26.9 C
Jakarta
Array

Sejarah Website Syabab HTI Menghina Bendera Merah Putih

Artikel Trending

Sejarah Website Syabab HTI Menghina Bendera Merah Putih
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com — Hizbut Tahrir Indonesia, usai dibubarkan terus memobilisasi dan mencari simpatik masyarakat, di samping mencari pembenaran terhadap gerakan politik yang dibangunnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam ibadah, HTI memang banyak kesamaan dengan organisasi-organisasi umumnya di Indonesia, namun dalam bidang siyasah (politik), HTI berbeda dengan ormas-ormas, seperti NU dan Muhammadiyah.

Saat tim Harakatuna menelusuri pandangan HTI terhadap Bendera Merah Putih, Harakatuna mendapatkan keanehan. HTI dan para syabab-syabab-nya di dalam sejarah Indonesia pernah “menghina” atau menyilang bendera Merah Putih dan menempatkannya di posisi bawah dari bendera HTI.

Gerakan politik, tentunya gerakan yang mengarah kekuasaan. HTI muncul karena pergolakan politik dan ekonomi yang ada di Palestina, di samping kekecewaan Syaikh Taqiyuddin dengan Syaikh Hasan Al-Banna. Keinginan politik dari HTI untuk meraih kekuasaan bukan rahasia lagi, HTI berkeinginan untuk merubah sistem dan haluan bernegara. Paham-pahamnya tersebar, baik melalui media cetak maupun online.

Dalam menyebarkan opini politiknya, situs anggota HTI yang beralamat http://www.al-khilafah.org/, menulis artikel berjudul Benarkah Bendera Merah Putih Adalah Bendera Rasulullah?,  anehnya gambarnya sudah dirubah setelah menuai reaksi keras dari masyarakat. Inilah salah satu gaya dan khas kader-kader HTI dalam menyeludupkan sebuah masalah yang menimpa mereka. Mencari kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahan mereka.

                         Tampilan lama
          Tampilan baru yang sudah dirubah

Bahkan, salah satu akun di Facebook a.n Hubaiballah Akhtar yang kerap memberitakan opini HTI melakukan makar di Indonesia. Berikut tulisannya:

Menurutnya bendera Merah Putih hanya cocok untuk binatang, sedangkan bendera HTI untuk manusia. Bahkan ia mengatakan paham nasionalisme bukan dari Allah dan tidak memanusiakan manusia

Lagi-lagi, saat Harakatuna menelusuri akun Facebooknya, status terkait dua hal di atas telah dihapusnya. Akun URL-nya adalah https://www.facebook.com/hubaiballah.akhtar/posts/991938484162185. Tapi, URL tersebut sudah tidak tersedia.

Sejatinya, bendera adalah lambang kebesaran, kewujudan dan kedaulatan sebuah wilayah atau Negara yang tidak boleh sembarangan dihinakan oleh siapapun, pemeluk agama apapun. Lebih-lebih Islam tidak mengajarkan demikian. Bahkan, Habib Mundzir bin Fuad Al-Musawa pernah mengatakan:

“Saya mau menghormati bendera karena saya tahu bendera Merah Putih ini didukung oleh darah ratusan ribu syuhada yang menegakkannya” 

Inilah model gerakan yang dilakukan HTI dan bertentangan dengan gaya dan budaya berbangsa-bernegara di Indonesia. Sebagai gerakan transnasional, tentunya HTI pantas dibubarkan oleh pemerintah. Karena kelakuan dari kader-kadernya tetap menjadi alat bukti, sekalipun sudah dihapus oleh yang bersangkutan.

Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siraj juga pernah mengatakan bahwa NU telah berhasil mengawinkan antara Agama dan semangat nasionalisme. NU telah memberikan sumbangsih dalam menentukan bentuk negara Indonesia; sebuah negara yang dijiwai nilai-nilai agama dan nasionalisme. Di mana salah satu pendiri Nahdlatul Ulama KH. Abdul Wahab Hasbullah bahkan pernah membentuk organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916.

Paham nasionalisme yang diusung HTI dengan umumnya masyarakat Indonesia, sangat berbeda. Salah satu Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hizbut Tahrir Indonesia(HTI), Shiddiq Al Jawwi pernah mengatakan: “Haram juga hukumnya segala macam jalan atau sarana yang mengantarkan pada perbuatan menyeru kepada ‘ashabiyah, seperti Mengkibarkan Bendera Merah-Putih, upacara bendera atau menjadi pembina upacara. Sebab upacara bendera yang dilaksanakan di Dunia Islam saat ini, tiada lain adalah sarana atau jalan untuk menyeru dan menanamkan paham nasionalisme.”

Pemahama tokoh-tokoh HTI berbeda dengan paham-paham yang disebarkan oleh ulama-ulama Nusantara. Tentunya ini akan menambah konflik yang berkepanjangan ke depan harinya, jika HTI tidak dibubarkan oleh pemerintah. Terjadi gesekan di internal umat Islam, tentunya juga akan bergesekan dengan non-Muslim di wilayah Timur. []

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru