31.7 C
Jakarta

Sakratul Maut Terorisme di Indonesia

Artikel Trending

Milenial IslamSakratul Maut Terorisme di Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj, MA (Ketua Umum PBNU), dalam satu kesempatan Wabinar ISNU dan BNPT bertema “Mencegah Radikalisme dan Terorisme Untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial” mengatan bahwa terorisme sudah akut di negara Indonesia.

Tak dapat dipungkiri, sejak bergolaknya paham Wahabi ke Indonesia, yang berlandaskan alas pemikiran ektrem menjadi lumbung kekerasan. Ulama Wahabi bergelirya saling memproduksi fatwa haram dan halal. Hingga, akhirnya, konfrontasi di akar rumput menjadi ketegangan. Ulama Wahabi dan Ulama moderat macam NU dan MU, mengalami kontestasi. Sektor harmonisasi sosial pecah dan menjadi kering.

Wahabi adalah benih terorisme. Wahabi adalah pintu masuk untuk menjadi teroris. Sebabnya ia berpaham bid’ah, dhalalah dan lain-lain. Dalam simpang jalannya, ia kerap menjelma Al-Qaeda dan ISIS. Dari simpang itulah, ulama Wahabi banyak ditangkapi di Arab Saudi.

Terorisme dan Ekspansi Ajarannya

Ambisi Wahabi yang kemudian menjadi teroris demi menancapkan ajarannya tak tanggung. Ia rela membunuh siapa pun. Anak kecil, dewasa, perempuan, dan para tetua, lehernya bisa tertebas jika kemaunnya tak terturuti. Siapa pun yang menghalau projeknya, tanah kering adalah tempatnya.

Terorisme terjadi di mana-mana. Karena berbagai sektor mereka tahu jalannya. Kebijakan di sektor politik, ekonomi, digital, sosial budaya dan agama, menjadi dalang untuk menjadi lorong ekspansi terorisme. Akibatnya, silang menyilang terlakukan politisi yang memiliki basis “politik hitam”. Mereka tak melakukan pertapaan dan praktik gigit jari. Tetapi mereka melakukan akis-aksi yang bagi banyak orang Indonesia sulit sulit mengerti.

Media sosial menjadi incubator dan alat transformasi paham terorisme. Mereka bergerak dari bawah tanah. Generasi milenial adalah incarannya. Karena bagi teroris, generasi milenial adalah barang yang rentan dan mudah layu, kemudian sempoyongan menerima ajaran teroris. Hingga akhirnya ia menjadi barang murah, yang mudah diledakkan.

BACA JUGA  Sumber Petaka HTI di Lapas, Mungkinkah Ada Sipir Khilafahers?

Teroris adalah ideologi mensakratulmautkan orang. Variasinya, lahir dari hilir. Kemudian bergilir menjadi silir. Doktrin kaku, ekslusif, dan keras terterapkan. Salah satu faktor mengapa ia begitu bengis terhadap agama lian dan membunuhnya, tak lain dari pengaruh Wahabisme. Arab Saudi selama 30 tahun tersusupi pengaruh Wahabi lewat kerajaan. Yang kemudian, paham Wahabisme ini telah menjadi raja itu sendiri.

Teroris telah menjadikan negara dan agama (Islam) sebagai negara dan agama teroris. Dan kaum-kaumnya jadi robot untuk menumpas manusia lian sekaligus budak seksual. Tak ada kata penolakan, bila tak mau disakratulmautkan. Sudah banyak bukti bahwa kombatan yang menolak, darahnya mengalir. Darahnya mengairi sekaligus menbanjiri.

Kita Berhak Menumpasnya

Tapi masih banyak yang siap setia pada teroris. Agama adalah referensi utamanya. Di Indonesia, sampai kini, sungguh subur kesetiaan pada teroris itu. Buktinya, begitu banyak sel-sel berdiri. Kelompok-kelompok teroris bermunculan. Ia berada di area yang senyap. Tapi sekali “klik” di momentum yang tepat, bocorlah pertahanan otoritas negeri ini.

Terorisme mengatasnamakan agama. Tapi sesungguhnya ia adalah musuh agama sendiri. Bagi kita, hanya kounter narasi, kounter wacana, kounter ideologi, dan perihal ini yang bisa terpraktikkan. Otoritas yang patut meringkusnya. Dan juga otoritas bertanggung jawab atas itu semua. Otoritas harus membuat negara aman dan nyaman.

Terorisme tak patut diberikan tampat. Solusi moderat adalah kunci yang tepat. Penangkapan terorisme sembari terapi “suci” adalah jalan mensakratulmautkan ideologi teroris dan terorisme ini. Perilaku teroris yang membunuh bertentangan dengan sunnatullah. Maka itu, ia wajib ia harus sakratul maut. Sebelum kita dan negara disakratulmautkan oleh para teroris ini. Ayoh kita pilih.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru