25.1 C
Jakarta

Senja di Pelataran Pesantren (Bagian XXXIII)

Artikel Trending

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Daftar Daerah yang Tegas Menolak Kehadiran Rizieq Shihab dan FPI

Gelombang penolakan atas keberadaan organisasi Front Pembela Islam menjalar kemana-mana, utamanya pasca kedatangan Rizieq Shihab ke Indonesia dari pelariannya atas kasus hukum yang menimpa....

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam...

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baleho. Suasana damai tenan, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Senja berkejaran di pelataran pesantren. Seakan mimpi, mengingat awal kali memandangi menara masjid yang tinggi menjulang ke langit. Pertama tidak kerasan nan muak hidup di tengah keramaian pesantren yang tidak menyenangkan, hingga akhirnya hati tertambat pada sosok lelaki inspiratif, kendati sekarang konflik datang silih berganti.

Sore itu orangtua Diva datang bersama keluarga besar. Ada Fatimah, adik paling bungsu, dan ada Zainab, kakak paling tua. Mereka tiga bersaudara. Baru kedua kalinya Fatimah dan Zainab ikut Abah dan Ummi ke pesantren. Dulu saat mengantarkan Diva ke pesantren dan sekarang menjemput Diva berhenti dari pesantren.

Begitulah orang Madura dalam memondokkan dan berhenti dari pesantren. Saat mengantar ke pesantren, siapa pun yang mondok biasanya diantar oleh berpuluh-puluh masyarakat, sementara saat dipamitkan hanya keluarga besar saja yang sowan kepada Kyai, paling tidak orangtuanya. Saking bahagianya ada orang yang mondok, para tetangga menyuguhkan uang saku sambil berbisik, “Sedikit doang buat beli sabun.” Mereka tidak keberatan menyisihkan sebagian hartanya, sekalipun harta itu untuk makan hari ini. Karena, mereka berkayakinan orang yang belajar di pesantren akan menyerap barakah para Kyai yang menjadi dirindukan masyarakat Madura.

Air mata Diva tiba-tiba tumpah saat melihat Nadia, Adel, dan Hanum di depan mata. Abah dan Ummi sudah memahami suasana hati putrinya sedang bersedih meninggalkan sahabat-sahabat terdekatnya yang seakan-akan saudara sendiri. Abah dan Ummi merasakan hal sama saat dahulu berhenti dari pesantren. Bahkan, saking sedihnya , mereka tidak berhenti menangis di atas angkot.

Pesantren memang menyimpan barakah dan cinta yang dalam. Pesantren seakan cermin yang memantulkan cahaya kebaikan yang ditanam. Pesantren bukan tempat biasa semisal asrama, tetapi di sana hidup seorang Kyai yang rela bertapa, berpuasa, dan ikhlas menyisihkan waktunya untuk mendidik para santri.

Hati terasa perih karena sedih. Diva mengekspresikan dengan lelehan air mata. Nadia dan dua sahabatnya pun juga ikut menangis. Air mata tumpah menjadi saksi, bahwa mereka sahabat sejati. Sahabat tidak pernah meminta, tapi memberi. Suka dan duka dirasakan bersama. Karena, kata M. Quraish Shihab, “Sahabat adalah anda dalam sosok yang lain.”

“Kak, maafkan Diva jika banyak salah,” isaknya mengingat kenakalan yang telah diperbuat.

“Tiada manusia yang sempurna. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan, entah disengaja atau tidak. Tidak jadi masalah kita berpisah sekarang. Yakinlah, di tengah perpisahan ini hanya mimpi yang akan menyatukan dan mempertemukan kita kembali.” Nadia berkata lirih seakan hati-hati berucap. Pesan bijaknya membangkit semangat dari kesedihan.

Masih ingat, jika mereka berempat memiliki mimpi besar, baik dari mimpi yang paling sepele sampai mimpi yang tidak terjangkau akal. Tapi, mereka yakin, bahwa yang terjadi adalah yang tertulis. Sehingga, semua mimpinya tercatat dalam lembar buku harian. Mereka bermimpi mencium tembok Ka’bah di Tanah Suci Mekkah dan mengelilingi seratus negara di dunia. Keberhasilannya yang telah dicapai sekarang karena mimpi yang tertulis.

Di tengah kuatnya persahabatan yang dibangun selama di pesantren, akhirnya mereka harus berpisah juga. Mereka berpelukan satu sama lain. Saling menitipkan pesan semangat. Setelah itu, Nadia, Adel, dan Hanum mencium tangan Abah dan Ummi begitu mereka pamit pulang. Ransel yang sesak dengan pakaian digendong. Bukunya ditata rapi dalam kardus dan dimasukkan ke dalam mobil.

Mobil bergerak pelan dan makin jauh. Diva mengintip di jendela mobil. Terlihat jelas wajah sahabatnya yang berdiri mematung dan menara cinta yang terus mengingatkan pada sosok lelaki yang mengajaknya mengintip senja berdua di tepi danau. Senja mulai samar-samar menghias bilik pesantren. Good bye, Annuqayah! Sampai jumpa nanti!, batinnya dalam-dalam.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Mengintip Senja Berdua” yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Muhammad Rizieq Shihab, Quraish Shihab, dan Habib Lutfi

Muhammad Rizieq Shihab semakin viral. Sejak kembalinya dari Arab Saudi, sampai penjemputan, perayaan Maulid Nabi, hingga perayaan nikah anaknya menjadi tilikan banyak orang. Bahkan...

Organisasi Mahasiswa Riau Gelar Aksi Tolak Radikalisme

harakatuna.com. Pekanbaru - Sebanyak 41 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) dan organisasi mahasiswa Riau menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur Riau, Senin (23/11/2020). Dalam aksi...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ulama Austria Minta Aparat Tak Kaitkan Terorisme dengan Agama

Harakatuna.com. WINA -- Saat rasialisme dan diskriminasi terhadap Muslim di Austria melonjak, ulama di negara Eropa memperingatkan pihak berwenang tidak mengaitkan terorisme dengan agama apa pun. Setelah...

Jangan Mudah Menuduh Orang Lain Dengan Sebutan Lonte

Kata lonte dalam tradisi masyarakat Indonesia adalah bermakna kasar. Yaitu bermakna sebagai pezina ataupun pelacur. Kata lonte ini kembali viral di media sosial karena...

Lumpuhkan Radikalisme, Munas MUI Usung Tema Islam Wasathiyah

Harakatuna.com. Jakarta - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin menyampaikan pidato dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) MUI ke-19 di Hotel Sultan,...

Munas MUI ke-X; Saatnya MUI Kembali ke Khittah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah melaksanakan pemilihan Ketua Umum MUI baru periode 2020-2025. Pemilihan dilaksanakan pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI ke-10 di Hotel Sultan,...