29.6 C
Jakarta

Salafi dan Radikalisasi; Masjid Mal dan Apartemen Jadi Sasaran Empuk?

Artikel Trending

Milenial IslamSalafi dan Radikalisasi; Masjid Mal dan Apartemen Jadi Sasaran Empuk?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke salah satu distrik apartemen  Jakarta Selatan. Kebetulan, waktu itu menjelang Maghrib. Saya ikut berjemaah shalat yang, ternyata setelahnya juga digelar kajian. Di antara riuh-riuh pengunjung yang tidak kenal satu sama lain, yang tidak peduli satu sama lain, segala hal bisa terjadi. Sudah lumrah dalam kultur masyarakat urban, yang terpenting adalah diri dan kepentingannya.

Dalam hal ibadah shalat, misalnya, yang terpenting ia shalat. Selesai. Tidak peduli apa yang terjadi di sekitar. Kendati mungkin maklum karena tempat tersebut merupakan pusat belanja dan liburan, namun ada kelengahan di situ. Dan apa yang saya jumpai di sana boleh jadi mengejutkan: radikalisasi masjid.

Bagaimana saya menganggapnya radikalisasi? Apa tolok ukur bahwa yang diajarkan dalam masjid tersebut masuk paham radikal? Ini penting dijawab di awal. Radikalisasi, dalam pengertian yang sederhana, adalah proses meradikalkan seseorang melalui doktrin-doktrin tertentu. Ini jelas pendapat subjektif, dan sama sekali tidak bermaksud menyudutkan pihak tertentu.

Sementara itu, sebuah doktrin bisa dianggap radikal apabila mencederai pilar-pilar kebangsaan: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Radikalisasi masjid yang dimaksud di sini ialah indoktrinasi terselubung yang terjadi melalui masjid. Dalam arti, para dai dan ustaz yang berperan di dalamnya justru menjejal ajaran yang riskan untuk negara tercinta, Indonesia.

Radikalisasi masjid berlangsung melalui kajian-kajian dakwah Salafi. Masyarakat urban menjadi sasaran empuk karena mereka kerap kali awam dalam ilmu keagamaan, sehingga mudah untuk diindoktrinasi. Apa yang saya jumpai di beberapa masjid, di tempat-tempat umum, di tengah masyarakat urban di Jakarta, menunjukkan bahwa para dai Salafi benar-benar memanfaatkan peluang yang tidak orang terka.

Yang lumrahnya masjid di mal-mal tidak terurus, hanya tempat singgah shalat bagi pengunjung Muslim, sekarang tidak demikian. Para Salafi secara suka rela memakmurkannya—kesukarelawanan yang jarang dimiliki kalangan non-Salafi.

Karenanya, radikalisasi masjid menjadi tantangan. Alih-alih untuk mengeksklusifkan paham keagamaan, itu semua justru untuk melestarikan tradisi moderat yang kini banyak terdisrupsi. Tulisan ini berusaha menjabarkan tiga poin penting, yaitu Salafi dan proyek indoktrinasi mereka, upaya merebut wacana pengarusutamaan Islam, serta absennya kalangan moderat di tempat tertentu yang menjadikan sebagian kita lebih dekat dengan Salafi.

Selama pengusung moderasi Islam kalah pamor dan tidak banyak dikenal masyarakat, Salafi memiliki lahan basah untuk agenda-agenda global mereka. Dan kaum moderat tidak bisa menyalahkan keberhasilan tersebut.

Salafi dan Proyek Indoktrinasi

Dalam Salafism, Knowledge Production and Religious Education in Indonesia, Noorhaidi Hasan, penulis buku fenomenal Laskar Jihad, cukup tegas mengatakan, bahwa selama beberapa dekade terakhir, Indonesia telah melihat dampak eskalatif dari dakwah transnasional.

Berkat dukungan dana besar dari Arab Saudi, kegiatan dakwah yang berfokus pada mempromosikan Salafisme menjamur, yang ditandai dengan bermunculannya yayasan dan madrasah yang berorientasi Salafi di Indonesia. Fenomena ini tidak banyak disorot banyak orang, kecuali bahwa umat Islam di Indonesia semakin religius, meski dengan religiusitas yang fatal.

Paling tidak sejak era Reformasi, menurut Noorhaidi, Salafi telah berhasil membangun aktivisme Islam versi eksklusif otoritas agama di Indonesia. Karena kampanye Salafi yang intensif, Muslim Indonesia juga semakin rentan terhadap pengaruh pemurnian iman yang kaku yang hampir tidak menerima keragaman ekspresi agama dan budaya yang, tantangannya, tidak hanya bagi otoritas keagamaan yang ada, melainkan juga bagi legitimasi organisasi Muslim yang sudah mapan.

Kampanye Saudi berdampak, paling utama, menurut Noorhaidi, pada maraknya literatur Salafi di sekolah dan universitas di satu sisi, dan maraknya eksklusivisme di sisi lainnya.

BACA JUGA  Logo Halal: Pertarungan Kemenag Vs MUI dan Gorengan Kaum Ekstrem

Karya-karya terjemahan ‘Aid al-Qarni, Muhammad Nasiruddin al-Albani, dan Muhammad Salih al-Utsaimin, sebagai contoh, menjadi referensi favorit. Para tokoh Salafi percaya bahwa misi utama mereka adalah untuk memurnikan keyakinan dan praktik Muslim Indonesia yang telah lama bid’ah dan sesat, baik itu di pesantren maupun ormas mapan seperti NU dan Muhammadiyah.

Para dai Salafi mengajak mereka untuk kembali ke interpretasi yang benar dari Al-Qur’an dan sunnah, sesuai dengan contoh yang diberikan oleh para salaf al-shalih. Untuk tujuan itu, pertama Salafi mengajarkan penyucian (tasfiyah) dan yang kedua pendidikan (tarbiyah).

Namun demikian, indoktrinasi Salafi ternyata tidak hanya berlangsung di ruang pendidikan di mana pelajar menjadi target. Masjid menjadi struktur mobilisasi yang tidak kalah penting, yang darinya lahir komunitas jemaah mereka. Di awal, kajiannya sangat mendasar tentang Islam.

Purifikasi ditempuh dengan menyudutkan lokalitas sebagai sesuatu yang menyimpang dari agama. Untuk mendestruksi kepercayaan jemaah, para dai Salafi bertolak dari doktrin tentang fanatisme (ta’ashub, ashabiyah). Organisasi kemasyarakat seperti NU dan Muhammadiyah dianggap telah banyak melenceng, lalu jemaah diajak untuk kembali ke kemurnian Islam.

Pada akhirnya, oleh Salafi dan proyek indoktrinasinya, masjid menjadi ruang eksklusif yang meski berada di tengah-tengah mal, umpamanya, tetapi dakwahnya justru radikal. Melalui masjid-masjid di tengah masyarakat urban itulah, mereka menyebarkan paham secara bertahap: dari yang paling halus sampai keras.

Sehingga jemaah tidak menyadari bahwa mereka telah diindoktrinasi, bahkan boleh jadi tidak akan mau dianggap menjadi korban Salafi. Para jemaah yang telah jadi produk radikalisasi masjid tersebut justru merasa mendapat pencerahan ihwal beragama yang benar. Salafi, dengan doktrin kemurniannya, telah mereka anggap Islam arus utama.

Absennya Kaum Moderat

Mungkin beberapa di antara kita ada yang tidak setuju, tapi faktanya memang demikian. Bahwa radikalisasi masjid terjadi karena ada celah yang memungkinkan para Salafi menanamkan doktrin ideologis mereka dengan topeng kemurnian Islam. Di tengah kelengahan kaum moderat, Salafi bergerak cepat.

Mereka tidak butuh bayaran, dan kalau pun nanti mendapat bisyarah maka itu dianggap bonus. Tujuan utama mereka adalah berdakwah ke seluruh pelosok. Kesukarelawanan tersebut menjadi siasat dakwah yang susah dimiliki kalangan lain, bahkan kalangan moderat sendiri. Selain terlalu birokratis, kaum moderat kurang kuat di sisi militansi.

Artinya, absennya kaum moderat bukan disebabkan ketiadaan akses bagi mereka untuk menguasai masjid di seluruh Indonesia. Masjid-masjid besar, boleh jadi mereka memegang struktural yang besar sebagai pengurus dan pengisi dakwah. Tetapi siapa yang peduli masjid di mal-mal yang teralienasi dari pengawasan? Sedikit.

Apalagi, misalnya, struktur kepengurusannya tidak jelas. Pasti enggan mengisi. Dan yang paling miris, tetapi perlu dikatakan di sini sebagai bahan evaluasi, beberapa kalangan yang mengklaim moderat ternyata memandang bisyarah. Minimnya jiwa kesukarelawanan ini yang benar-benar dimanfaatkan kaum Salafi.

Maka bukan sesuatu yang mengherankan ketika Salafi menguasai masjid-masjid tertentu, dan menjadikannya sebagai sarang radikalisasi. Mencekoki jemaah yang hadir dengan ajaran Islam puritan, eksklusif, dan gemar membid’ahkan dan menganggap sesat sesama Muslim, adalah konsekuensi logis dari absennya kaum moderat.

Kaum moderat hanya beroperasi di masjid-masjid mainstream, dan hanya sedikit yang bersedia masuk ke masjid-masjid pelosok atau masjid perkotaan yang terpencil seperti di mal dan sejenisnya.

Radikalisasi masjid akan terus berlangsung, selama kaum moderat tidak bergerak secepat Salafi dalam masalah kesukarelawanan. Thus, kaum moderat mesti masuk ke segala lini, ke segala masjid, untuk melawan siasat dakwah radikalisasi oleh Salafi.

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru