30 C
Jakarta

Sales Khilafah dan Beberapa Kesalahpahamannya tentang Khilafah, Negara Islam, dan Baiat

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanSales Khilafah dan Beberapa Kesalahpahamannya tentang Khilafah, Negara Islam, dan Baiat
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Banyak istilah dalam Islam yang disalahpahami oleh pemeluknya sendiri. Biasanya kesalahpahaman ini cenderung kentara terlihat pada sales Khilafah belakang ini. Berikut beberapa istilah yang disalahpahami sales Khilafah.

Pertama, istilah “Khilafah” yang dipahami sebagai sistem kekuasaan Islami yang digunakan dalam suatu negara dan jelas sistem ini berbeda dengan sistem Demokrasi yang digunakan di Indonesia. Jelas pemahaman semacam ini keliru.

Telusuri semua redaksi ayat Al-Qur’an. Tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan kata “Khilafah”. Tetapi, yang ada adalah istilah “Khalifah” (bukan “Khilafah”) yang berarti manusia yang kasih amanah untuk mengatur bumi. Ada yang menafsirkan manusia yang dimaksud adalah Nabi Adam as.

Pertanyaannya, dari mana istilah “Khilafah” itu muncul? Ada sebuah hadis yang menyebutkan begini: Tsumma takun khilafah ala manhaj an-nubuwwah. Maksudnya, akan ada kembali era Khilafah yang mengikuti metode kenabian.

Khilafah yang dimaksud pada hadis tersebut bukanlah Khilafah yang dimaksud oleh sales Khilafah versi Hizbut Tahrir (HT), Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), dan Khilafatul Muslimin (KM). Khilafah yang dimaksud di atas menggambarkan pola hidup Nabi, baik dalam skala kecil (pribadi) maupun skala besar (organisasi).

Pola hidup Nabi menjunjung keterbukaan pemikiran, lebih-lebih dalam mengatur suatu negara. Maksudnya, Nabi tidak membatasi sistem hidup pribadi ataupun sistem negara akan didesain bagaimana pun selagi sistem itu menjunjung kemaslahatan bersama akan tetap diterima. Indonesia, misalnya, dengan sistem Demokrasi masih dapat diterima karena sistem ini mengedepankan kemaslahatan.

Kedua, istilah “Negara Islam”. Istilah ini sebenarnya bukan berasal dari dua rujukan utama umat Islam: Al-Qur’an dan Hadis. Istilah ini hanya dibuat oleh sales Khilafah yang ambisi menegakkan Khilafah di suatu negara. Bagi mereka, jika Khilafah tegak, maka negara akan menjadi Negara Islam atau negara yang semua sistemnya diadopsi dari syariat Islam.

BACA JUGA  Kelompok Radikal dan Cara Berpikir Mereka yang Eksklusif dalam Merespon Halal-Haram

Konsep Negara Islam yang dikampanyekan sales Khilafah hanyalah sebatas imajinasi. Hampir seluruh negara di penjuru dunia tidak menyebut dirinya Negara Islam kecuali Suriah yang dikuasai oleh ISIS. Sebab, untuk mendesain suatu negara menjadi Islami tidak harus menamakan dirinya Negara Islam. Islam itu bukan bentuk tapi substansi. Indonesia secara substansi sudah Islami dengan segala sistem yang diadopsi dari pelbagai syariat dalam beberapa agama, termasuk Islam.

Ketiga, istilah “baiat”. Baiat dipahami secara keliru oleh sales Khilafah sebagai salah satu pembeda antara sistem Khilafah sistem Demokrasi yang sekuler. Padahal, baiat yang sesungguhnya sekedar praktek seremonial sebagai simbol atau penyerahan diri dan janji setia rakyat terhadap seorang pemimpin.

Istilah baiat yang berbeda dengan baiat yang dipahami sales Khilafah sesungguhnya sudah ada jauh pada masa Nabi. Misalkan, Baiat Aqabah sebagai baiat Nabi terhadap para sahabat agar tidak menyekutukan Allah, mencuri, berzina, dan membunuh anak-anak mereka dan tidak pula mendatangkan kebohongan.

Beberapa kesalahpahaman ini membuktikan bahwa ajaran sales Khilafah, di antaranya, tegaknya Khilafah, Negara Islam, sampai pentingnya baiat, tidak dapat diterima. Maka, perlu berhati-hati dalam menerima informasi dari sales Khilafah.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru