25.5 C
Jakarta

Semangat Keislaman Nabi: Menuntun Bukan Memukul

Artikel Trending

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Daftar Daerah yang Tegas Menolak Kehadiran Rizieq Shihab dan FPI

Gelombang penolakan atas keberadaan organisasi Front Pembela Islam menjalar kemana-mana, utamanya pasca kedatangan Rizieq Shihab ke Indonesia dari pelariannya atas kasus hukum yang menimpa....

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam...

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang...

Kembalinya Riziq Shihab Sinyal Merebaknya Nalar-Sikap Kekerasan?

Kembalinya Riziq Shihab menandakan bangkitnya “islamisme”. Betapa tidak, kita semua telah mengerti bahwa jejak dan rekam Riziq sebagai imam besar Front Pembela Islam, sering...

Revolusi Akhlak HRS vs Revolusi Akhlak Syekh Abu ‘Ala ‘Afifi

Era pandemi Covid-19 hingga menjelang akhir tahun 2020 ini belum nampak akan berakhir. Meskipun adanya perubahan, situasi dan kondisi saat ini pasca pulangnya Habib...

Dari segi historisnya, kata hijrah mulai dikenal setelah Rasulullah memindahkan pusat dakwahnya dari Makkah ke Madinah. Pemilihan Madinah sebagai pusat dakwah baru umat Islam bukanlah tanpa pertimbangan. Di Makkah, Rasulullah beserta pengikutnya mendapat penyiksaan dari penduduk Makkah yang tidak menginginkan agama Islam berkembang. Kekerasan demi kekerasan terus dilakukan kepada umat Islam. Untuk menghindari peperangan, maka Rasulullah beserta pengikutnya berhijrah.

Bukanlah perkara mudah meninggalkan harta serta sanak saudara yang belum memeluk Islam di Makkah. Walaupun begitu, hijrah ini harus dilakukan sebagai langkah jihad agar agama Islam mencapai kesempurnaan. Bahkan, Allah menganugerahkan penduduk Madinah yang sangat gembira menyambut kedatangan Rasulullah beserta umatnya. Jasa mereka sangat besar kepada kaum Muslimin yang saat itu kebingungan mencari tempat perlindungan.

Setibanya di Madinah, Rasulullah segera menyatukan kaum Muhajirin (penduduk Makkah) dan kaum Ansar (Penduduk Madinah). Dengan begitu tidak ada lagi sekat yang membatasi diantara keduanya. Kemudian Rasulullah melakukan penyatuan kembali dengan lingkup yang lebih besar dengan membentuk piagam Madinah. Disini Rasulullah menyatukan seluruh penduduk Madinah, dan mengakui non-Muslim sebagai bagian dari kaum Muslimin.

Selain itu, Rasulullah membangun masjid untuk mempersatukan umat. Beliau mengumpulkan seluruh umat demi menjaga persatuan mereka. Beribadah bersama, berdiskusi bersama, hingga membentuk suatu tatanan yang solid dengan modal pemersatu berupa iman. Maka disinilah letak masjid kokoh berdiri sebagai bangunan pemersatu umat beragama.

Spirit Hijrah Rasulullah

Dengan begitu, hijrah dapat dijadikan sebagai momentum memupuk persaudaraan dan menjalin tali perdamaian. Dan dari persaudaraan inilah, sayap Islam bisa sampai ke seluruh dunia. Rasulullah telah berhasil mengubah tatanan masyarakat yang rentan terjangkit peperangan menjadi masyarakat yang lebih toleran dan mengedepankan perdamaian.

Dengan begitu, semangat hijrah ini perlu diwariskan kepada seluruh elemen bangsa Indonesia. Keadaan bangsa yang multikultural, membuatnya rentan tersulut api intoleran dan mengedepankan kemarahan. Sehingga segala bentuk perbedaan ini perlu diikat oleh tali persatuan. Dan momentum hijrah haruslah dimaknai sebagai penguat persatuan. Menjadi jalan damai ancaman pertengkaran dan permusuhan yang melanda.

Kita tidak boleh menggunakan nama hijrah sebagai seruan peperangan. Karena hal itu merupakan ciri Islam radikal yang dapat menambah permasalahan. Peperangan hanyalah penyaluran hawa nafsu semata yang menghasilkan efek takut sementara waktu saja, dan berisiko memicu terjadinya peperangan yang lebih hebat.

Akhir dari peperangan adalah kehancuran itu sendiri. Kedua belah pihak saling dirugikan oleh banyaknya korban yang berjatuhan serta biaya yang tidak kecil jumlahnya. Kalau ada keuntungan, itu hanyalah sedikit karena keuntungan itu segera digunakan untuk biaya perbaikan serta upah prajurit yang berperang. Belum lagi masalah balas dendam, yang bisa memicu peperangan dengan jumlah pasukan dan keruguan yang lebih besar.

Memang pada sisi sejarahnya Rasulullah pernah mengikuti sejumlah peperangan. Namun peperangan itu hanyalah sebagai alat untuk mempertahankan diri dan melindungi agama dari golongan yang ingin memusnahkannya. Rasulullah sendiri selalu mengedepankan negosiasi terlebih dahulu sebelum mengadakan peperangan. Beliau selalu memprioritaskan perdamaian dibandingkan menumpahkan darah umat manusia.

Hal ini tercermin dari sikap beliau yang sabar menghadapi cacian, bahkan tindak kekerasan yang dilakukan penduduk Makkah. Tidak ada niat sedikit pun dari beliau untuk membalas perbuatan mereka. Bahkan pada peristiwa fatkhu makkah (penaklukan kota Makkah), beliau berhasil menguasai kota Makkah tanpa adanya peperangan.

Begitulah semangat keislaman yang diajarkan Rasulullah saw. Beliau tidak pernah mengajarkan untuk menggunakan metode perang sebagai jalan pertama. Sebisa mungkin, beliau menjalin perdamaian dengan melakukan negosiasi dan tukar pikiran kepada pihak lawan. Meskipun dalam keadaan unggul, beliau tidak serta merta membunuh lawan-lawannya. Dengan santun, beliau menggandeng mereka untuk bersama-sama memajukan agama Islam.

Oleh karena itu, dalam momentum tahun baru hijriyah ini, sudah seharusnya kita menggali kembali kisah Rasulullah dan segala taktik perdamaian yang beliau hasilkan dari proses hijrah. Beliau menempatkan hijrah sebagai momentum membentuk kekuatan besar dengan melibatkan siapapun, tak terkecuali umat non muslim sendiri.

Beliau tidak memilih menumpas habis mereka karena tidak mau mengikuti ajaran agama yang disampaikan. Karena beliau yakin, kekuatan tidak hanya bisa diciptakan dengan persamaan. Bahkan dengan perbedaan, dapat menghasilkan kekuatan yang lebih besar. Maka sebisa mungkin kita mengajak siapa pun tanpa memandang perbedaan yang mereka miliki bersama-sama membangun kehidupan yang lebih baik lagi. Dengan begitu, fungsi hijrah sebagai penguat persatuan dapat terlaksana.

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Raja Salman dan Erdogan Buka Babak Baru Melalui Dialog

Harakatuna.com. Ankara - Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dan Presiden Turki Tayyip Erdogan sepakat memperbaiki hubungan bilateral dan menyelesaikan berbagai masalah lewat dialog. Kedua pemimpin itu berbicara melalui...

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Mendewa-dewakan Keturunan Nabi Adalah Perbudakan Spiritual

Harakatuna.com. Jakarta-Sebutan gelar habib kembali diungkit dan menjadi pembicaraan utama akhir-akhir ini. Bahkan, kata habib atau yang dikenal masyarakat sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW...

Doa Naik Kendaraan, Arab, Latin dan Terjemahannya

Di zaman modern ini kendaraan berbagai macam ragamnya, dari mulai bus, kereta api, pesawat, motor, bajai dan lain sebagainya. Sedangkan pada zaman dahulu kendaraan...

Harus Ada Program Pendekatan Baru Cegah Intoleransi di Lingkungan Pendidikan

Harakatuna.com. Yogyakarta –Kasus intoleransi di lingkungan pendidikan akhir-akhir sudah sangat meresahkan. Kondisi sangat mengkhawatirkan, apalagi masalah intoleransi adalah momok yang bisa mengancam perdamaian dan...

Revolusi Akhlak HRS vs Revolusi Akhlak Syekh Abu ‘Ala ‘Afifi

Era pandemi Covid-19 hingga menjelang akhir tahun 2020 ini belum nampak akan berakhir. Meskipun adanya perubahan, situasi dan kondisi saat ini pasca pulangnya Habib...