Rendra dan Dosa-dosaku

Bagiku, membaca karya-karya Rendra terutama puisi-puisinya baru ketika duduk di bangku kuliah adalah suatu keterbelakangan.


0
2 shares

Ini pengakuan dosa. Ihwal keterlambatanku membaca karya Willibrodus Surendra Broto yang lebih akrab disapa W.S. Rendra atau Rendra saja. Bagiku, membaca karya-karya Rendra terutama puisi-puisinya baru ketika duduk di bangku kuliah adalah suatu keterbelakangan. Seharusnya itu sudah kulakukan jauh sebelum aku mendaulat diriku sebagai mahasiswa yang mengaku suka pada sastra. Ketika SMA misalnya, nukilan puisi-puisi Rendra ada di buku-buku teks pelajaran Bahasa Indonesia. Pembacaanku pada Rendra berhenti sampai pada penggalan-penggalan itu. Aku tidak pernah bersikeras mencari kelengkapan puisi-puisi Rendra dalam bentuk buku.

Rendra menjadi hutang yang harus kulunasi ketika aku jadi mahasiswa. Sosok Rendra kemudian belingsatan dalam benakku. Lebih dari itu, ia menyeretku untuk lebih dalam masuk kepada keseharian hidupnya yang serba “nyetrik” itu. Lahir di Solo pada 7 November 1935 dari rahim seorang penari serimpi Keraton Surakarta Hadiningrat, Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya R Cyprianus Sugeng Brotoadmodjo adalah seorang dramawan tradisional, juga seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik Solo. Rendra kecil sudah akrab dengan dunia kesenian. Sosok Willi (sapaan Rendra kecil) digadang-gadang keluarganya setiapkali acara rutin nembang di kalangan keluarganya yang ningrat. Tidak sedikit dari pihak keluarga yang mengakui kelihaian Willi ketika tampil di atas panggung. Sejak kecil rupanya bakat menjadi “burung merak” itu sudah tampak dalam diri Rendra.

Awal Kepenyairan Rendra

Drama pertamanya, Kaki Palsu dipentaskan ketika ia SMP. Sedangkan puisi pertama Rendra dipublikasikan media massa pertamakali pada 1952 di Majalah Siasat. Di kalangan teman-teman sekolahnya, kelihaian Rendra memadu kata juga mulai mendapat perhatian. Pernah suatu kali, seorang teman lelaki meminta Rendra untuk menulis surat cinta. Rendra menuliskannya. Surat itu kemudian diterima si perempuan dan membuat si perempuan luluh. Selanjutnya, teman perempuannya itu mendatangi Rendra guna meminta tolong untuk menuliskan surat balasan atas pengiriman surat yang lalu. Rendra memenuhi permintaan itu. Jadi Rendra menulis dan membalas suratnya sendiri.

Baca Juga:  Menangkal Hoax dengan Literasi

Dari Panggung ke Panggung

 Tidak terlalu menyedihkan bagi kita yang baru-baru saja mendapat ilham menggumuli karya-karya Rendra. Meski tidak dapat menyaksikan langsung bagaimana aksi teatrikalnya di atas panggung, toh kita mewarisi potret-potret Rendra saat membacakan puisinya dari panggung ke panggung. Potret-potret itu sedikit banyak mewakili kehadiran Rendra dalam proses pengenalan kita kepada dirinya sebagai pribadi maupun sastrawan sekaligus seniman. Celana bersaku banyak dan rambut godrong mengejawantahkan sosok Rendra yang “nyentrik”.

Semasa kuliah di Yogya, Rendra mulai membacakan puisinya sendiri di atas panggung. Membaca puisi di atas panggung kemudian menjadi semacam candu. Ia mulai melanglang dari panggung satu ke panggung lain. Seiring dengan keberagaman tema yang ditulis Rendra, tema politik dan pemerintahan juga turut diseretnya. Lahirlah puisi-puisi bernada protes yang amat dibenci pemerintah berkuasa saat itu. Akibatnya, Rendra pernah dilarang mementaskan dramanya seperti yang berjudul SEKDA dan Mastodon, dan Burung-burung Kondor di atas panggung di Taman Ismail Marzuki.

Namun, bukan Rendra namanya apabila ia tunduk pada kuasa pemerintah yang mengebiri kebebasan dirinya. Ia nekad membacakan puisi-puisinya bahkan mulai berani mengenakan tarif bagi siapa saja yang ingin menikmati puisi dan aksi panggungnya. Singkat cerita, makin hari semakin banyak yang datang untuk menyaksikan Rendra membaca puisi di atas panggung. Penghasilan Rendra mengalir dari uang tarif yang dikenakan kepada setiap pengunjung yang hadir dalam pembacaan puisinya.

Selain menulis dan membacakan puisi, saat menjadi mahasiswa ia juga telah banyak menulis cerpen dan esai di pelbagai media nasional. Di antara sekian banyak karyanya, yang melegenda antara lain Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Pamphleten van eer Dichter, State of Emergency, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, dan Mencari Bapak. Buku-buku lain di antaranya Balada Orang-orang Tercinta (Kumpulan sajak) terbit tahun 1957, Empat Kumpulan Sajak (1961), Perjalanan Bu Aminah, Nyanyian Orang Urakan, Potret Pembangunan Dalam Puisi (1980), Orang Orang Rangkasbitung (1992), Disebabkan oleh Angin (1993), Rendra: Ballads and Blues Poem. Sedangkan Do’a untuk Anak-Cucu (2013) dan Puisi-puisi Cinta (2015) diterbitkan usai kematiannya pada 2009 lalu.

Baca Juga:  Ambillah Hikmah dari Al-Ghzali; Bukan Mencari Sesuatu Di Balik Menulis

Cinta, Agama, Kematian

Sudah semenjak belia kehidupan Rendra dikelilingi banyak teman-teman perempuan. Ia kemudian memutuskan menikah pada usiake dua puluh empat dengan Sunarti Suwandi. Romantisme dan gelora cinta keduanya diwujudkan Rendra dalam puisi-puisi yang kemudian terbit dalam sebentuk buku Empat Kumpulan Sajak.

Puluhan tahun berikutnya, Rendra menjadi mualaf dan keputusannya itu mendapat tudingan keras dari pihak luar terutama sebab ia menikahi salah seorang murid di Bengkel Teater, Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat. Ia dituding mengislamkan dirinya untuk urusan poligami. Ihwal ini, Rendra menyangkal, bahwasanya agama islam seiya dengan “mahzab” kebebasan menjalani hidup yang dianutnya. Bahwa islam mempertemukan dirinya secara langsung dengan Tuhan tanpa butuh perantara orang lain.

Yang menarik dari kisah cinta dan rumah tangga Rendra ialah di mana ketiga perempuan yang dinikahinya pernah begitu akur di bawah kepemimpinannya. Meski pada akhirnya hanya Ken Zuraida, istri ketiga Rendra yang sanggup bertahan membersamai hidup Rendra sampai napas penghabisannya. Mengutip Obituari Cak Nun dalam edisi khusus Gatra tertanggal 13 Agustus 2009 lalu, Ken Zuraida mengaku “sangat bahagia”, meskipun pasti bagi setiap yang terlibat kematian selalu ada semacam ”derita manusiawi” yang membungkusnya. Rendra meninggal pada malam jumat di bawah cahaya bulan purnama. Tsah!

 


Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
2
Suka
Rizka Nur Laily Muallifa
Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018).