30.2 C
Jakarta

Satu Abad NU: Euforia Perjuangan untuk Kebangsaan

Artikel Trending

KhazanahTelaahSatu Abad NU: Euforia Perjuangan untuk Kebangsaan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Sebentar lagi, NU memasuki satu abad perjuangan yang panjang untuk Indonesia. Tahun 2023 ini, tepatnya pada bulan Februari nanti, peringatan 100 tahun usia NU menjadi salah satu momen istimewa dan momentum yang sangat sayang untuk ditinggalkan. Pasalnya, menilik eksistensi NU untuk Indonesia, ada banyak perjuangan yang sudah dilakukan, utamanya dalam merawat kebangsaan dari berbagai faktor. Hal ini juga diperkuat dengan wacana keislaman yang dibawa oleh NU, dengan corak tradisional dan sangat kuat dengan budaya Indonesia, menjadi salah satu kekhasan NU dengan tampilan ‘Islam Nusantara’.

Seperti yang kita ketahui bahwa, sejak berdirinya NU pada tahun 1926 silam sampai hari ini, organisasi ini memiliki jamaah terbesar di dunia dan memegang peran multisektor. Mulai dari ranah keagamaan, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, sosial-kebudayaan, hingga ranah kebangsaan.

Dalam buku yang ditulis oleh Nur Khalik Ridwan, yang berjudul ‘NU dan Neoliberalisme, Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad’ dijelaskan bahwa, NU dalam perjalanan hidupnya sebagai organisasi, sudah menjalani 3 fase, di antaranya: Fase pertama ketika NU didirikan menjadi partai politik. Fase kedua, NU keluar dari Majelis Syura Muslim Indonesia (Masyumi) dan menjadi partai politik sampai keluar dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Fase ketiga ketika NU menjadi gerakan sosial-keagamaan dengan menyebutkan kembali ke khittah NU 1926.

Sebagai anak kandung NU yang sejak lahir hidup di tengah masyarakat NU, kebahagiaan dan kegembiraan menyambut satu abad NU adalah sesuatu yang sangat wajar dimiliki oleh semua masyarakat NU. Meskipun tidak semua orang terikat dengan berbagai organisasi di bawah NU, menjadi pengurus ataupun menjadi bagian dari struktural NU, menjadi kultural NU adalah sesuatu yang sangat membahagiakan ketika menilik secara jauh organisasi NU yang usianya sudah memasuki satu abad ini.

Pertanyaannya adalah, apa yang bisa dibanggakan dari organisasi paling besar di dunia ini? Tentu kita tidak bisa menjabarkan satu persatu peran NU dalam merawat kebangsaan hingga berusia satu abad ini. NU sudah ada untuk Indonesia mulai sejak sebelum merdeka, lalu merdeka dan mengalami berbagai tantangan sangat berbeda dari masa ke masa. Apalagi hari ini, dengan arus informasi yang sangat mudah, wacana keislaman semakin banyak bergulir dan sangat beragam.

Salah satu perjuangan NU yang dalam menghadapi tantangan kebangsaan di masa silam, yakni dalam rentang waktu 1948-1965. Abdul Mun’in DZ menuliskan secara detail bagaimana sikap NU kepada PKI yang pada waktu memiliki benturan cukup keras dan menjadi salah satu masalah yang tidak dapat dihindari oleh bangsa Indonesia.

Sikap NU terhadap PKI, dengan berbagai dampak negatif yang diciptakan, seperti masyarakat yang meninggal, pemberontakan yang terjadi di mana-mana, menjadikan NU berdiri di garda terdepan dengan mengambil sikap secara tegas. Hal ini bisa dilihat dari seruan pada 3 Oktober 1965 untuk menyerukan pembubaran PKI beserta seluruh perangkat organisasinya yang hendak mengubah ideologi dan haluan negara.

Komitmen NU untuk merawat kebangsaan nyatanya juga diperkuat oleh Muktamar ke-17 di Situbondo, Jawa Timur, pada 1984, yakni kembali ke jati dirinya seperti ketika didirikan pada tahun 1926 silam. Momen ini kemudian dinamakan kembali ke khittah. NU menjaga jarak dari politik praktis dan kembali ke setelan awal yakni sebagai pengayom umat, mengurus dakwah, pendidikan dan pondok pesantren serta meningkatkan kualitas dari berbagai sektor tersebut.

Tantangan Kebangsaan Masa Kini

Di tengah arus modernisasi masa kini, wacana keislaman semakin menciptakan berbagai pemahaman. ‘Islam Nusantara’ yang dikenalkan oleh NU, tidak hanya digunakan oleh para masyarakat NU sebagai dakwah untuk menguatkan rasa cinta kepada bangsa Indonesia. Akan tetapi, kelompok-kelompok dakwah populer yang tersebar di media sosial, juga turut menyertakan ‘Islam Nusantara’ dengan wacana yang berbeda.

Gerakan yang dilakukan oleh para ustaz-ustaz populer ini nyatanya tidak melakukan dakwah untuk semakin meningkatkan kecintaan terhadap Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan tradisi dan nilai budaya. Justru sebaliknya, wacana keislaman yang dibawa adalah perjuangan para tokoh Islam supaya menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam.

Inilah yang kemudian dihadapi oleh NU masa kini. Produksi wacana keislaman semakin tidak terbendung. Propaganda yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang menyerukan kembali ke Islam memiliki ruang yang sangat luas dengan adanya internet. Posisi NU sebagai organisasi yang berada di garda terdepan untuk membela Negara Republik Indonesia mendapati persoalan yang sangat berat.

Jika di masa silam NU secara tegas menyerukan pembubaran PKI karena menyimpang dari ideologi dan haluan negara, hari ini tantangannya sangat berat. NU bukan hanya menyerukan pembubaran organisasi yang bertentang dengan NKRI, seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Islamiyah, dkk. Sebab pembubaran terhadap organisasi ini justru sudah dilakukan sejak dulu, akan tetapi eksistensi mereka tetap ada dengan bantuan teknologi dan menjelma menjadi berbagai organisasi dengan visi dan nilai sama tapi nama yang berbeda.  Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru