Saya Perempuan Anti Rasisme


0
26 shares

Jagat maya sempat dihebohkan oleh kejadian pelemparan telur pemuda usia 16 tahun kepada senator rasis di Australia. Hal itu bermula dari pernyataan kontroversial dan rasis si senator yang menilai aksi penembakan dua masjid di Australia diakibatkan dari banyaknya imigran muslim. Sontak saja, aksi tersebut menyebar ke berbagai platform media sosial dan oleh para kreatif dijadikan meme yang menggelikan sekaligus edukatif.

Sebenarnya, tidak perlu jauh-jauh untuk menemukan rasisme yang menggejala. Cukup kita melihat dalam diri yang sebenarnya kerap berpikir atau berucap rasis, sekalipun dimaksudkan untuk bercanda. Terutama, jika sudah berkaitan dengan warna kulit, suku bangsa, dan agama. Misalnya, begitu kita mendengar –maaf-  “orang Papua”, seketika muncul dalam benak sesosok manusia yang hitam dan berambut keriting. Kemudian, kondisi tersebut dijadikan olok-olok sebagai ‘manusia kelas dua’, satu tingkat di bawah manusia “Belanda coklat”.

Menurut Wikipedia, Rasisme merupakan suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu –bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras lainnya.

Sementara menurut KBBI Daring, rasisme sepadan dengan rasialisme yang bermakna (1) prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda; (2) paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul.

Berangkat dari definisi tersebut, agaknya kita tak sulit menemukan tragedi berdarah lantaran muncul dari sikap (politik) rasisme. Siapa lagi kalau bukan Hitler. Oleh karena Hitler merasa bangsa Arya adalah bangsa nomor satu di dunia, ia bersama tentaranya membantai habis-habisan umat Yahudi, demi menjaga kemurnian ras mereka. Sampai sekarang, bekas pembantaian tersebut diabadikan dalam bentuk museum, untuk mengingat masa kelam ketika Nazi berkuasa di Jerman.

Baca Juga:  Pesantren sebagai Instrumen Anti Radikalisme

Itu dalam lingkup yang besar. Sementara lingkup kecilnya adalah pergaulan kita sehari-hari. Baik sadar ataupun tidak, kita ternyata kerap melontarkan pernyataan rasis atau minimal pikiran yang rasis. Bahwa sebagai suku bangsa Jawa, misalnya, merasa lebih baik dan lebih maju dibanding luar Jawa.

Karena rasisme itu diajarkan –kalau bukan lewat jalur pendidikan formal, minimal budaya masyarakat yang mengajarkan demikian- maka kita perlu mewaspadai kapan dan dalam kondisi apa rayuan rasisme itu muncul di benak. Maka dari itu, kita perlu menyadari adanya ‘premis dasar’ dalam kehidupan ini. Maksudnya, bentukan budaya setempat yang mendefinisikan sesuatu atau seseorang sesuai dengan konstruk sosial-budaya -politik. Misalnya, ketika kita berhadapan dengan saudara kita yang berkulit hitam, muncul di benak bahwa mereka itu kasar dan tidak ideal. Premis dasarnya “berkulit hitam itu kasar dan tidak ideal”.

Ketika kita telah menyadari bahwa setiap kali ada orang berkulit hitam ada potensi muncul stigma semacam itu, maka kita menjadi lebih waspada. Memang sulit untuk melawan stigma yang kadung bercokol di kepala, namun dengan mengenali potensi-potensi kemunculan stigma, setidaknya kita bisa lebih mengontrolnya. Sehingga, tidak ada lagi ungkapan rasis yang jika itu dilontarkan kepada kita bisa melukai rasa dan merenggangkan tali persaudaraan.

Menjadi diri yang selalu waspada dengan rasisme adalah perjuangan awal menuju tatanan masyarakat yang damai. Bahkan itu menjadi semacam prasyarat untuk mengelola perbedaan yang niscaya, menjadi jalinan harmoni kehidupan yang penuh warna. Apalagi kita hidup di negara-bangsa yang tidak hanya kaya alamnya, tapi juga budaya, agama, suku, ras, dan golongan; tentu pandangan anti-rasis amat diperlukan demi menjaga persaudaraan.

Lagi-lagi, gerakan anti-rasis sepertinya perlu dimulai oleh dan dari perempuan. Karena, sadar atau tidak, perempuan ternyata memiliki kuasa yang kuat dalam kehidupan sosial-budaya kita. Maka sudah saatnya bagi perempuan pra-milenial, milenial, maupun pasca milenial, untuk mendeklarasikan diri dengan bisikan halus dalam diri “Saya Perempuan Anti Rasisme!”

Baca Juga:  Perppu Ormas dan Demokrasi

Oleh Latifatul Umamah, Mahasiswa MPI UIN Sunan Kalijaga.


Like it? Share with your friends!

0
26 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.