31.7 C
Jakarta

Relevansi Pandangan Mohammed Arkoun tentang Tantangan Umat dalam Menjawab Modernisme

Artikel Trending

KhazanahOpiniRelevansi Pandangan Mohammed Arkoun tentang Tantangan Umat dalam Menjawab Modernisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Mohammed Arkoun adalah salah seorang pemikir Islam internasional kontemporer berasal dari Aljazair yang pemikiran-pemikirannya mampu memberikan terobosan baru dalam kajian Islam yang sudah sejak lama cenderung masih bersifat stagnan dan jumud. Dalam kajian Islam kontemporer, Arkoun menekankan nalar Islam dalam ranah rekonstruksi pemahaman teks terhadap al-Qur’an secara menyeluruh.

Arkoun menilai, bahwa problem kesalapahaman dalam proses interpretasi al-Qur’an diakari oleh watak kemodernan. Lebih lanjut, Arkoun memahami al-Qur’an sebagai sebuah proyek dan paradigma kemodernan yang masih perlu ditafsir ulang.

Menurut Arkoun, berbagai tantangan kemoderenan harus dihadapi oleh umat Islam, terutama yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan rasionalisme, negara-bangsa dan nasionalisme, serta sekularisme. Salah satu tantangan kemodernan yang hendak dibahas dalam tulisan ini berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan rasionalisme. Sikap Arkoun terhadap kemodernan, menurut pemahaman tertentu menjadi salah satu ciri utama dari pemikiran Arkoun.

Kendati demikian, Arkoun tidak mendefinisikan kemodernan sebagai “apa yang ada pada masa kini”, sebab menurutnya, kemodernan itu tidak dapat dipastikan kapan dan dimana akan terjadi, oleh karena itu, Arkoun tidak memberikan batasan terhadap kemodernan, namun ia cenderung membatasinya dengan masa.

Menurut Arkoun, apa yang disebut kemodernan sekarang tidak terlepas dari kemajuan yang pernah ada di masa lalu. Artinya, antara kemodernan dan kemajuan di masa lalu memiliki kesinambungan, yaitu pada masa Kuno (Yunani-Romawi) dan masa Abad Pertengahan yang bertepatan dengan masa kejayaan keemasan Islam.

Oleh karenanya, tidak mustahil apabila kemodernan itu bisa saja terjadi di tengah-tengah umat manusia manapun, termasuk umat Islam, di masa yang akan datang, meskipun tentu saja tidak dari titik nol.

Namun, bagi umat Muslim, yang sedikit banyak berhubungan dengan historis Barat yang melahirkan kemodernan itu, proses modernisasi mengandung kesulitan psikologis bagi umat Muslim, yang disebabkan adanya rasa permusuhan dan persaingan yang berkepanjangan antara keduanya. Hal ini kemudian menimbulkan apa yang disebut dengan kesulitan psikologis bagi umat Muslim yaitu perasaan sebagai pihak yang kalah dan seolah-olah menyerah pada bekas saingannya.

Berdasarkan hal di atas, mungkin salah satu tantangan awal umat Muslim dalam upaya modernisasi adalah membebaskan diri dari keadaan psikologis masa lalu yang serba traumatis, menggantinya dengan melihat kemodernan seperti apa adanya, tanpa ada kesalahpahaman dan pertentangan.

Arkoun menjelaskan bahwa kemodernan, baik Islam maupun Barat-Kristen, memiliki dua kutub yang saling berkaitan yaitu kutub lama (kuno,tradisional,klasik) dan kutub masa depan (inovasi, orientasi masa depan, keputusan dengan cakrawala yang jauh). Oleh karena itu, tidak dapat dinafikan bahwa perubahan-perubahan yang menghasilkan kemodernan merupakan perpaduan antara potensi masa lalu dengan masa depan.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan memungkinan adanya berbagai problema dan tantangan kemodernan yang semakin berat dihadapi oleh umat Muslim, mengingat sudah terlalu banyak hal yang tidak terpikirkan dari berbagai kemajuan Barat dalam pemikiran Islam.

Kenyataan bahwa pemikiran Islam tidak memiliki sistem, sumber daya, dan kekuatan intelektual yang bertumpuk di Barat, memicu lahirnya tindak kekerasan yang kemudian menjadi wacana gerakan Islam kontemporer. Hal ini menjadi faktor yang menimbulkan berbagai persoalan yang sulit diatasi di kalangan umat Islam.

Oleh karena itu, untuk menghadapi berbagai persoalan modernitas, menurut Arkoun penting bagi umat Islam untuk menguasai berbagai ilmu pengetahuan, baik ilmu yang berasal dari ajaran Islam itu sendiri maupun dari luar Islam.

Lanjut Arkoun, penguasaan terhadap ilmu Barat bukanlah suatu ancaman bagi pemikiran dan umat Islam, melainkan sebagai dorongan atau pun bantuan yang sangat besar bagi umat Muslim untuk melepaskan diri dari pemikiran Islam yang sejak lama mengalami kejumudan dan kebekuan.

BACA JUGA  Membangun Toleransi dan Meruntuhkan Radikalisme Masyarakat Modern

Bagi Arkoun, penerimaan ilmu Barat bukannya tanpa kritik, sebab tidak semua ilmu pengetahuan Barat baik bagi umat Islam. Kendati demikian, harus diakui bahwa dunia Barat itu bergerak dan terus mengalami perubahan, sementara dunia Islam itu stagnasi, dalam artian tidak mengalami perkembangan dan hanya mengulang-ulang sikap nalar religius skolastik yang tertutup sebagaimana halnya pada Abad Pertengahan.

Persoalan Islam yang berkembang dewasa ini lebih kompleks mengingat banyaknya aspek baru yang muncul sehingga interpretasi dan rekonstruksi pemikiran kontemporer perlu dilakukan. Dalam menginterpretasi dan merekonstruksi pemikiran kontemporer diperlukan ilmu bantu lain.

Arkoun menawarkan beberapa ilmu pengetahuan yang menurutnya penting bagi umat Islam, yaitu: linguistik dan semiotika, sejarah, sosiologi, antropologi, dan filsafat. Dalam konteks ini, perlu dijelaskan bahwa, ketika berbicara tentang Islam, Arkoun melibatkan analisa filsafat, sosiologi dan antropologi secara mendalam, sehingga Islam tidak saja didekati secara normatif tetapi juga wajah Islam sebagai produk sejarah dan realitas sosial.

Lebih lanjut Arkoun beranggapan bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak dikuasai oleh para teolog maupun fuqaha, sehingga penafsiran al-Qur’an yang diharapkan dapat relevan dengan perkembangan zaman kurang dapat direalisasikan.

Oleh karena itu, penguasaan ilmu-ilmu di atas, sangat penting dan diperlukan dalam menganalisis suatu kebenaran transenden, terutama kebenaran yang teraktualisasi dalam kehidupan konkret melalui karya-karya manusia seperti mufasir, teolog dan fuqaha.

Arkoun juga menyatakan bahwa kritik dapat dilakukan terhadap Kitab Suci itu sendiri, namun dalam hal ini bukan untuk menyingkirkan atau pun membuangnya, melainkan untuk memperjelas syarat-syarat ilmiah dalam membacanya secara benar.

Sebagai penegasan dari ketidakmampuan para teolog maupun fuqaha di atas, berikut akan dijelaskan salah satu contoh dari sejumlah karya yang turut menyusun dan sekaligus membekukan wacana Islam “Klasik”, yaitu karya seorang filsuf Abu Hasan al-‘Amiri (w. 992) al-I’lam bi Manaqib al-Islam, Uraian Sifat-Sifat Unggul Islam.

Karya di atas merupakan salah satu karya yang dihasilkan pada Abad ke-empat yang pada saat itu tengah digencarkan dengan pengaruh Hellenisme yang menyuburkan pemikiran spekulatif di tengah-tengah umat Islam pada saat itu dengan didirikannya Bait al-Hikmah, Rumah Kebijakan.

Oleh karena itu, menurut Arkoun, pemikiran yang dihasilkan pada Abad ke-empat seringkali dikungkung oleh logosentrisme yang cenderung membeda-bedakan, sistematisasi, dan pengelompokan. Hal ini memicu, lahirnya pemikiran yang bersikap apologetis, kaku, dan mengabaikan matra historis setiap karya.

Bagi Arkoun, karya filsuf Abu Hasan al-‘Amiri bukanlah karangan cendekiawan yang berdiri sendiri, melainkan lahir dari kebudayaan dan cara pemikiran tertentu yang pada gilirannya memperkuatnya. Karena itu, Arkoun meneliti karya tersebut sebagai salah satu contoh karya yang turut menyusun dan sekaligus membekukan wacana Islam klasik.

Membaca karya al-‘Amiri, menurut Arkoun akan dapat diketahui bahwa wacana filsafat pada abad keempat Hijriah memang memiliki kegunaan praktis, namun secara teoretis masih banyak kekurangan, di antaranya sepenuhnya menerima tradisi logosentrisme. Yang dalam hal ini, nalar diterima hanya sebatas pelayan bagi kredo (paham/kepercayaan).

Berdasarkan hal di atas, dapat dipahami bahwa nalar memiliki semacam otonomi, bahkan dalam masalah agama. Dengan demikian, perpaduan antara unsur yang sangat mulia dari pemikiran Islam dengan unsur yang paling baik dari pemikiran Barat modern adalah hal yang dikehendaki Arkoun dalam pemikirannya.

Bagi Arkoun, salah satu usaha yang akan memperkaya peradaban adalah dengan melakukan penggabungan antara warisan lama dengan karya-karya kontemporer.

Annisa
Annisa
Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru