29.5 C
Jakarta

Resolusi Tahun Baru Melawan Radikalisme

Artikel Trending

Milenial IslamResolusi Tahun Baru Melawan Radikalisme
image_pdfDownload PDF

Tak terasa kita sudah memasuki tahun baru 2020. Begitu cepat tahun demi tahun berlalu. Padahal, masih banyak hal yang belum kita capai. Salah satunya, menjadi pribadi yang muslim, sosok yang dapat menebar perdamaian, dan muhajir, sosok yang mampu berpindah dari paham radikal menuju paham moderat.

Menjadi muslim tidak cukup hanya membatasi pada status agama yang dianut. Tidak benar, kita merasa bangga dan merasa paling benar, karena telah membaca dua kalimat syahadat dan gemar melakukan shalat, bahkan menunaikan ibadah haji di Mekkah. Sedang, kita sering mengabaikan derma terhadap sesama.

Tidak benar pula membatasi kemusliman kita hanya pada pakaian yang dikenakan, seperti pakai serban, gamis putih, sarung, dan berjenggot panjang bagi pria dan pakai cadar bagi wanita. Sesungguhnya kemusliman kita hanya dapat diukur dari kualitas ketakwaan masing-masing. Disebutkan dalam kalam-Nya: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. (s. al-Hujurat a. 13).

Lebih dari itu, kemusliman kita hanya dapat dibuktikan dengan cara kita mencintai orang lain persis sama dengan cara kita mencintai diri sendiri. Kita melihat orang lain seakan kita melihat diri sendiri. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita. Sebaliknya, kesedihan mereka adalah kesedihan kita. Jika kita mampu membuktikan kualitas cinta ini, maka kita telah menjadi muslim sejati.

Terkait kualitas cinta tersebut, Nabi Muhammad Saw. menyebutkan: Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga dan kematian mendatanginya dalam kondisi dia beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia bersikap kepada orang lain dengan sikap yang ingin dia dapatkan dari orang lain. (HR. Muslim). Pada kesempatan yang lain, Nabi Saw. menegaskan: Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim).

BACA JUGA  Refleksi Hardiknas: Selamatkan Lembaga Pendidikan dari Wahabisme!

Menanamkan prinsip takwa dan mencintai orang lain persis sama dengan mencintai diri sendiri merupakan resolusi (hijrah) yang sesungguhnya, lebih-lebih saat memasuki tahun baru. Resolusi ini menjadi penting karena pada diri kita terdapat hawa nafsu yang sering mendorong kita melakukan perbuatan mungkar. Sebut saja, aksi radikal yang melahirkan sikap ekstrem mengkafirkan (takfir) orang yang berbeda paham. Kemudian, sikap takfir menghipnotis kita melakukan tindakan maha zalim, yaitu aksi teror.

Rangkaian tindakan ekstrem (ghuluw) merupakan cara beragama yang keliru dan terlarang. Larangan ini ditegaskan dalam firman Allah Swt.: Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. (s. an-Nisa’ a. 171). Alasan sederhana larangan beragama dengan ekstrem adalah memberatkan dalam beramal, sedang dalam sebuah hadis disebut: Sesungguhnya agama itu mudah. (HR. Bukhari). Bahkan, dalam firman-Nya ditegaskan: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (s. al-Baqarah a. 185).

Thus, dengan masuknya tahun baru, resolusi paling penting bagi kita bukan hanya memperbarui penampilan jasmani, tetapi juga memperbarui motivasi rohani. Karena, kita adalah manusia yang tersusun dari dua hal ini. Bila keduanya dipisah, kita akan cenderung menjadi muslim ekstremis-radikalis yang hanya melihat keislaman seseorang sebatas penampilan fisik tanpa melihat kualitas ketakwaan rohani, dan cenderung menjadi muslim yang jumud karena tidak mempedulikan kesehatan jasmani.[] Shallallah ala Muhammad.

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru