25.7 C
Jakarta
Array

REKONSILIASI: Tuntunan Teologi dan Tuntutan Deradikalisasi

Artikel Trending

REKONSILIASI: Tuntunan Teologi dan Tuntutan Deradikalisasi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Pendekatan baru dalam upaya deradikalisasi dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Upaya tersebut adalah saling memaafkan atau rekonsiliasi antara mantan narapidana terorisme dengan korban terorisme. Sebanyak 124 eks napi terorisme dengan 51 penyintas atau korban hidup aksi terorisme berkumpul di Hotel Borobudur Jakarta pada 26-28 Februari 2018 yang lalu.

Apresiasi patut diberikan kepada BNPT atas inisiasi pendekatan baru ini. Hal ini sekaligus membuktikan janji Menkopolhukam Wiranto yang menyatakan bahwa penanggulangan terorisme dan radikalisme akan dilakukan secara manusiawi. Rekonsilisasi dapat menjadi inovasi deradikalisasi dan penting menjadi inspirasi bagi upaya-upaya manusiawi lainnya.

Tuntunan Teologi  

Rekonsilisasi merupakan pengejawantahan budaya saling memaafkan atau permaafan. Teologi Islam sangat menganjurkan pelaksanaan budaya tersebut. Sikap mudah memaafkan bukan berarti mengurangi ketegasan dan penegakan hukum. Namun rekonsiliasi merupakan jalan memutus budaya saling dendam yang berkepanjangan dan menjadi warisan yang rantainya sulit diprediksi hingga kapan.

Pondasi teologi memaafkan banyak dijumpai dalam teks Al-Quran maupun Hadits. Antara lain firman Allah SWT, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”  (QS. Al-A’raf : 199). Selanjutnya juga pada firman, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah : 263). Ada lagi, “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”  (QS. Asy-Syura : 43). Ayat lain dapat dijumpai misalnya pada QS. Al-Imran: 133-134, QS. An-Nisa : 149, QS. An-Naml : 46, QS. Hud : 3,  dan lainnya.

Hadits pun banyak menyebutkan dalil memaafkan melalui Sabda Nabi SAW. Ada cerita yang masyhur terkait keutamaan saling memaafkan melalui hadits yang diriwayatkan Abu ya’la Al Maushili. Anas ra berkata : “Pada saat itu Rasulullah SAW sedang  duduk bersama kami, tiba-tiba Beliau tersenyum hingga terlihat gigi serinya, kemudian sahabat Umar bertanya : ”Apakah yang menyebabkan  engkau tertawa  Ya Rasulullah ?”

Beliau menjawab: ”Ada dua orang  berlutut  di hadapan Allah SWT. Lalu yang satu berkata: ”Aku menuntut hakku yang dianiaya oleh saudaraku itu.” Maka Allah menyuruh orang yang menganiaya :”Kembalikan haknya”. Orang itu menjawab: ”Tiada sesuatupun kebaikanku dariku ini”.

Maka berkatalah orang yang menuntut itu: ”Suruhlah ia menanggung dosaku”. Kemudian Rasulullah SAW menangis dan bersabda: ” Sesungguhnya hari itu sangatlah mengerikan (hari akhirat), hari dimana semua orang menginginkan orang lain menanggung dosa-dosanya.

Lalu Allah SWT berfirman kepada yang menuntut tadi: “Lihatlah keatas kepalamu, perhatikanlah surga-surga itu. Maka ia mengangkat kepalanya lalu berkata: “Ya Tuhan, aku melihat gedung-gedung dari emas yang bertaburkan mutiara, untuk Nabi yang manakah?”

Allah menjawab: ”Itu  untuk siapa saja yang membayar harganya.” Ia bertanya: “Siapakah  yang dapat membayar harganya itu?” Allah menjawab: ” Engkau mempunyai harganya.” Ia berkata: “Apakah itu Ya Tuhan?” Allah menjawab: ” Memaafkan kawanmu itu.”  Lansung ia berkata: “Aku memaafkan dia “

Maka Allah berfirman: ”Peganglah tangan kawanmu itu dan masuklah  kalian berdua ke surga “. Kemudian Rasulullah SAW membaca “Fattaqullaaha wa ashlihuu dzaata bainikum , sebab Allah memperbaiki atau mendamaikan antara  kaum mukminin dihari akhirat “.

Tuntutan Deradikalisasi  

Deradikalisasi penting diupayakan secara tegas namun manusiawi. Rekonsiliasi dapat menjadi pintu awal bagi implementasi upaya tersebut oleh BNPT. SOP penangkapan terdakwa teroris mestinya dievaluasi agar tidak memprioritaskan kematian melalui tembak di tempat. Penangkapan hidup penting menjadi prioritas. Selain guna menjunjung HAM, menerapkan asas praduga tidak bersalah, juga dapat membuka penanganan kasus menjadi lebar dan meluas.

Publik dapat belajar dari kejadian fenomenal rekonsilisasi ini. Jika korban saja memaafkan, maka  publik penting mengerem sikapnya. Yaitu jangan mudah memberikan stigma radikal kepada kelompok tertentu, apalagi hanya karena bukti-bukti fisik. Pelaku terorisme dan radikalisme sangat mungkin hanyalah oknum yang kurang paham atau salah tafsir terhadap suatu pemahaman di kelompoknya. Atau jika memang ada indikasi seluruh kelompok bertujuan membuat atau merencanakan terorisme dan radikalisme butuh bukti dan tidak melebar kepada kelompok lain. Ciri fisik kemanusiaan atau sekadar bahan bacaan tidak dapat dijadikan dasar homogenisasi.

Keluarga pelaku terorisme juga tidak adil jika turut menanggung kesalahan. Sanksi sosial tidak semestinya diterima. Keluarga pelaku bahkan dapat menjadi mitra BNPT guna melacak pelaku atau jaringan lain.

Sebaliknya korban terorisme juga mesti mendapatkan perhatian. Trauma psikologis penting diupayakan penyembuhannya. Termasuk recovery ekonomi penting diperhatikan pemerintah. Budaya balas dendam juga penting dicegah. Hal ini guna tidak menambah panjang mata rantai terorisme dan radikalisme.

Upaya rekonsilisasi mesti berkelanjutan. Iktikad baik ini dapat ditangkap positif bagi calon pelaku terorisme dan radikalisme. Sehingga dapat mencegah kasus yang lain. Iktikad lain perlu disinergiskan lintas pihak khususnya instansi pemerintah. Intinya adalah bagaimana pemerintah membuktikan pelaksanaan keadilan dan memprioritaskan upaya kemanusiaan.

Jalan rekonsilisasi dan upaya manusiawi lainnya dapat menjadikan Indonesia sebagai teladan dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme. Penyebarluasan ke level global penting dilakukan pemerintah atau BNPT.

Mengenal Harakatuna

Berita sebelumyaNabi Memaafkan Musuhnya
Berita berikutnyaKhilaf Khilafah ISIS

Artikel Terkait

Artikel Terbaru