26.8 C
Jakarta

Ruang Digital Perlu Diisi dengan Budaya Indonesia

Artikel Trending

AkhbarNasionalRuang Digital Perlu Diisi dengan Budaya Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Jakarta – Akibat dari literasi  digital  pada masyarakat memunculkan masalah utama seperti maraknya penyebaran berita bohong (hoaks), penipuan berani, perundungan siber, maraknya ujaran kebencian hingga radikalisme berbasis  digital .

Untuk menghadapi dampak negatif dari kemajuan internet tersebut, maka yang harus dilakukan adalah para pengguna media sosial atau ruang  digital  untuk tidak langsung percaya pada berita online, berpikir jernih dan menyadari adanya motivasi tertentu dari suatu berita online.

“Jangan ikut menyebarkan berita yang tidak jelas asal usul dan kebenarannya,” kata Ketua DPRD Kabupaten Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, SE, pada Webinar Ngobrol Bareng Legislator yang diselenggarakan hasil kerja antara Komisi I DPR RI dengan Ditjen Aptika Kemkominfo pada 21 Juli 2022.

Webinar dengan tema Mewujudkan Ruang Digital yang Berbudaya Indonesia tersebut menghadirkan narasumber lainnya yakni Direktur Jenderal Aptika Kemkominfo Semuel Abrijani Pengerapan BSc, Anggota Komisi I DPR RI HM Idham Samawi, Dosen Komunikasi, Praktisi Media, Pengamat Seni Ryan Bagus Wuryantoro.

Endah menjelaskan setiap pengguna ruang  digital  harus menyadari risiko hukum (UU ITE, KUHP, dll) yang mengancam kita jika ikut penyebar kebencian, suka, pencemaran nama baik,

penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, menghasut, dan penyebaran hoax. “Bangga dan lakukan berbagi info yang positif. Kabarkan Keragaman budaya, kreasi, dan keindahan sekitar kita,” katanya.

Anggota Komisi I DPR RI HM Idham Samawi mengatakan mengajak seluruh masyarakat untuk berharap masyarakat untuk membocorkan masa depan Indonesia yang lebih baik. “Baik di ruang  digital  maupun tatap muka dan sebagainya, kita harus menjaga menjaga Indonesia,” katanya.

BACA JUGA  Kiai Said Aqil Sebut Terorisme dan Radikalisme Tantangan di Era 4.0
Dia menjelaskan berbudaya Indonesia adalah budaya yang berketuhanan yang maha esa, budaya yang berkemanusiaan adial dan beradab, budaya yang berpersatuan Indonesia, budaya bermusyawarah untuk mufakat dan budaya yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.“Dengan kata lain, budaya Indonesia adalah budaya yang Pancasila karena ini sudah merupakan tekad dari seluruh bangsa Indonesia. Ketika Proklamasi Kemerdekaan 1945,bangsa ini sudah membuat keputusan bahwa bangsa ini berideologi Pancasila, negara ini berlandaskan Pancasila,” katanya.

Praktisi Media, Pengamat Seni Ryan Bagus Wuryantoro menjelaskan ada data yang menarik dimana penduduk Indonesia mencapai 272,1 juta dengan koneksi HP mencapai 338,2 juta, lebih dari jumlah penduduk dengan pengguna internet mencapai 175.4 juta dan 160,0 juta diantaranya memiliki akses media sosial.

Dengan data tersebut katanya, literasi  digital  yang dapat menghadirkan Indonesia di ruang  digital  sudah seharusnya dilakukan sejak tingkat SMP bahkan SD karena dunia  digital  sudah sangat masif dan menjangkau seluruh usia.

“Ruang  digital  itu bukan ruang yang hampa yang berbeda dengan kebudayaan kita. Kita ingin membawakan budaya Indonesia masuk ke ruang  digital .

Sejak Indonesia mengenal ruang  digital , sudah seharusnya membawa nyawa ke-Indonesia-an. Ini yang menjadi tantangan kita semua,” katanya.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru