25.2 C
Jakarta

Rethinking dan Aktualisasi Jihad di Era Pandemi

Artikel Trending

Berbicara mengenai isu jihad dalam Islam dan dinamika global, mungkin tidak akan menemukan titik akhir. Isu-isu jihad akan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu pembicaraan atau diskusi tentngnya tidak akan dikatakan basi. Baik para ilmuan yang mencoba memberikan argumentasinya melalui lisan, dalam acara seminar, diskusi, pembinaan dll, ataupun bagi para cendekiawan yang mencoba menuangkan gagasannya melalui penanya.

Tentunnya dalam hal ini akan muncul kesimpulan yang variatif. Hal yang demikian dikarenakan konsep jihad sendiri hingga saat ini dapat diinterpretasi sesuai dengan siapa penafsirnya, kondisi sosio-kultural, hingga ideologi seseorang yang menafsirkan konsep jihad tersebut.

Penulis pribadi dalam artikel ini tertarik untuk membahas konsep jihad itu sendiri melalui pendekatan moderat. Terlebih penulis juga tertarik memadukan atau merelevansikan spirit jihad pada era pandemi sekarang. Mungkin pandemi sampai sekarang terus mengalami kenaikan hingga mencapai kurang lebih lima puluh juta manusia di dunia ini telah terpapar oleh virus mematikan ini. Lantas di manakah letak keterkaitan antara merebaknya era pandemi dengan konsep jihad yang sering digaungkan oleh umat Islam?

Tekstualitas Jihad

Tidak jarang terdengar terdapat beberapa kelompok yang mengampanyekan konsep jihad sebagai sebuah satu jalan untuk membela agama melalui dalil-dalil teologis yang dijadikan hujjah. Atas dasar pemahaman yang cenderung tekstualis memaknai kata jihad sebagai sesuatu yang identik dengan peperangan, qital, atau bahkan dalam konteks kontemporer spirit radikalis-ekstremis melawan hingga memerangi kalangan non-Muslim.

Buya Syafi’i Maarif pernah membantah terkait pandangan di atas. Ia tuliskan dalam salah satu karyanya, Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan bahwa, “Tidak jarang pada era modern sekarang banyak kelompok-kelompok yang tidak sadar telah memperkosa spirit ajaran-ajaran agama dengan alasan membela agama atas dasar-dasar Al-Qur’an dan hadis Nabi”.

Penulis pribadi sepakat dengan pandangan Buya Syafi’i Maarif di atas, di mana tidak banyak dari kelompok-kelompok orang di bangsa ini yang mempunyai pemahaman yang demikian, yang menurut penulis sangat mengkerdilkan makna holistik ayat-ayat Al-Qur’an ataupun hadis-hadis Nabi. Adapun dalam hal ini bukan penulis mencoba mereinterptretasi pemaknaan konsep jihad pada era sekarang dengan konteks pandemi yang sedang melanda seantero dunia.

Jihad sendiri tidak hanya terbatas kepada pemaknaan literal, berjuang dengan senjata, pedang, atau menjalankan sebuah peperangan. Akan tetapi mempunyai makna lebih luas yang sering terlewatkan dalam pandangan manusia. Jihad ialah adanya sikap berjuang serta rela berkorban atas dasar keikhlasan dan demi kebaikan serta kesejahteraan agama dan keharmonisan sosial. Menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah, jihad mempunyai dua makna. Pertama, mencurahkan segala kemampuan atau menanggung pengorbanan. Kedua, bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu.

BACA JUGA  Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Dari pandangan diatas, dapat ditarik sebuah relevansi konsep jihad dengan kondisi pandemi sekrang. Dalam masa pandemi spirit jihad kiranya teraplikasikan dengan spirit melawan Covid-19, spirit rela berjuan untuk menghilangkan wabah virus di dunia ini.

BACA JUGA  Revolusi Akhlak HRS vs Revolusi Akhlak Syekh Abu 'Ala 'Afifi

Dalam konteks ini mungkin para anggota medis merupakan pemimpin garda terdepan untuk melakukan jihad melawan pandemi, akan tetapi tidak dapat dipungkiri bagi seluruh masyarakat yang taat akan anjuran protokol kesehatan secara tidak langsung meraka telah berusaha untuk berjuang mengorbankan fisik ataupun material demi melawan dan menghentikan wabah pandemi.

Perjuangan para tenaga medis serta segenap masyarakat yang berusaha mencegah persebaran virus yang begitu massif ialah sebuah aktualisasi spirit jihad era kontemporer. Dimana mereka semua berjuang sekuat tenaga dan sepenuh hati untuk melawan wabah pendemi ini, layaknya seorang pejuang atau tentara muslim yang gigih bertempur di medan peperangan pada era Rasulullah.

Aktualisasi kegigihan perjuangan yang demikian yakni dengan selalu mentaati protocol kesehatan, menyebarkan isu-isu isnpiratif di tengah rasa shock yang tengah melanda kehidupan manusia, hingga mensedakahkan harta bendanya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan di wilayah-wilayah yang sedang terdampak pandemi. Semua aktivitas diatas menurut hemat penulis ialah sebuah bnetuk aplikasi dan aktualisasi moral value yang dikehendaki atas spirit jihad yang diajarkan Allah serta Nabinya melaui Al-Qur’an dan sunnah.

Sehingga di akhir artikel ini penulis berkesimpulan bahwa, konsep serta aktualisasi jihad dari masa ke masa ialah bukanah sebuah aktivitas kehidupan yang memberikan dampak negatif terhadap kehidupan. Melainkan ialah semua aktivitas kehidupan manusia khususnya umat Muslim, baik pengorbanan dan sikap rela berkorban untuk menegakkan kemaslahatan bersama yang memberikan dampak positif.

Tidak hanya terhadap kehidupan manusia akan tetapi kepada kesejahteraan alam dunia. Maka dalam konteks kondisi ketika bumi sedang terkena musibah pandemi berjuang melawan dan menyingkirkan wabah pandemi dari muka bumi ialah sebuah bentuk sikap jihad yang patut diteladani dan terapalikasikan dalam dinamika kehidupan sekarang. Waallahu A’lam.

Avatar
Ahmad Fahrur Rozi
Mahasiswa Program Studi Ilmu Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Awardee PBSB Kemenag RI 2017.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru