27.6 C
Jakarta

Refleksi Maulid Nabi: Abaikan Salafi-Wahabi yang Suka Membid’ahkan dan Mengafirkan

Artikel Trending

Milenial IslamRefleksi Maulid Nabi: Abaikan Salafi-Wahabi yang Suka Membid’ahkan dan Mengafirkan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Mencela itu hukumnya haram. Tapi jika celaan itu untuk Wahabi, mungkin hukumnya adalah wajib. Demikian karena hanya dengan mencela dan menelanjangi keburukan mereka, umat akan sadar akan tipuan-tipuannya. Wahabi tidak bisa dilayani secara santun, tidak ada gunanya. Di Indonesia, lebih-lebih, Salafi-Wahabi yang ahli mengafirkan ini sudah jadi agen Islam yang paling banyak digandrungi terutama Muslim urban. Kalau tidak hati-hati, ini sangat bahaya.

Salafi-Wahabi menjadi topik Editorial Harakatuna, edisi Kamis (14/10) kemarin. Pasalnya, mereka menebar fitnah yang padahal, jika memang pecinta sunnah, mereka tidak akan melakukannya. Pada poster yang lain, dengan bangga dan merasa paling saleh sendiri, merasa jadi pemilik kunci surga, mereka bahkan mengolok-olok Maulid Nabi sebagai sesuatu yang haram. Jika pengetahuan tentang agama seseorang dangkal, dijamin akan masuk perangkap mereka.

Di sini, saya mengajak, mari kita melakukan refleksi tentang Maulid Nabi, sekaligus refleksi betapa Salafi-Wahabi sangat ingin menghancurkan Islam dari dalam. Untuk memahami apa itu maulid, kita tidak perlu terlalu jauh membayangkan bahwa isi perayaannya bercampur-baur dengan lawan jenis. Tidak perlu juga membayangkan bahwa maulid berisi syair-syair syirik, karena itu berlebihan. Sederhana saja, Maulid Nabi adalah ‘walimah atas kelahiran’.

Tetapi yang lahir adalah Muhammad bin Abdullah, kekasih Allah, Rasul terakhir untuk umat manusia. Karena itu, walimahnya pun harus berbeda. Namun tetap, konsepnya sama dengan walimah aqiqah misalnya. Sekarang jika Salafi-Wahabi mau melakukan walimah aqiqah untuk kelahiran anak-anak mereka, yang itu mereka landaskan dari hadis, padahal walimah aqiqah itu sendiri merupakan wujud syukur kebahagiaan atas lahirnya anak, mengapa kepada Nabi sendiri mereka sekejam itu?

Selain itu, Maulid Nabi bukan paksaan. Umat Islam tidak dituntut melakukan. Ia tidak diperintahkan oleh syariat, tetapi sekaligus tidak dilarangnya. Asas menggelar perayaan Maulid Nabi bukan ‘taat’, melainkan ‘manfaat’. Sejauh itu bisa menambahkan kecintaan kepada Rasulullah, berusaha bahagia atas kelahiran mereka ke dunia, mengapa Salafi-Wahabi masih hobi untuk selalu mengafirkan pelakunya? Tidak masuk akal, kecuali jika mereka bermaksud menebar perpecahan.

Puritanisme yang Memecah

Fenomena maraknya Salafi-Wahabi di Indonesia adalah kemudaratan yang perlu segera dibenahi hingga tuntas. Masyarakat Indonesia, yang beragama Islam, yang sejak dahulu dididik untuk berpandangan terbuka dan inklusif, sedang diseret untuk memiliki pandangan yang tertutup dan eksklusif. Rasanya tidak ada kebenaran di dunia, bagi mereka, kecuali kebenaran Salafi-Wahabi itu sendiri. Tanpa disadari, bahwa merekalah yang keliru.

Pertama, keliru memahami Maulid Nabi. Acara maulid bukan acara yang aneh, tidak perlu dicurigai sebagai kegiatan yang menjerumuskan seseorang pada kesyirikan. Membaca syair kepada Nabi itu, seberapa pun tingginya pujian, tidak akan membuat syirik, karena setiap pujian selalu didahului dengan doa kepada Allah. Surah Ali Imran [3]: 31 melukiskan, untuk mendapat ridha Allah, kita tidak bisa melompat. Caranya adalah mencintai Rasulullah, dan Allah akan mencintai kita. Insyaallah.

Kedua, keliru memahami kebenaran. Kebenaran bagi Salafi-Wahabi, yang kemudian menyebabkan mereka hobi mengafirkan sesama, adalah klaim kebenaran tunggal dan mutlak. Mereka mengampanyekan kemurnian Islam, dan tidak segan mengafirkan siapapun yang tidak sepaham. Mereka tidak suka partai, tidak suka khilafah, sehingga HTI dan PKS juga salah bagi Salafi. Pokoknya semua orang Indonesia salah, kafir semua. Hanya mereka yang paling Islam, bagi mereka.

BACA JUGA  Polemik Jl. Kemal Ataturk: Tengkar Wacana Islamisme vs Sekularisme vs Khilafahisme

Ketiga, keliru memaknai kekafiran. Debat soal term kafir adalah debat kuno, yang kemudian melahirkan teologi Khawarij lalu Syiah. Jika Syiah membenci Muawiyah cs karena merebut hak Sayyidina Ali, Khawarij justru membenci Ali dan Muawiyah karena dianggap berpolitik yang tidak sesuai Islam. Salafi-Wahabi inilah anak cucu Khawarij.

Maka tidak heran, mereka sangat benci ahlul bait, para habaib, juga benci seluruh umat Islam yang mereka tuduh sebagai ahlul bid’ah. Ahlul bait dianggap kafir karena dituduh menyembah kubur—ujung dari kebencian mereka terhadap tasawuf, tahlil, dan sebagainya. Sementara ahlul bid’ah dianggap sesat karena mengamalkan sesuatu yang tak dicontohkan Nabi. Masalahnya adalah, kalau memang mereka konsekuen dengan sunnah Nabi, kenapa mereka mengharamkan maulid?

Maulid Nabi bukan adat yang ruwet, seruwet yang Salafi-Wahabi tuduhkan. Sebagai local wisdom, perayaan Maulid Nabi sama sekali tidak mengandung kemudaratan. Justru yang berbahaya adalah Salafi-Wahabi sendiri yang selalu mengafirkan sesama. Keberislaman mereka yang julid sama sekali tidak cocok dengan Islam Indonesia.

Islam Indonesia

Saya pikir, kita harus banyak bersyukur karena jadi Muslim di negara yang unik, Indonesia. Di sini, seluruh tradisi, selama tidak mencederai integritas (muhill li al-muru’ah) Islam, tidak jadi masalah. Selalu ada penetrasi Islam dengan budaya. Agama bukan legitimasi kalangan tertentu, sehingga membenarkan diri sendiri dan menyalahkan yang lainnya. Islam di Indonesia beda jauh dengan Arab Saudi, sarang Salafi-Wahabi, yang menjadikan agama sebagai komoditas politik.

Salafi-Wahabi punya doktrin “menentang pemberontakan, mengharuskan ketundukan kepada pemimpin”. Itu tidak lain karena mereka berasal dari Arab Saudi, yang negara menjadikan agama untuk melanggengkan rezim Ibnu Saud—orang Badui yang sekarang jadi raja. Tetapi, di Indonesia, doktrin tersebut tidak berguna. Mereka mau tunduk selama pemimpinnya Muslim yang baik. Sementara, seluruh Muslim Indonesia dituduh buruk, bukannya itu sama dengan ngibul?

Dalam urusan apa pun, Salafi-Wahabi tidak boleh jadi panutan. Dalam hal pemahaman agama, mereka sangat tertutup dan egois akan kebenaran. Dalam hal politik, mereka oportunis dan inkonsisten. Dalam hal tradisi, mereka menolak sebagai sesuatu yang bid’ah, sesat dan kafir. Maulid Nabi masuk ke bagian terakhir ini, yang dituduh sebagai bukan tradisi Islam. Tidak perlu didengarkan. Abaikan saja.

Ibratanya, Salafi-Wahabi adalah anjing-anjing kotor yang menggonggong. Kita, orang Islam di Indonesia, harus menjadi kafilah yang tidak mempedulikan gonggongan hewan yang najis. Perayaan Maulid Nabi harus tetap lestasi. Yang namanya Salafi-Wahabi, wataknya memang suka mengafirkan. Kata Ramadhan al-Buthi, “Bahkan seandainya mereka mampu menghancurkan Masjid Nabawi dan kuburan Rasulullah, mereka pasti akan melakukannya”.

Saya berlindung dari tipu-daya Salafi-Wahabi. Semoga di bulan Rabi’ul Awal ini, kita semua dapat menambah kecintaan kepada Rasulullah. Menggelar acara Maulid Nabi atau tidak, sama sekali bukan masalah. Yang terpenting, jangan sampai meniru Salafi-Wahabi yang otak dan hatinya hanya berisi tentang bid’ah dan tradisi mengafirkan sesama Muslim. Semoga kita semua diselamatkan dari fitnah Dajjal ini.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru