajaran mereka tidak mendapat ruang yang leluasa. Organisasi keagamaan ini bagai buronan yang tidak mendapat ketenangan hidup. Salah satu ajaran HTI yang sampai detik ini hanyalah sebatas angan adalah pendirian Khilafah sebagai sistem yang digadang-gadang akan menggantikan sistem Republik-Demokratis di Indonesia.

Sayangnya, ajaran HTI tersebut bagai mimpi belaka. Kekecewaan pengikutnya tentu tidak sedikit. Salah satunya si pemuda tadi yang memilih keluar dari HTI dan memilih bergabung dengan NU. Saking kecewanya dengan HTI, pemuda ini berjanji tidak akan kembali (murtad) ke organisasi radikal ini. Ia berikrar di atas materai akan tetap setia membela NKRI sepanjang masa.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini terinspirasi dari cerita mantan HTI asal Bandung yang dimuat di media online Putaran.id

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru