31.7 C
Jakarta

Seberapa Penting Kontemplasi dalam Menulis Cerpen?

Artikel Trending

KhazanahLiterasiSeberapa Penting Kontemplasi dalam Menulis Cerpen?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Menulis adalah salah satu cara bagi seseorang menyampaikan pesannya kepada orang lain. Tidak dapat dipungkiri, proses kreatif seseorang tentunya berbeda-beda. Sebab, setiap orang memiliki tingkat pengetahuan, pengalaman, perasaan, dan pemikiran yang berbeda-beda pula. Perbedaan itulah yang menyebabkan setiap penulis memiliki cara masing-masing dalam menuangkan gagasannya, salah satunya dalam bentuk cerpen.

Sebuah cerpen yang matang tentunya tidak terlepas dari dua unsur pembangunnya, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Keunikan teknik penyajian cerita, kekuatan karakter tokoh, setting hingga alur yang menarik merupakan salah satu ciri sebuah cerpen yang matang.

Kematangan unsur intrinsik misalnya pengembangan ide yang menarik, penciptaan karakter tokoh yang kuat, komposisi narasi dan dialog yang pas hingga sudut pandang yang ditawarkan oleh penulis kepada pembaca. Sementara kematangan dari segi unsur ekstrinsik, yaitu berkaitan dengan keterpaduan.

Maksudnya adalah segala sesuatu yang diceritakan berfungsi sebagai pendukung tema. Penyampaian berbagai peristiwa yang dialami tokoh bersifat saling menyusul—meski tidak selalu kronologis—hingga terbentuk plot, maka harus saling berkaitan secara logika.

Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra (karangan). Dengan demikian, ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat sebuah cerita pendek agar memiliki mutu tinggi. Karangan yang bermutu selalu berpangkal tolak pada pemikiran yang matang dan jelas. Hal ini akan tercermin antara lain dalam pemilihan kata dalam tata susunan kalimat dan dalam kerangka karangan yang gamblang tentang seluruh karangan itu (Heuken, 2008: 10).

Untuk mencapainya, dapat dilakukan dengan proses kontemplasi. Dalam artikel saya kali ini akan membahas mengenai proses kontemplasi yang bagi sebagian penulis terkadang dilewatkan begitu saja. Namun, bagi saya proses tersebut sangat diperlukan dalam penulisan cerpen.

Menurut KBBI kontemplasi adalah renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh. Kontemplasi digunakan untuk menjernihkan pikiran dengan perenungan agar dapat berpikir positif. Kata sepadannya adalah merenung, meditasi, tafakur, dan introspeksi diri.

Keterkaitannya dalam penulisan cerpen, yaitu penggodokan pelbagai unsur pembangunnya untuk diendapkan beberapa hari sebelum dikirim ke media. Proses ‘pengendapan’ inilah yang kemudian saya sebut sebagai kontemplasi atau perenungan bagi penulis.

Usai menulis naskah apakah tugas penulis sudah selesai? Jawabannya belum. Naskah yang sudah dihasilkan masih perlu diperam lagi; dibiarkan beberapa saat dalam hitungan hari, baru kemudian dikirimkan ke media yang dituju. Dalam masa kontemplasi, dibiarkan beberapa saat bukan berarti naskah didiamkan saja tanpa dilakukan apa-apa, melainkan ditengok kembali dan dibaca ulang.

BACA JUGA  Read Aloud, Pembiasaan Budaya Baca Sejak Kecil

Pada masa kontemplasi ini biasanya penulis akan menemukan kekurangan, semisal pemilihan diksi, ketidakpaduan antarkalimat maupun antarparagraf, dan kecacatan logika bercerita. Tidak jarang penulis harus membongkar kembali bagian yang sebelumnya dianggap sudah matang, namun setelah dibaca kembali ternyata masih terdapat kekurangan.

Unsur-unsur kontradiktif dalam salah satu karakter tokoh bisa saja ditemui—yang belum disadari sebelumnya. Pun terkadang ide-ide lain tiba-tiba merangsek masuk, membuat penulis berhasrat membelokkan alur cerita ke arah lain. Itu artinya fondasi cerita harus direkonstruksi ulang untuk dibangun kembali yang baru.

Kesalahan pengetikan yang barangkali belum disadari sebelumnya juga tidak kalah penting menjadi perhatian khusus dalam proses kontemplasi. Salah satu kecakapan yang diperlukan seorang penulis adalah keterampilan tata bahasa yang memadai. Keterampilan ini tidak begitu saja diperoleh tanpa pembiasaan dan pengalaman yang cukup.

Faktanya, keterbatasan penguasaan tata bahasa menyebabkan hambatan seseorang dalam menuangkan gagasan dalam kepala untuk menjadi sebuah tulisan yang mudah dipahami.

Pelbagai rangkaian proses yang terjadi dalam masa kontemplasi tersebut tidak hanya dilakukan sekali. Tetapi, perlu dilakukan berulang—dua sampai tiga kali—sampai benar-benar yakin naskah yang dihasilkan sudah sempurna, baik dari segi isi, bahasa, logika maupun alur bercerita.

Proses ini jelas akan memakan waktu karena membutuhkan ketelitian dan pengetahuan yang komprehensif. Jika sudah matang dan merasa layak dinikmati pembaca, barulah cerpen dikirim ke redaktur suatu media atau diunggah di blog pribadi maupun media sosial.

Saya pernah mendengar sebuah nasihat, ‘penulis yang baik adalah editor yang baik pula’. Ketika sebuah naskah cerpen sudah masuk meja redaktur, maka bila layak akan dilakukan proses editing; agar cerpen yang nantinya bakal diterbitkan sesuai dengan karakter media tersebut. Namun, tidak ada ruginya bila penulislah yang pertama kali mengeditori naskahnya sendiri. Hal ini juga mengindikasikan bahwa penulis memiliki kecakapan dalam menghasilkan sebuah karya.

Maka dari itu, kontemplasi dalam menulis cerpen sangat diperlukan. Bagaimanapun, keberhasilan sebuah tulisan adalah dapat dinikmati banyak orang. Kontemplasi hanyalah perkara cara dari sekian banyak proses yang ada. Seperti dikatakan di awal, proses kreatif seseorang tentunya berbeda-beda.

Namun percayalah, karya yang baik tidak mungkin dihasilkan dengan cara yang instan. Dibutuhkan kematangan dari pelbagai aspek hingga tersaji karya sastra yang layak dan dipahami oleh pembaca dari beragam kalangan. Modal seorang penulis selain kreativitas adalah, sabar, telaten, dan tidak mudah menyerah.

Finka Novitasari
Finka Novitasari
Perempuan kelahiran Pacitan yang kebetulan sedang menempuh pendidikan di Universitas Alma Ata, Yogyakarta. Menulis cerpen, esai, opini, dan sesekali menulis resensi buku. Beberapa karyanya telah dimuat di media cetak maupun daring. Aktif dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) dan Komunitas Menulis Daring (KMD) elipsis.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru