31.7 C
Jakarta

Serial Pengakuan Eks Napiter (XLXV): Eks Napiter Joko Priyono Pernah Bentuk Neo Jamaah Islamiyah untuk Luruskan Pemahaman Terorisme

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Eks Napiter (XLXV): Eks Napiter Joko Priyono Pernah Bentuk Neo...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Terorisme merupakan paham radikal dalam bentuk tindakan pengeboman yang menewaskan banyak jiwa dan jelas paham ini berseberangan dengan ajaran-ajaran agama Islam. Islam melarang tindakan kekerasan semacam itu, karena menjaga keselamatan jiwa jauh lebih berharga dari membunuhnya.

Terorisme sudah berkembang di penjuru dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Lantas, siapa saja yang terpapar paham membahayakan ini? Tentu banyak. Salah satunya, Joko Priyono. Sekarang Joko sudah bertobat dan kemarin mengikuti upacara bersama eks napiter yang lain.

Joko mengaku pernah divonis empat tahun penjara karena terlibat jaringan Jamaah Islamiyah (JI). Hal itu yang membuatnya terharu karena bisa upacara dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Joko bersyukur masyarakat Jawa Tengah memiliki toleransi tinggi. Kehadirannya bisa diterima dengan baik.

Joko apresiasi Pak Gubernur Ganjar yang telah memberi kesempatan eks napiter Joko dalam upacara 17 Agustus ini. Bukan hanya itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah memberikan perhatian lebih terhadap para eks napiter. Misalnya, dengan memberikan pelatihan wirausaha, sekaligus pinjaman modal untuk usaha.

BACA JUGA  Serial Pengakuan Mantan Napiter (XLXIII): Edi Santoso, Mantan Teroris Lampung yang Ingin Kembali Jualan Soto

Saat ini Joko mengaku membentuk Neo JI bersama rekan-rekannya yang telah keluar dari JI, dengan tujuan meluruskan pemahaman terorisme menuju ahlussunah wal jamaah. Bukan hanya bersama Pemprov dan masyarakat, pembinaan anti radikalisme juga dilakukan bersama Ruangobrol Unit Idensos Densus 88 AT Satgaswil Jateng.

Apa yang dilakukan Joko ini membuktikan bahwa dia benar-benar bertobat dari paham radikal-teror yang telah membuatnya mendekam di dalam penjara dan menghabiskan banyak waktu untuk sesuatu yang tidak berguna di masa itu. Sekarang Joko menebus dosa sosialnya dengan membentuk Neo JI sebagai langkah positif untuk deradikalisasi.

Itulah hijrah yang sebenarnya. Joko hijrah dengan meninggalkan paham radikal yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama menuju paham moderat yang diajarkan oleh semua agama. Hijrah bukanlah meninggalkan ajaran agama yang baik menuju paham radikal yang buruk. Bukan seperti hijrah para militan ISIS dan lain sebagainya.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita eks napiter Joko Priyono yang dimuat di media online Kompas.com

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru