28.3 C
Jakarta

Kuatkan Pilar Kebangsaan Untuk Pencegahan Paham Radikalisme

Artikel Trending

Harakatuna.com. Surakarta-Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) bekerja sama dengan website Harakatuna menggelar seminar Nasional di Aula Red Chilies Hotel, Lantai 5. Jalan Ahmad Yani, Surakarta, 2020 (28/11). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Negara Dalam Bayang-bayang Radikalisme”. Pembicara yang turut hadir Haris Amir Falah, Amir Mahmud, Lusia Indriastuti, Ahmad Tanjung Malik, dan Waloyo sebagai moderator.

Ilham Mahendra selaku ketua BEM FH UNISRI, sangat berterimakasih kepada pihak Harakatuna dan jajaran UNISRI karena telah membantu dan bekerjasama dengan baik dalam terselanggaranya acara ini. Kemudian DEKAN FH UNISRI, Dr. Lusia Indriastuti, S.H., M.Si. M.H. turut hadir untuk membuka kegiatan tersebut.

“Terselenggaranya seminar nasional ini, kami berharap dapat meningkatkan tali silaturrahim, persaudaraan serta pengukuhan kohesi sosial dan keislaman yang ramah di Solo Raya dan Indonesia. Dengan acara ini, semoga dapat memberikan pencerahan kepada publik dan menjadi banteng diri dalam menyikapi merebaknya paham radikalimse dan terorisme”, tutur dekan UNISRI.

Haris Amir Falah sebagai pemateri kunci menjabarkan dengan terang bahwa event ini adalah langkah strategis dan sangat penting diadakannya secara terus menerus, untuk menjaring pelbagai gagasan, serta untuk mendongkel paham ekstrem yang ada dan tersebar di Indonesia dan dunia.

“Munculnya radikalisme dalam bentuk pemikiran dan tindakan sebenarnya sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. NII adalah cikal bakal gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia. Tetapi tahun-tahun selanjutnya, para penggerak kelompok radikalisme menggeser gerakannya ke tengah. Secara terbuka, mereka melakukan dakwah dan mendirikan organisasi dalam bentuk MMI, JAD, dan JAS. Dari situ pemikiran radikalisme semakin berkembang dengan berbagai bentuk strategi, seperti pelatihan militer dan provokasi melalui media online”, ujarnya.

Radikalisme agama, menurutnya, semata-mata lebih pada penyimpangan terhadap ajaran agama bukan kepada yang lain. Bahkan sejak kontestasinya otoritas keagamaan konvensional dengan otoritas mayoritas ekstrem yang bersahutan dengan politik identitas dan politik Islam, diranah kehidupan umat, di sanalah terjadi kekerasan wacana bahkan fisik. Dan teror-teror yang makin terjadi adalah dampaknya.

BACA JUGA  Tingkatkan Moderasi dengan Internalisasi Nilai Agama dan Budaya

Haris Amir Falah mengatakan, fenomena itu bisa dilihat dari dekralasi, ajaran dan tindakan kejam ISIS yang mampu memecahkan kelompok mayoritas keagamaan di dunia dan Indonesia. Sebagaimana ISIS, kelompok JAD yang ajaran pokoknya adalah negara harus berhukum dengan Allah. Apabila negara tidak berhukum atas Allah maka ia adalah taghut dan kufur. Tinggal di negara itu adalah haram/kafir dan karenanya pilihan terkhirnya harus hijrah ke negara Islam yang menerapkan secara konsisten hukum Allah.

Seperti Haris Amir Falah, pemateri kedua, Amir Mahmud menyebut, bahwa Indonesia memang bukan negara Islam, tapi ajaran dan prinsip islam menjiwai terhadap semua produk hukum yang dikeluarkan oleh negara. Karenanya, tidak benar Indonesia dikufurkan.

BACA JUGA  Penguatan Kebangsaan Harus Juga Dilakukan di Dunia Kampus

Pancasila sebagi dasar berhidup harus dipahami secara komprehensif oleh para generasi muda dan tua di tengah gencarnya pertarungan ideologi transnasional. Pancasila sesungguhnya sangat sempurna dan tidak dimiliki oleh negara lain.

Ideologi Pancasila yang sudah final dan mengikat ini tidak bisa digantikan dengan ideologi lain. Karena, ideologi ini yang paling dan sangat cocok dengan pluralisme dan kebhinekaan Indonesia.

Di akhir seminar, semua pemateri berharap bahwa semua komponen umat perlu mengisi kekosongan yang ada sebagaimana acara ini yang diisianisasi UNISRI dan Harakatuna. Cinta tanah air tidak cukup dengan mengisi KTP. Tapi harus bisa mengisi semua aspek kehidupan dengan nilai-nilai yang tercantum dalam Pancasila. Wawasan kebangsaan tanpa dibarengi dengan praktik yang berlandasan wawasan sinergi keumatan dan keislaman akan membentuk pribadi yang angkuh, sombong dan intoleran. Maka itu, perpaduan antara ide, paham, wawasan dan praktik ini menjadi penting dilakukan.

Oleh karena itu, seminar ini diharapkan dapat menggali kompleksitas bagaimana problem sosial dan agama, untuk menegakkan harmonisasi sosial dan keagamaan di Indonesia yang beretika nan bermartabat.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru