28.3 C
Jakarta

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Artikel Trending

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching. Buku tersebut berjudul Islam dan Kebangsaan: Tauhid, Kemanusiaan, dan Kewarganegaraan yang ditulis oleh tokoh tafsir Indonesia M. Quraish Shihab. Buku yang cukup menarik untuk mengantarkan saya (mungkin juga kamu) menjadi pribadi yang nasionalis terhadap negara sendiri.

Saya ingin menghadirkan sekelumit isi buku ini dengan mengawali dari sebuah pertanyaan yang cukup sederhana: Apa sih sebenarnya kebangsaan itu? Pertanyaan ini mungkin terkesan biasa bagi sebagian orang yang sudah banyak mengarungi lautan pengetahuan, kendati mereka kadang tahu tetapi belum mengamalkan. Sebagian yang lain cukup nasionalis atau memiliki kebangsaan yang kuat mengalir dalam dirinya, sedang mereka tidak tahu banyak soal kebangsaan. Sebagian lagi banyak yang belum tahu dan ketidaktahuan ini menjerumuskannya menjadi orang yang tidak manusiawi.

Orang yang picik (mungkin, husnu azh-zhan saya, tidak tahu) gemar melakukan tindakan-tindakan tidak manusiawi, sehingga tindakan itu merugikan orang lain. Ketenangan hidup orang terganggu. Kerukunan antar sesama menjadi kusut. Perpecahan terbentang di depan mata. Bahkan, korban jiwa berjatuhan di mana-mana. Tindakan-tindakan tidak manusiawi semacam ini, yang saya temukan, baru saja kemarin terjadi di rumah kediaman Ibu Mahfud MD di Madura. Beberapa orang Madura sendiri—saya tidak tahu pastinya orang mana saja—yang sepertinya terperosok dalam propaganda Front Pembela Islam (FPI) melakukan demonstrasi terhadap Pak Mahfud. Tentu, yang paling terganggu adalah Ibu Pak Mahfud sendiri beserta keluarganya yang lain.

Tindakan FPI yang tidak manusiawi tersebut bukan hanya dilakukan baru-baru ini saja. Jauh hari sebelum itu banyak orang yang dijadikan korban. Sebut saja, Pak Ahok yang dituding sebagai penista agama, Presiden Jokowi yang didoakan segera tutup usia,  Nikita Mirzani yang disebut lonte, dan masih banyak fakta-fakta amoral yang lain. Saya bukan ingin membela siapapun di antara mereka. Tapi, saya ingin melihat sisi kemanusiaannya dalam berbangsa. Masa ada orang yang tinggal bersama tidak mau hidup berangkulan? Masa ada juga orang yang numpang tinggal di sebuah negara tidak tahu berterima kasih terhadap negaranya sendiri, malahan suka berbuat onar, kerusuhan, dan tindakan amoral yang lain?

Saya menduga kuat—semoga benar dugaan ini—orang yang suka melakukan tindakan kekerasan, sebut saja orang FPI dan bisa juga komplotan HTI, terjebak dalam kebodohannya memahami Islam. Mereka pandang, Islam tidak tahu-menahu soal kebangsaan (qawmiyyah). Padahal, Islam dan kebangsaan bagaikan dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Islam dan kebangsaan berjalan beriringan. Politikus, aktivis, dan pelopor persatuan di Italia Giuseppe Mazzini (1805-1872 M)—sebagaimana dikutip Quraish Shihab dalam bukunya itu—menyebutkan, bangsa adalah keterikatan sekelompok masyarakat terhadap satu tanah air dengan syarat keterhimpunan mereka oleh sejarah dan bahasa yang sama dalam wilayah dan tempat tinggal mereka.

BACA JUGA  Menanam Kembali Kalimatun Sawa pada Generasi Muda Indonesia
BACA JUGA  Ustadz Dadakan Jelas Tidak Mengerti Agama, Kenapa Kamu Ikuti?!

Spirit kebangsaan yang dinukil Quraish Shihab ini dapat disederhanakan oleh sastrawan, filolog, dan filsuf Prancis Erner Renan (1823-1892 M). Menurutnya, dasar kebangsaan adalah keinginan untuk hidup bersama. Saya pikir, orang yang ingin hidup bersama hendaknya saling menghormati satu sama lain. Tidak merasa paling benar sendiri dan gemar menyalahkan. Tidak misuh-misuh orang yang tidak sepemikiran. Tidak menyesatkan perbedaan keyakinan. Intinya, menghadirkan kehidupan yang rukun, damai, dan saling menghormati.

Perbuatan orang-orang FPI bilamana dilihat dari sudut pandang kebangsaan tersebut jelas bertentangan. Saya berani mengatakan, orang-orang FPI tidak mengerti tentang nilai-nilai kebangsaan. Mereka pikir, Islam tidak tahu-menahu soal kebangsaan. Pokoknya, bagi mereka, apapun yang berbeda dengan pemahaman mereka tentang Islam semudah itu mereka langsung tuduh orang lain sesat. Mereka memandang kebenaran sebatas pikiran mereka. Padahal, kebenaran itu terbentang luas. Tidak keliru bila ada sebuah perkataan: Ra’yi shawab, wa yahtamilu khatha’, wa ra’yu ghairi khatha’ wa yahtamilu shawab. Maksudnya, argumentasiku benar, tapi punya kemungkinan salah. Sebaliknya, argumentasi orang lain salah, tapi punya kemungkinan benar.

Pentingnya menegakkan spirit kebangsaan adalah untuk menghadirkan kehidupan yang damai dan tenteram. Siapapun, termasuk FPI, yang mementingkan kelompoknya sendiri dan mengabaikan kelompok yang lain dapat dipastikan spirit kebangsaannya kurang. Perlu mereka belajar nilai-nilai kebangsaan, sehingga mereka mendapatkan hidayah menjadi pribadi muslim yang baik yang dikehendaki oleh Islam. Orang yang menegakkan spirit kebangsaan akan mendapatkan posisi yang mulia, baik di sisi manusia maupun di hadapan Allah kelak. Percayalah, perbuatan itu hanyalah ekspresi dari isi otak seseorang. Bila isi otaknya baik, maka perbuatannya baik. Sebaliknya, bila isi otaknya buruk, maka perbuatannya buruk pula.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru