25.7 C
Jakarta

Rektor Teriak Tumpas Radikalisme di Kampus, Tapi Kok Korupsi?

Artikel Trending

Milenial IslamRektor Teriak Tumpas Radikalisme di Kampus, Tapi Kok Korupsi?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Professor Karomani, Rektor Universitas Lampung (Unila) terkena operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Karena menjual “kursi masuk” mahasiswa jalur mandiri seharga Rp 100-350 juta per calon mahasiswa. Karomani ini dikenal sebagai rektor yang paling gigih dalam membela program-program Presiden Jokowi selama ini. Ia juga dikenal sebagai rektor yang paling vokal dalam meneriakkan radikalisme di kampus.

Karomani ini berambisi selalu ingin menjadi orang nomor satu di berbagai dan di antara rektor Indonesia. Ini terlihat ketika ia terpilih menjabat ketua forum rektor di Indonesia. Di tiap-tiap pembicaraannya, ia selalu berteriak kencang mengenai radikalisme dan terorisme. Tapi semua itu tertolak dengan sendirinya, ketika ia malah menjadi manusia yang berbahaya dan mengancam dalam maruah serta disintegrasi bangsa dan negara. Ia menyalahkan fungsi akademisnya untuk meraup untung dengan tindakan menjijikkan: korupsi!

Tantangan Kampus: Radikalisme, Pelecehan, dan Korupsi

Bahwa perguruan tinggi menjadi sasaran empuk kaum radikal dalam mengadakan perekrutan dan regenerasi radikalisme, adalah nyata adanya. Dan oleh sebab itu, perlu diantisipasi dengan cara-cara strategis untuk menghalau penyebaran virus radikalisme di kampus. Utamanya di sel-sel seperti lembaga dakwah kampus, dan organisasi mahasiswa intra/ekstra kampus.

Namun, dengan perilaku menjijikkan Rektor Unila ini, kampus juga telah menjadi sasaran empuk praktik pristitusi korupsi. Dengan itu, kampus ternyata tidak terhindar dari virus-virus amoral (korupsi) yang mencederai maruah kampus, jika maruah itu masih ada.

Bahwa banyak orang menyebut perguruan tinggi sebagai tempat lahirnya para intelektual tangguh dan ampuh. Namun apa boleh buat, jika yang lahir hanya manusia-manusia seperti rektor Unila ini. Kampus tidak lagi menjadi lahirnya orang-orang intelektual yang bisa mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun bisa jadi, kampus hanya menjadi tempat brojolnya manusia-manusia yang membodohi bangsa. Atas realita itu, kita tidak terima, tapi itu faktanya.

Kampus Kekurangan Akademisi Jujur

Kita tidak lagi membutuhkan manusia-manusia yang bertampang-tampang sopan, kelihatan cerdas, unggah ungguh, kelihatan takwa, sering pakai pakaian putih yang melambangkan kesucian. Atau berpeci lambang religiositas. Ini terlalu banyak di sekitar kita dan secara keseluruhan terlalu upnormal di masyarakat Indonesia. Tapi yang kita butuhkan adalah manusia yang jujur, tegas, dan bertanggung jawab atas kedudukannya.

Kendati itu, kita kemudian melihat realitas yang mengkhatirkan. Sekaligus mengecewakan. Tantangan kampus hari ini bukan hanya lagi, harus menepis dari ajaran-paham radikalisme yang sengaja dipasokkan oleh beberapa dosen dan aktivis kampus. Numun, tantangan kampus hari ini bertambah, bahwa kampus harus juga steril dengan manusia-manusia kotor tapi meyakinkan dalam berbicara. Contohnya rektor Unila ini. Selain itu, kampus, juga harus terhindar dari predator seksual, yang kadang-kadang dilakukan oleh orang yang memiliki banyak peran strategis di dalam kampus. Orang-orang ini biasanya terlihat bertakwa, jari-jarinya bergetar dengan tasbih elektroniknya, mulutnya sering mengucapkan bahasa agamis.

BACA JUGA  Membendung Arus Politik Kebencian yang Diusung Kaum Radikal

Inilah ironi sekaligus problem akademisi kampus Indonesia. Semua itu adalah sikap amoral, yang mencoreng nama baik kampus Indonesia. Tapi apakah kasus korupsi, hanya terjadi di kampus Unila? Biarlah Doraemon yang menjawab. Kasak-kusuk Rektor, Wakil Rektor I, Senat, salalu menjadi perbincangan yang tidak sedap selama ini. Karena di sana, selalu menjadi lahan basah untuk melakukan kecurangan tiap tahunnya. Seperti dugaan suap oleh penyelenggara negara atau yang mewakilinya terkait penerimaan calon mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila) tahun 2022.

Sampai di sini, mari kita bertanya, apakah kampus tidak lagi menjadi tempat aman dan nyaman untuk belajar? Ataukah mentalitas akademik kita telah terpuruk dengan adanya tekanan kerja? Atau kita harus revolusi akhlak ala Habib Rizieq, kalau konsep Merdeka Belajar ala Nadim, dan Revolusi Mental ala Jokowi, mental akademisi dan bangsa Indonesia tidak berubah dan berbuah apa-apa? Mari kita selidiki bersama.

Basa-Basi Radikalisme?

Yang harus diingat hari ini, kampus kita makin bertambah daftar masalah dan tantangannya. Minimal tantangan kampus hari ini: adanya akademisi korup, akademisi cabul, dan akademisi radikal dan akademisi bantal, yang selalu ngorok di ranjang empuknya, di ditiap asap kepulan rokoknya. Dan semua ini, mereka dibiayai negara, di mana biaya itu lahir dari keringat mendidih ibu bapak mahasiswanya. Jika kampus dan akademisi masih mangkrak di arena tantangan di atas, itu merupakan simbolis bahwa akademik kita sudah hancur. Dan dilanjutkan dengan hancurnya moralitas bangsa kita.

Kita mudah melihat di mana-mana, bahwa semua orang akan teriak pentingnya literasi dan bahaya radikalisme. Tapi itu hanyalah basa-basi. Kenapa basa-basi, karena semua dilakukan hanya berdasarkan upah. Kalau radikalisme sudah tampak di depan matanya (di kampusnya), toh mereka tidak mengupayakan apa-apa, selain mendiamkannya. Kalau pelecehan seksual marak di dalam kampusnya, toh mereka mengkeret urat nadinya. Adakah yang lebih absurd dari semua ini?

Kesuksesan sebuah bangsa sering diukur oleh susksesnya universitas atau nama baik kampus. Suksesnya universitas diukur oleh akademisi (rektor) di dalamnya. Tapi jika akademisi hanya basa-basi berteriak radikalisme, serta tiap harinya melakukan pelecehan seksual, dan perilaku korupsi, apakah itu yang disebut kesuksesan?

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru