27.6 C
Jakarta

Santri Pondasi Indonesia: Semangat Revolusioner Memberantas Kaum Radikal

Artikel Trending

KhazanahTelaahSantri Pondasi Indonesia: Semangat Revolusioner Memberantas Kaum Radikal
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com-22 Oktober kemarin, menjadi salah satu momen penting bagi masyarakat muslim khususnya kaum santri yang belajar agama di pondok pesantren. Pasalnya, pada tanggal ini ditetapkan sebagai hari santri yang dirayakan oleh seluruh  kaum santri sebagai wujud komitmen kuat terhadap NKRI .

Resolusi jihad yang difatwakan oleh KH. Hasyim Asy’ari menjadi bukti penuh bahwa eksistensi ulama, kaum sarungan, khususnya santri berperan terhadap tonggak peradaban bangsa dalam menyemai dan merawat kemerdekaan NKRI.

Hari besar yang ditetapkan oleh pemerintah pada 2015 silam, kini menjadi sebuah perayaan yang cukup mengental dan selebrasi yang begitu meriah sebagai alarm bagi para santri agar tetap berkomitmen penuh terhadap NKRI.  KH. Hasyim Asy’ari adalah representasi kelompok sarungan, kiai, ulama serta mewakili seluruh elemen pesantren yang tegak dalam menjaga NKRI.

Semangat ini yang diwariskan kepada para santri. Sebab dalam sebuah metode pendidikan yang dijalani oleh pesantren, adalah keberkahan. Wujud untuk mendapatkan keberkahan ini adalah dengan melakukan sesuatu secara ikhlas, termasuk dengan mengikuti  perintah kiai, khususnya KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama karismatik yang menjadi salah satu pahlawan kemerdekaan Indonesia.

Unfinished Indonesia adalah peringatan!

Dalam tulisan sebelumnya, perkembangan zaman membuat kaum muslim urban berlomba-lomba untuk melakukan berbagai kegiatan yang menunjang terhadap kebutuhan spiritual mereka. Dengan kesibukan kegiatan yang begitu menyebalkan, mereka haus akan ilmu agama dan mencari agama sebagai salah satu sumber dahaga yang bisa menyembuhkan kehausan tersebut, Akhirnya, mereka bergabung dalam kelompok kanan, mengatasnamakan agama dalam setiap kegiatan yang dilakukan, termasuk ide pendirian negara khilafah terus berkembang.

Puncaknya ketika aksi belas Islam, serta gerakan pasca kegiatan tersebut menjadi sebuah kesimpulan bahwa narasi kejayaan khilafah di Indonesia semakin meningkat.  Kondisi ini menyebabkan adanya jarak yang cukup luas antara kelompok masyarakat pedesaaan, yang berasal dari pesantren cukup kental dengan semangat nasionalisme serta disiplin agama dari berbagai kitab klasik para ulama, dengan kelompok-kelompok muslim urban yang tergerus arus oleh organisasi kanan, tanpa pendidikan agama yang kuat, serta modal pengajian dan seminar-seminar keislaman.

BACA JUGA  Kisah Tiga Si Buta dan Fenomena Orang Sok Tahu

Keberadaan pondok pesantren di Indonesia, memiliki peran penting terhadap pola pikir, semangat juang dan komitmen diri terhadap bangsa dan agama. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan konsep keberkahan, ketakdziman serta nilai-nilai yang tidak bisa didapatkan dalam lembaga pendidikan lain, keberadaannya sejalan dalam membantu mengurangi penyebaran radikalisme di pondok pesantren.

Kita perlu berterima kasih kepada pondok pesantren, dimana saat ini menjadi lembaga pendidikan yang sangat dicari dengan mencetak SDM yang unggul serta terciptalah bibit bangsa yang peka melihat tantangan Indonesia semakin besar.  Kehadiran pondok pesantren yang masih eksis sampai hari ini merupakan bukti bahwa pendidikan di Indonesia cukup bagus dengan konsep pendidikan yang tidak didapatkan oleh lembaga pendidikan manapun.

Meskipun demikian, nyatanya banyak sekali pondok pesantren yang tidak sejalan dengan NKRI. Pondok semacam ini justru dijadikan markas berkembangnya pemahaman radikalisme, proses kaderisasi para teroris, penguatan organisasi yang membenci pemerintah serta berkomitmen terhadap pendirian negara khilafah.

Orang tua sebagai madrasah pertama yang akan memilih lembaga pendidikan terbaik untuk anaknya, harus mengetahui dan cakap memilih lembaga pendidikan yang pantas untuk dimasuki anak-anaknya. Jangan sampai, pondok pesantren yang dipilih justru bertentangan dengan NKRI, bahkan menjadi bagian dari kelompok radikal itu sendiri.

Menitipkan masa depan Indonesia kepada para santri

Tantangan diatas, kiranya tidak seberapa jika melihat semarak para santri dalam merayakan hari santri. Wajah sumringah serta semangat positif bahwa Indonesia akan tetap menjadi Indonesia karena adanya mereka di masa yang akan datang. Meskipun demikian, fakta demikian jangan menjadikan kita terlena. Artinya, tantangan tersebut harus kita seimbangi dengan upaya untuk meminimalisir penyebaran radikalisme yang semakin marak.

Dengan cara apapun, santri akan tetap ada untuk Indonesia dan menjadi tonggak utama dalam mempertahankan NKRI. Sebab dalam jiwanya, sudah tertancap NKRI Harga Mati! Yang tidak bisa ditukarkan oleh apapun, bahkan dengan embel-embel Islam yang dijanjikan oleh mereka. Wallahu a’lam

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru