27.7 C
Jakarta

Sebuah Refleksi dari Sayaka Murata: Apa Gunanya Saya Menulis?

Artikel Trending

KhazanahLiterasiSebuah Refleksi dari Sayaka Murata: Apa Gunanya Saya Menulis?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Setiap penulis memiliki tujuan tertentu dari laku menulis yang ia lakukan. Kita melihat tujuan sederhana sekaligus filosofis dari salah satu penulis Jepang kontemporer, Sayaka Murata, bahwa menulis baginya adalah jalan menemukan kebenaran. Kebenaran akan hal apa? Murata—dalam salah satu wawancaranya di Nippon.com—mengaku tumbuh dengan berbagai pertanyaan yang bergeliat di kepalanya sejak ia kecil. Segala bentuk norma, aturan, dan standar-standar yang ada di masyarakat membuatnya tidak nyaman.

Ia mendapat tekanan itu, mula-mula, dari sosok ibunya yang menginginkan Murata tumbuh sebagai gadis yang baik. Tuntutan itu didapat Murata sejak duduk di bangku kelas menengah: Dari mulai diminta mengambil kelas piano, diminta selalu berpenampilan rapi dan menarik, serta diminta masuk ke kampus tradisional perempuan. Tak sampai di situ, ibunya pun memberi penekanan bahwa kelak, Murata mesti mendapat pria yang baik dan dapat berkeluarga dengannya.

Seiring waktu berjalan, Murata jengah dengan semua itu, dengan segala tuntutan ada di keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Kejengahannya itu pula yang membuatnya mulai memikirkan beragam pertanyaan terkait hal-hal tadi. Pun, itulah membuatnya menapaki jalan kepenulisan. Dengan menulis, Murata yakin bahwa seberagam pertanyaan yang ada di kepalanya bisa tersalurkan. Dan, tentu pertanyaan-pertanyaan itu telah melewati fase permenungan terlebih dahulu.

Murata merenungkan tentang seberagam hal, tentang aturan-aturan, juga tentang standar-standar. Dari permenungan itulah, Murata menyisipkan kritik yang ingin ia layangkan pada setiap karya yang ditulisnya. Oleh sebab itu, maka kita sangat mudah menemukan corak gugatan yang ada dalam karya Murata berkisar tentang kemanusiaan dan sistem masyarakat yang ada sekitar kita.

Akan tetapi, bagaimana lengkapnya perjalanan hidup Murata bisa membentuk proses menulisnya sampai sekarang? Mula-mula, Murata memang telah menyukai dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dahulu, Murata kerap membayangkan alur cerita tertentu, kemudian menuliskannya. Lalu, saat masuk sekolah menengah pertama, Murata mendapat dorongan kuat dari jalan yang kini dipilihnya itu.

Murata pernah terjebak dalam tebing antara hidup dan kematian. Kala itu, ia yang masih siswi SMP merasa sakit hati sebab sahabatnya meninggalkannya, dan sahabatnya itu justru mulai mengolok-ngoloknya serta ia pun dikeluarkan dari “geng cewek” mereka. Apa yang dipikirkan Murata, selanjutnya, bisa sangatlah fatal: Bahwa ia akan bunuh diri dengan tujuan si sahabat tadi menyesali perbuatannya.

Untungnya, Murata merenungkan ulang pikirannya tersebut. Ia seolah bermonolog: Kalaupun aku mati, bukankah ada kemungkinan dia tertawa di pemakamanku? Maka, ia pun mengurungkan niatnya itu dan memilih untuk melanjutkan hidup. Pengalamannya itu juga yang membuatnya mulai menulis fiksi yang menjadi keterikatan pada kehidupan yang dijalaninya.

Sejak itu, Sayaka mulai berpikir bahwa apa pun rintangannya, ia mesti bertahan hidup dan sebisa mungkin melewatinya. Dan cara itu, salah satunya dilakukan dengan menjalani laku menulis. Lebih jauh, sekali lagi, bagi Murata, menulis adalah jalan pembebasan, pencarian kebenaran, dan medium untuk melayangkan kritikan.

Namun, proses yang dilewati Murata bukannya tidak pernah tidak berjalan mulus. Saat naik ke sekolah menengah atas, ia membaca novel Yamada Amy dan terpukau sendiri dengan kualitas bahasa serta nilai artistik dari novel tersebut. Murata pun mengalami fase kemandekan, ia minder dengan kualitas tulisannya sendiri. Itu adalah fase-fase absennya dari kegiatan menulisnya.

Baru saat ia memasuki perguruan tinggi dan setelah mengikuti kelas penulisan Bungaku, atau kelas menulis sastra yang serius, gairah menulis yang sebelumnya terpendam, bangkit kembali dalam diri Murata. Ia pun mengambil penanya, lalu mulai menulis lagi, dan terus-menerus menulis dari satu karya ke karya lainnya.

BACA JUGA  Book Shaming, Salah Satu Penyakit Kronis di Tengah Krisis Literasi

Saking kuatnya gairah itu, laku menulis pun tetap dijalani Murata kendati ia menjalani kerja paruh waktu di sebuah minimarket di tengah proses belajarnya di perguruan tinggi. Ia memberi jadwal yang ketat terkait proses menulisnya: Ia menulis dari pukul dua dini hari sampai enam pagi, lalu dilanjut dengan bekerja di minimarket dari pukul delapan sampai pukul satu siang, kemudian lanjut lagi menulis selagi ia istirahat untuk makan siang. Adapun dalam proses menulisnya itu, Murata biasa memberi jarak antara diri dengan cerita dan karakter-karakter di dalamnya.

Ia membiarkan proses mengambil alih, ia menulis seperti air mengalir. Selain itu, Murata terbiasa menyingkirkan “diri” yang ada di dalam sistem masyarakat yang sesungguhnya, sebab “diri”nya yang itu telah dipengaruhi dan memiliki bias-bias tertentu. Oleh sebab itu, Murata mengenal istilah “gelembung”, yaitu ruang yang dihuni “diri”nya yang lain, yang menggerakkan imajinasinya, yang berbeda dengan “diri” yang sudah terpengaruh oleh dunia di sekitarnya.

Dari situ, apa yang ingin dicapai Murata adalah kebenaran murni, kebenaran yang sesungguhnya, yang muasalnya dari interaksi para karakter atau tokoh dalam imajinasinya yang saling berdialog dan berhubungan dalam upaya mencari-cari kebenaran tersebut. Laku inilah yang membuat Murata tidak pernah membayangkan akhir dari cerita yang tengah ditulisnya.

Ia sepenuhnya menyerahkan hal tersebut pada keberadaan para karakter di dalam cerita tersebut dan membiarkan mereka bergerak dengan bebas, sampai menemukan titik yang membuat mereka berhenti. Dan proses itu terus dijalani Murata, dari waktu ke waktu, hingga ia menelurkan satu buah karya novel yang membuat namanya melambung di kancah global itu: Konbini Ningen atau Convenience Store Woman.

Kendati bukan novel pertama yang ditulisnya, tetapi novel Convenience Store Woman itu menjadi pembuka bagi jalannya untuk dikenal oleh lebih banyak lagi pembaca dari seluruh dunia. Publik global yang kian haus dengan karya-karya yang berbeda, mengandung keunikan, juga ciri khas atas semangat-semangat tertentu menyambut baik novel tersebut. Dengan begitu, kian banyak orang yang mengetahui corak dari kekhasan karya-karya Sayaka Murata.

Dan seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa apa yang  dilakukan Murata adalah pengembaraan kata-kata yang ingin mencari seberagam jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di (kepalanya) sekitarnya. Dari situ, gaung paling keras yang kemungkinan didengar pembaca terkait karyanya—terutama novel itu—adalah pertanyaan sekaligus gugatan:

Mengapa kita hidup di tengah dunia yang dipenuhi standar-standar kenormalan? Bagaimana kalau kita menjadi sosok yang keluar dari standar itu? Bukankah tidak masalah menjadi seorang anomali?

Lebih jauh lagi, permenungan Murata pun sampai pada titik yang tidak sebatas “mempertanyakan” saja. Sebab, lewat cerita-ceritanya, Murata telah sampai pada keinginan membayangkan satu tatanan baru yang lebih baik, yang ideal. Keinginan itu, kendati berbuah sebuah prosa yang ceritanya kelewat ekstrem, bisa kita lihat di dua novelnya, Earthlings dan Satsujin Susan (The Birth Murder).

Walaupun tidak murni dipandang sebagai novel-novel utopia ataupun distopia—lebih tepat dibilang di antaranya, kedua novel tersebut merepresentasikan gagasan Murata atas suatu dunia dengan tatanannya yang baru. Dan tentu, muasal atas imajinasinya untuk membayangkan sesuatu yang baru itu tidak terlepas dari misi yang ada dibenaknya: Murata terus mempertanyakan sekian hal dan ingin terus mencari kebenaran yang sesungguhnya atas hal-hal tersebut. Itulah tujuannya, itu pula yang membuatnya terus menulis.

Wahid Kurniawan
Wahid Kurniawan
Pegiat literasi. Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru