31.4 C
Jakarta

Selamatkan Indonesia dari Politisasi (Politik) Islam

Artikel Trending

Milenial IslamSelamatkan Indonesia dari Politisasi (Politik) Islam
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Makin hari, makin merajalela opini-opini tentang narasi politik Islam. Bagi mereka, politik Islam sungguhlah diperbolehkan karena Islam adalah bagian dari identitas. Bagi mereka pula, Islam harus ditonjolkan sebagai basis berpolitik dan basis sosial untuk kepentingan-kemajuan negara dan bangsa.

Menurut mereka, jika politik Islam dijadikan sebagai sandaran dan jalan dalam berpolitik, maka Islam akan bangkit. Namun jika politik Islam justru ditolak, sungguhlah Islam akan terus terbelakang dan tidak berkembang.

Politisasi Islam

Yang menarik, klaim mereka adalah, bila seseorang tidak setuju dengan politik Islam, menurut mereka, sesungguhnya dia membenci Islam. Jadi, seseorang yang agamanya tidak mau dicampur-baurkan dengan politik, begitu celaka apabila mengikuti pandangan mereka.

Bagi mereka pula, jika ada orang-orang tidak setuju dengan politik yang tperankan oleh partai-partai yang basisnya Islam, sungguh dia sangat tidak pantas menyandang predikat sebagai muslim. Bagi mereka, hanya orang non-muslim (Barat) yang tidak setuju dengan politik Islam. Sebab, menurut pandangan mereka, Barat tidak setuju akan Islam, karena mereka takut dan khawatir jika Islam maju dan menguasai segala medan. Ini yang terus-menerus diulang-ulangi oleh mereka.

Jelang Pemilu 2024, mereka terus menggembor-gemborkan narasi politk Islam. Terpilihnya Anies Baswedan menjadi awal dan pintu masuk untuk menguasai dunia. Kemenangan Anies Baswedan atas Ahok, misalnya, disebut-sebut sebagai contoh nyata keberhasilan politik Islam. Menurutnya, pemimpin Islam yang memimpin Jakarta (Anies Baswedan), telah sukses mengantarkan pada kemenangan.

Mereka secara pongah, menunjuk identitas Islam atau orang-orang muslim, atau Islam sendiri sebagai identitas yang memenangkan medan politik, serta seolah-olah Islam adalah solusi utama untuk dunia dan masyarakat yang mengalami rentetan problem sosial.

Diam Seribu Bahasa

Namun demikian, ibarat tong kosong nyaring bunyinya, nyatanya sampai saat ini mereka kalau ditanya seperti apa sistem Islam itu, mereka diam seribu bahasa. Lihat saja, ketika Mahfud MD, menantang mereka untuk persentasi, seperti apa sistem negara Islam, atau siapakah yang akan dijadikan sebagai contoh dalam sistemnya, mereka seperti mau nangis di pojokan pintu. Ketakutan, bungkam, dan tidak berdaya. Mereka mendadak cemen.

Namun, ketika mereka diberi keleluasaan dalam berbicara atau berkhotbah di arena panggung politik, mereka secara terang-terangan mengatakan bahwa “hanya sistem Islamlah” yang akan menjadikan dunia ini terang dari kegagalan. Bukankah ini adalah sikap-sikap orang yang nihil dalam kejujuran dan hanyalah ingin merusuhi lintasan dunia sosial dan media dengan kekotoran narasi.

Bukankah ini yang namanya politik Islam? Jika mau konsisten, seharusnya mereka membuat partai politik, atau setidaknya, minimal, bisa menjabarkan tentang sistem Islam itu sendiri. Jika tidak bisa, narasi politik Islam, akhirnya, hanya menjadi bualan di tengah pertarungan politik.

Bawa-bawa Islamofobia

Kalau tidak bisa, jangan bawa-bawa islamofobia sebagai cambuk bagi orang yang mempertanyakan sistem yang dinarasikan ke publik. Telah diketahui bahwa mereka memang suka meninju orang-orang yang kritis terhadap gerakan mereka dengan cap dan stempel kelompok islamophobia. Padahal, kenyataannya, politik yang diusung tersebut hanya ingin mengajarkan politik Islam atau narasi negara Islam yang sampai saat ini belum diketahui kejunstrungannya.

Tentu semua ini demi mengadang serta ingin melemahkan sistem yang telah Indonesia miliki yang kini lagi kuat-kuatnya. Mereka (kelompok radikal) sangat paham jika Pancasila diemban secara kuat dan giat oleh umat Islam di Indonesia, semua itu akan mengantarkan pada kebangkitan, kedigdayaan, dan sekaligus keruntuhan harapan-harapan mereka: Khilafah.

Sebagai vis-à-vis, mereka pun memunculkan politik Islam kafah, yaitu politik yang mengajarkan-diajarkan politik ala Nabi dan sahabat, yang sejatinya, mereka, sedang menghilangkan ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Buktinya, mereka menghalalkan Islam sebagai alat politik, yang padahal Rasul dan ulama-ulama telah melarangnya. Keadilan dan kemoderatan dilarang diajarkan di halaqah dan sekolah mereka, tetapi ajaran-kurikulum keras, yang mengandung paham teroristik dibiarkan.

Walhasil, narasi politik Islam yang sejatinya dilo pada Islam dan Pancasila, sebenarnya sedang meneruskan propaganda radikalisme dan terorisme, yakni agar tidak membawa-bawa demokrasi dan Pancasila sebagai jalan kehidupan, yang adil, moderat, toleran, maju, dan menuju pada kemenangan.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru